Gencarkan Oplah dan Brigade Pangan, Kementan Pastikan Swasembada

Indonesia Menyapa, Kaltara – Kementerian Pertanian meyakini program Brigade Pangan (BP) dan optimasi lahan (Oplah) dapat mempercepat transformasi di sektor pertanian guna mencapai swasembada pangan seperti yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, swasembada pangan menjadi salah satu target utama Presiden Prabowo. Bahkan, target swasembada pangan dibuat semakin cepat dari yang awalnya 3 tahun menjadi 2 tahun, sehingga harus tercapai pada tahun 2025.

“Gerakan ini sudah lama direncanakan sejak zaman kemerdekaan. Namun, kita baru mulai hari ini dan harus berhasil. Mudah-mudahan 2 hingga 3 tahun ke depan ini menjadi kenyataan dan kita tidak perlu mengimpor beras,” kata Mentan Amran.

Terpisah, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti mengungkapkan bahwa program Oplah menjadi salah satu langkah yang dilakukan untuk mencapai target swasembada pangan.

“Swasembada pangan menuju lumbung pangan dunia atau ekspor. Dalam swasembada pangan, sudah dapat dipenuhi melalui pertanaman reguler,” katanya.

Kalimantan Utara menjadi salah satu lokasi Optimasi Lahan dan Pembentukan Brigade Pangan. Staf Khusus Menteri Pertanian, Sam Herodian, saat mendatangi langsung ke lokasi ini pada Selasa, (28/01/2025) menegaskan pentingnya peran BP dalam meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah tersebut.

Dalam pertemuan tersebut, dibahas progres pengelolaan lahan pertanian, termasuk optimalisasi sistem pengairan dan peningkatan kapasitas petani melalui pelatihan online dan offline.

Salah satu fokus utama adalah memastikan lahan yang dikelola oleh BP memiliki kejelasan dalam kerja sama dengan pemilik tanah, serta peningkatan jumlah siklus tanam menjadi tiga kali dalam setahun.

“Kami berharap BP tidak hanya terbentuk untuk menerima bantuan, tetapi benar-benar menjadi motor penggerak peningkatan produktivitas pertanian di daerah ini,” ujar Sam Herodian.

Selain itu, disampaikan pula bahwa alat dan bantuan yang diberikan harus dimanfaatkan secara optimal dan tidak diperjualbelikan. Ke depan, BP yang sudah berkembang dapat menjadi pusat Pelatihan Pertanian Swadaya (P4S) untuk melatih petani lain agar semakin mandiri dan berdaya saing.

Dengan adanya koordinasi yang baik antara BP, tenaga pendamping, serta pemerintah daerah, diharapkan program ini dapat berjalan dengan maksimal guna meningkatkan kesejahteraan petani dan ketahanan pangan nasional.

“Sekali lagi, bahwa peningkatan produksi IP3 bukan semata-mata untuk nasional, tapi untuk kita semua. Pak Menteri itu selalu ingin, gimana sih caranya supaya petani lebih sejahtera kembali,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Pusat Pelatihan BPPSDMP, Inneke Kusumawaty menyampaikan bahwa BP akan menjadi pilar dalam menciptakan ketahanan pangan di daerah tersebut.

“Pembentukan BP ini tidak hanya bertujuan untuk mendapatkan bantuan, namun juga untuk memastikan bantuan tersebut dimanfaatkan dengan baik dalam rangka meningkatkan hasil pertanian dan kesejahteraan petani,” katanya.

Lebih lanjut, Inneke mengungkapkan bahwa BP yang terbentuk harus memiliki anggota serta lahan yang jelas dan terkelola dengan baik. BP ini akan berfokus pada pengelolaan lahan secara optimal, dengan target panen hingga tiga kali dalam setahun, yang tentunya akan meningkatkan pendapatan petani.

“Pelatihan juga akan terus dilakukan untuk memperkuat kemampuan para anggota BP. Pelatihan tentang analisis usaha tani, manajemen SDM, dan budidaya pertanian menjadi hal yang sangat penting agar hasil yang diperoleh lebih maksimal,” tambah Inneke.

Inneke juga menekankan pentingnya sinergi antara petani, penyuluh pertanian (PPL), Babinsa, serta pemerintah daerah untuk memastikan setiap kegiatan pertanian berjalan lancar. Untuk itu, pelatihan-pelatihan akan diadakan secara reguler dan diharapkan bisa diikuti oleh seluruh pihak terkait agar informasi dan pengetahuan tentang pertanian dapat tersebar dengan baik.

Inneke menutup sambutannya dengan menegaskan pentingnya penggunaan alat pertanian yang diterima melalui bantuan secara efektif, sehingga tidak hanya sekadar mengandalkan bantuan, tetapi juga menghasilkan peningkatan pendapatan yang berkelanjutan bagi petani.

“Melalui BP ini, kami berharap masyarakat dapat menjadi lebih mandiri dalam mengelola hasil pertanian dan secara tidak langsung berkontribusi pada ketahanan pangan di daerah ini,” tutup Inneke.

Pada kesempatan ini, juga dilakukan pemupukan kedua secara serentak pada lahan seluas 30 ha yang dikelola oleh BP Bawai Tawai, Desa Teras Baru, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kaltara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *