Adaptif, UMKM Jamu Lokal Berinovasi Sasar Anak Muda untuk Perluas Pasar

UMKM

Indonesia Menyapa, Jakarta — Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) jamu terus melakukan inovasi untuk memperluas pasar, khususnya di kalangan anak muda. Inovasi dilakukan tanpa menghilangkan identitas serta manfaat jamu sebagai minuman tradisional.

Pelaku UMKM Usaha Mbokdjamoe (traditional homemade drink), Septin Dyah mengatakan perubahan tren konsumen mendorong pelaku usaha untuk menyesuaikan produk, mulai dari kemasan hingga varian rasa.

“Dari pertama kita cara kemas, dari packaging-nya. Untuk kemasannya kita cari yang estetik. Jadi bukan bentuk botol seperti botol-botol lainnya,” katanya kepada RRI Semarang, Rabu, 30 September 2026.

Menurutnya, diversifikasi rasa juga menjadi bagian penting dalam menarik konsumen baru. Jamu yang sebelumnya identik dengan rasa pahit dan asam dikembangkan dengan berbagai varian, termasuk perpaduan cokelat dan coconut milk.

Inovasi tersebut, kata Septin, turut mengubah persepsi konsumen terhadap jamu, sekaligus membuat produk lebih mudah diterima oleh generasi muda maupun keluarga.

“Ketika kita inovasi di beras kencur cokelat, itu menarik minat ibu-ibu untuk membelikan anaknya,” katanya.

Septin menilai tren gaya hidup sehat juga menjadi peluang bagi UMKM jamu. Minuman tradisional kini mulai mendapatkan tempat di kalangan anak muda yang semakin memperhatikan pilihan konsumsi.

Karena itu, pihaknya berupaya mempertahankan pasar anak muda dengan menghadirkan kemasan yang lebih menarik dan menambah pilihan rasa, namun tetap menjaga fungsi serta manfaat jamu.

Di sisi lain, peningkatan permintaan setelah inovasi produk menghadirkan tantangan baru, terutama dalam menjaga konsistensi rasa dan kualitas. Ketersediaan bahan baku segar dengan kualitas terbaik juga menjadi persoalan, terlebih ketika kondisi cuaca memengaruhi produksi bahan baku.

“Cuaca sekarang ini sangat mempengaruhi. Di musim kekeringan untuk saat ini, mencari atau memperoleh bahan baku yang bagus dengan kualitas grade A memang agak susah,” ungkapnya.

Meski harga bahan baku meningkat, Septin menyebut pihaknya berupaya mempertahankan penggunaan bahan baku berkualitas untuk menjaga konsistensi rasa, warna, dan mutu produk.

Di tengah kondisi daya beli masyarakat yang menurutnya cenderung menurun dalam setahun terakhir, Septin mengajak pelaku UMKM untuk tidak berhenti berusaha dan tetap konsisten.

“Kita harus bertahan dalam kondisi atau keadaan apa pun. Jangan putus asa, kita tetap saja konsisten. Satu hari bisa laku 100 atau 10, kita jalanin saja,” katanya.

Inovasi produk, kemasan, dan pemasaran menjadi bagian dari upaya UMKM jamu untuk tetap relevan dengan perubahan selera konsumen. Hal ini sekaligus dapat membantu produk berbasis kearifan lokal menjangkau pasar yang lebih luas.

 

Sumber: Adaptif, UMKM Jamu Lokal Berinovasi Sasar Anak Muda untuk Perluas Pasar – RRI.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *