Skor PISA Indonesia Rendah, Mendikdasmen Harap Tak Ada Lagi Siswa Belum Bisa Baca dan Berhitung

Peristiwa

Indonesia Menyapa, Jakarta — Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia masih tertinggal dibandingkan rata-rata negara OECD.

Programme for International Student Assessment (PISA) adalah sebuah studi internasional yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

PISA bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam tiga bidang utama: membaca, matematika, dan sains.

Data tersebut mencatat hanya 25 persen siswa Indonesia yang berada di atas rata-rata skor literasi membaca, dan 18 persen untuk matematika.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengatakan rendahnya kemampuan membaca dan berhitung menjadi tantangan mendasar dalam sistem pendidikan nasional.

“Kami berharap dalam tiga tahun ke depan sudah terlihat hasil yang signifikan, terutama pada siswa kelas 1, 2, dan 3. Dengan upaya bersama, semoga tidak akan ada lagi cerita siswa di jenjang tinggi yang belum mampu membaca atau berhitung,” kata Abdul Mu’ti dalam keterangannya, Jumat (10/4/2026).

Ia menekankan tiga langkah utama yang akan ditempuh dalam mengatasi masalah ini.

Pertama, membangun kompetensi siswa melalui pembelajaran yang tidak hanya berbasis usia, tetapi juga pendekatan pedagogi yang tepat.

Kedua, menumbuhkan kebiasaan membaca seiring dengan peningkatan kemampuan literasi.

Ketiga, memperkuat pendekatan numerasi dengan fokus pada pengembangan logika sejak dini.

“Karena itu, kerja sama sangat penting dengan fokus pada siswa sekolah dasar, khususnya di kelas awal. Kemampuan dasar ini menjadi fondasi utama untuk penguasaan ilmu lainnya,” ujar Mu’ti.

Menindaklanjuti hal itu, Kemendikdasmen bekerjasama Tanoto Foundation, Gates Foundation, dan UNICEF, serta enam pemerintah daerah.

Adapun daerah mitra program tersebut meliputi Kota Medan dan Pematangsiantar (Sumatera Utara), Kabupaten Batang Hari (Jambi), Kabupaten Tegal (Jawa Tengah), serta Kabupaten Ende dan Sikka (Nusa Tenggara Timur).

Program ini ditargetkan menjangkau 500 sekolah dasar negeri, melibatkan 1.500 guru kelas awal dan kepala sekolah, serta memberi manfaat kepada sedikitnya 45.000 siswa hingga 2029.

Dalam jangka panjang, pemerintah berharap program tersebut dapat diperluas ke seluruh Indonesia.

Sementara itu, Head of Learning Environment Tanoto Foundation, Margaretha Ari Widowati, menilai peran guru menjadi kunci dalam memastikan penguasaan keterampilan dasar siswa.

“Dengan pemanfaatan data asesmen siswa, guru dapat memetakan kebutuhan siswa secara tepat dan menyesuaikan strategi pembelajaran,” ujarnya.

Program kolaborasi ini mengusung tiga pilar utama, yakni penguatan praktik pembelajaran di kelas melalui pedagogi terstruktur, pemanfaatan data asesmen diagnostik untuk perbaikan pembelajaran sesuai kebutuhan siswa, serta penyelarasan kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah.

 

Sumber: Skor PISA Indonesia Rendah, Mendikdasmen Harap Tak Ada Lagi Siswa Belum Bisa Baca dan Berhitung – TribunNews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *