Indonesia Menyapa, Jakarta — Sejumlah pakar dan pengamat pertahanan menyoroti perihal perhitungan anggaran operasional kapal induk eks Angkatan Laut Italia Giuseppe Garibaldi yang rencananya dihibahkan Pemerintah Italia ke Pemerintah Indonesia.
Anggaran operasional kapal induk yang jauh lebih besar dari kapal perang TNI Angkatan Laut lainnya dinilai berpotensi menjadi beban.
Menjawab hal itu, Kementerian Pertahanan menyatakan telah menyiapkan perhitungan.
Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan pihaknya juga turut mendengar masukan dari TNI Angkatan Laut.
“Mengenai isu anggaran, Kemhan telah menyiapkan manajemen perhitungan kebutuhan operasional dan retrofit dengan masukan dari pengguna di TNI Angkatan Laut,” kata Rico saat dihubungi Tribunnews.com pada Rabu (18/2/2026).
“Seluruhnya dilakukan melalui mekanisme perencanaan dan penganggaran yang tertib, terukur, dan sesuai ketentuan yang berlak,” pungkasnya.
Markas Besar TNI Angkatan Laut juga mengonfirmasi terkait hal tersebut.
Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul mengatakan pihaknya dilibatkan secara aktif dan intensif oleh Kementerian Pertahanan terkait hal itu.
“TNI AL dilibatkan secara aktif dan intensif oleh Kemhan RI, terlebih sebagai calon pengguna (user), kami memberikan masukan komprehensif, terkait rencana tersebut,” ungkap Tunggul kepada Tribunnews.com pada Rabu (18/2/2026) malam.
“Kesemuanya itu masih tahap perencanaan, dimana masuk dalam Informasi yang dikecualikan, yang ada pada Undang – Undang RI No.14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP), Bab V pasal 17,” kata Tunggul.
Dia menjelaskan, sebagaimana yang telah dikatakan oleh KSAL Laksamana Muhammad Ali beberapa waktu lalu terkait rencana kapal Giuseppe Garibaldi, masih dalam negosiasi yang diharapkan akan tiba sebelum HUT TNI 2026.
Untuk itu, TNI AL terus melakukan kajian internal mendalam untuk memastikan kehadiran platform tersebut selaras dengan strategi pertahanan.
“Tentunya penggunaan kapal tersebut nantinya berfokus ke Operasi Militer Selain Perang (OMSP),” pungkas dia.
Syarat Jadi ‘Game Changer’
Sebelumnya, Co-founder sekaligus pengamat pertahanan Institute for Security and Strategic Studies (ISSES) Khairul Fahmi memandang kehadiran Giuseppe Garibaldi bisa menjadi game changer bagi wibawa pertahanan Indonesia.
Akan tetapi hal itu bisa terjadi dengan syarat ketat.
Syarat itu menurut dia di antaranya adalah harus ada jaminan bahwa biaya retrofit dan operasionalnya tidak mengganggu pos anggaran pemeliharaan (Harwat) alutsista yang sudah ada.
Kedua, TNI AL harus segera menyiapkan peta jalan (roadmap) pengadaan pesawat, helikopter, atau drone yang sesuai, serta pelatihan kru khusus kapal induk yang budayanya berbeda dengan kapal kombatan biasa.
“Syarat ini harus terpenuhi, agar kehadiran kapal ini benar-benar menjadi aset strategis dan tidak berisiko menjadi beban logistik,” kata Fahmi saat dihubungi Tribunnews.com pada Selasa (17/2/2026).
“Memiliki alutsista canggih itu berarti kita juga harus memiliki kesanggupan membiayai operasional dan pemeliharaan/perawatannya,” imbuhnya.
Fahmi sendiri memandang rencana hibah kapal induk Giuseppe Garibaldi dari Italia yang tengah berproses itu perlu disikapi dengan kalkulasi yang sangat matang.
Kapal Induk Guiseppe Garibaldi
Sejarah dan Status
- Dibangun oleh Fincantieri di Monfalcone, Italia.
- Diluncurkan tahun 1983, mulai bertugas 1985, dan resmi pensiun pada 1 Oktober 2024.
- Menjadi kapal induk pertama Italia yang mampu mengoperasikan pesawat lepas landas pendek dan pendaratan vertikal (STOVL).
Spesifikasi Umum
- Panjang: 180,2 meter; lebar: 33,4 meter; draft: 8,2 meter.
- Bobot penuh: sekitar 13.850 ton (hingga 14.150 ton setelah modernisasi 2003).
- Kapasitas kru: sekitar 830 personel.
Propulsi dan Jangkauan
- Ditenagai 4 turbin gas General Electric/Avio LM2500 dengan total daya 60.400 kW (81.000 hp).
- Didukung 6 generator diesel Grandi Motori Trieste.
- Jangkauan operasional: sekitar 7.000 km pada kecepatan 20 knot.

