Diksi ‘Goblok’ yang Diucap Prabowo Dinilai Bikin Publik Lupa Substansi Pidato

Peristiwa

Indonesia Menyapa, Jakarta — Pakar komunikasi politik Emrus Sihombing menyoroti polemik yang muncul setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam perayaan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Jumat (18/9/2026).

Dalam pidatonya, Prabowo menyinggung para pakar yang selama ini kerap memberikan kritik terhadap kebijakan pemerintah.

Diksi “goblok” yang digunakan Prabowo kemudian menjadi perdebatan di ruang publik karena dinilai kurang pantas ketika disampaikan dalam forum tersebut.

Emrus menilai penggunaan diksi yang konfrontatif dalam pidato seorang presiden justru berisiko mengaburkan substansi kritik atau pesan yang hendak disampaikan.

Menurutnya, perhatian publik akhirnya lebih banyak tertuju pada pilihan kata tersebut dibandingkan keseluruhan materi pidato Prabowo.

“Justru yang terakhir yang lebih tepat. Jadi menghilangkan substansi. Kenapa? Karena orang fokus kepada diksi itu. Jadi salah pilih diksi bisa menghilangkan substansi,” kata Emrus kepada Tribunnews dalam program Overview Tribunnews, yang disiarkan dari studio Tribun Solo, Karanganyar, Jawa Tengah, Rabu (23/9/2026).

Ia mencontohkan perbincangan di media sosial yang menurutnya menunjukkan bagaimana pilihan diksi tersebut kemudian menjadi pusat perhatian publik.

“Coba lihat di sosial media sekarang yang sangat ramai tentang hal itu. Bukan substansi pidatonya atau materi pesan secara keseluruhan yang menjadi perbincangan,” ujarnya.

Emrus mengatakan kritik terhadap pemerintah sebenarnya dapat menjadi bagian dari substansi yang dibahas dalam pidato.

Namun, ketika pilihan kata tertentu lebih menonjol, pembicaraan publik dapat bergeser dari substansi tersebut.

“Misalnya katakanlah dikritik, diterima dan lain-lain juga tetapi fokus kepada diksi tersebut. Jadi substansi menjadi hilang,” katanya.

Ia juga menyoroti respons sebagian hadirin ketika Prabowo menyampaikan pernyataan tersebut.

Menurut Emrus, tepuk tangan dan tawa dari hadirin juga dapat mempengaruhi bagaimana pesan pidato diterima oleh khalayak.

“Dan kemudian coba kita lihat hadirin para tamu yang hadir di sana ada dukungan dengan bentuk tepuk tangan dan tertawa. Bukankah itu bisa menghilangkan substansi di dalam peta kognisi pada khalayak,” tutur Emrus.

Lebih lanjut, Emrus menjelaskan bahwa dalam komunikasi, pemilihan diksi memang dapat digunakan untuk membangun suasana tertentu.

Namun, pilihan kata tersebut semestinya tetap mendukung pesan utama yang hendak disampaikan.

“Oleh karena itulah dalam suatu narasi bisa kita mengemukakan suatu diksi tertentu yang bisa mengaburkan makna keseluruhan atau memang katakanlah jadi atau menggunakan diksi yang support daripada substansi yang kita sampaikan tersebut,” katanya.

Meski demikian, Emrus tidak menutup kemungkinan penggunaan diksi yang mengundang tawa dalam sebuah pidato.

Menurutnya, hal tersebut dapat menjadi bagian dari seni berkomunikasi, terutama ketika pembicara ingin mengurangi kejenuhan audiens.

“Kalau misalnya itu adalah menghilangkan kejenuhan dalam suatu retoris atau pidato, bisa saja pilihan diksi. Tapi pilihan diksi yang related dengan itu, tetapi membuat orang tertawa. Itu soal adalah seni berkomunikasi. Karena komunikasi itu juga seni,” katanya.

 

Sumber: Diksi ‘Goblok’ yang Diucap Prabowo Dinilai Bikin Publik Lupa Substansi Pidato

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *