Indonesia Menyapa, Jakarta — Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada 4-6 September 2026 berdampak terhadap aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah.
Kebutuhan masyarakat terhadap masker meningkat setelah abu vulkanik terbawa angin dan menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung hingga Bengkulu.
Di Bandar Lampung, masker mulai sulit ditemukan di sejumlah tempat.
Masker medis di apotek di Kecamatan Sukarame, Bandar Lampung, telah habis sejak Minggu (6/9/2026) pagi.
Karyawan apotek, Yoga Adi (25), mengatakan sejak Sabtu (5/9/2026) malam cukup banyak warga yang datang dan menanyakan ketersediaan masker.
Sebelum tutup pada Sabtu malam, apotek tersebut masih memiliki sekitar 25 kotak masker.
“Semalam itu stoknya ada 25, setiap kotak berisi 50 masker. Dari semalam pas berita abu vulkanik mulai ramai memang ada saja yang datang,” ujarnya, Minggu, dilansir TribunLampung.co.id.
Saat apotek kembali buka pada Minggu pagi, seluruh masker langsung terjual hingga stok akhirnya habis.
“Memang banyak yang datang cari masker sejak buka tadi pagi. Karena sudah habis, akhirnya kami kasih tulisan ‘habis’ di pintu supaya yang datang bisa langsung tahu,” jelasnya.
Selain masker, Yoga menyebut sejumlah warga juga datang mencari produk kesehatan lain, seperti vitamin serta obat batuk dan pilek.
Meski begitu, ia mengakui belum terdapat peningkatan permintaan khusus terhadap obat untuk ISPA.
“Kalau obat ISPA sejauh ini belum, tapi memang yang banyak ditanyakan masker. Ada juga yang cari vitamin, obat batuk dan pilek,” tambahnya.
Apotek di Jaksel Kewalahan Layani Pembeli
Penjualan masker medis dilaporkan melonjak hingga lebih dari dua kali lipat di Jakarta Selatan (Jaksel), Minggu.
Seorang petugas apotek di Tanjung Barat, Jakarta Selatan, bernama Mila mengaku kewalahan dalam melayani masyarakat yang hendak membeli masker medis.
Ia mengungkapkan pembelian terhadap produk masker medis melonjak tajam jika dibandingkan hari sebelumnya.
“Parah mas membludak banget, banyak (yang cari), kayanya (meningkat) 100 persen lebih,” kata Mila kepada Tribunnews.com, Minggu.
![ERUPSI GUNUNG ANAK KRAKATAU - Penjualan masker medis di apotek hingga minimarket di Jakarta Selatan melonjak signifikan pada hari ini, Minggu (6/9/2026). Melonjaknya pembelian masker medis itu diduga didasari adanya aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang semburan abunya menyebar hingga menjangkau ke wilayah Jabodetabek.[Rizki Sandi Saputra]](https://asset-2.tribunnews.com/tribunnews/foto/bank/images/apotek-di-jaksel-kewalahan-layani-pembeli-masker.jpg)
Tak hanya masyarakat yang membeli langsung ke apotek, jumlah pembeli masker yang memanfaatkan layanan e-commerce dan ojek online juga meningkat.
Masker medis yang dijual di apotek tersebut bermacam variasi mulai duckbill, masker untuk hijab, masker medis standar, hingga yang jenis premium.
Ia menjelaskan, hingga kini harga masker yang dijual di apotek tempatnya bertugas tidak mengalami kenaikan harga atau berada pada kisaran normal.
“Dari online banyak juga, jadi pada pesen yang instan sama same day, biar cepet sampainya kali ya,” tutur Mila.
Warga Mulai Kesulitan Membeli Masker
Seorang pembeli asal Bogor, Jawa Barat, Uci, mengaku sempat mengalami kesulitan ketika hendak membeli masker secara daring.
“Sudah pesan tapi pas bayar enggak bisa. Katanya ada perubahan harga,” ujar Uci saat dikonfirmasi Tribunnews.com, Minggu.
Meski demikian, kenaikan harga tidak terjadi pada seluruh jenis masker. Uci mengatakan masker KF94 masih tersedia dengan harga normal.
“Masker KF94 masih normal harganya,” katanya.
Adapun lonjakan permintaan masker turut mendorong kenaikan harga sejumlah jenis masker di platform e-commerce.
Pantauan Tribunnews menunjukkan masker duckbill headloop One Care 4ply isi 50 yang sebelumnya dibanderol Rp18.990 kini dijual sekitar Rp30.000.
Sementara itu, masker earloop isi 50 yang sebelumnya seharga Rp17.550 kini mencapai Rp25.000.
PDPI Jakarta Imbau Warga Gunakan Masker N95
Masyarakat di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko saluran pernapasan.
Melalui keterangan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Jakarta, debu vulkanik mengandung partikel sangat halus dari batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang dapat terhirup hingga saluran napas bagian dalam.
“Debu vulkanik memiliki ukuran yang sangat kecil seperti PM10 dan PM2.5, sehingga dapat masuk ke saluran pernapasan dan berpotensi mengganggu kesehatan paru,” ungkap PAPDI Cabang Jakarta dalam keterangan yang diterima Tribunnews.com, Minggu.
Dijelaskan lebih lanjut, paparan debu vulkanik dapat menyebabkan keluhan seperti iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, batuk, bersin, hingga nyeri tenggorokan.
Pada paparan yang lebih berat, debu vulkanik dapat memperburuk kondisi penderita asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), maupun penyakit paru lainnya.
Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih, adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit paru dan jantung karena lebih rentan mengalami dampak kesehatan akibat kualitas udara yang buruk.
Untuk mengurangi risiko paparan, PDPI Cabang Jakarta mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
Jika tersedia, masker dengan kemampuan filtrasi lebih baik seperti N95 dapat digunakan, terutama ketika konsentrasi debu meningkat.
Imbauan Menkes
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memastikan seluruh puskesmas di wilayah terdampak abu vulkanik berada dalam status siaga penuh dengan ketersediaan obat dan alat medis.
Menkes menjelaskan, paparan debu vulkanik sangat berisiko memicu gangguan kesehatan, khususnya pada tiga bagian tubuh.
Oleh karena itu, langkah antisipasi di tingkat fasilitas kesehatan dasar menjadi prioritas pemerintah.
“Pertama adalah ke pernapasan, kedua adalah ke mata, dan yang ketiga adalah ke kulit. Jadi, pernapasan, mata, dan kulit adalah tempat-tempat di mana masalah kesehatan bisa terjadi akibat adanya debu vulkanik ini,” kata Menkes Budi dalam rapat virtual bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Minggu.
Untuk menangani warga yang mengalami sesak napas atau gangguan paru-paru, Menkes telah mendistribusikan alat bantu pernapasan.
Masyarakat diimbau untuk tidak menunda kunjungan ke fasilitas kesehatan jika mulai merasakan gejala.
“Kalau sudah merasa tidak enak pernapasannya, segera ke puskesmas terdekat. Kita sudah mendeploy alat-alat dinamakan nebulizer dan juga oksigen konsentrator,” jelasnya.
Sumber: Warga Berburu Masker Imbas Abu Gunung Anak Krakatau, Penjualan di Apotek Lampung dan Jaksel Melonjak

