Indonesia Menyapa, Jakarta — Lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mulai muncul di berbagai lokasi pengungsian pascabanjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera.
ISPA adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut, yaitu peradangan pada saluran pernapasan atas maupun bawah yang berlangsung cepat dan mudah menular.
Kondisi ini mendapat perhatian serius dari ahli kesehatan masyarakat sekaligus peneliti keamanan dan ketahanan kesehatan global , Dicky Budiman.
“Banjir ini adalah multi hazard event yang memicu peningkatan infeksi saluran pernapasan akut melalui mekanisme tidak langsung,” ujar Dicky pada keterangannya, Selasa (2/12/2025).
ISPA Bisa Melonjak Cepat 48–72 Jam Pertama Pascabencana
Menurut Dicky, kondisi pengungsian merupakan tempat yang paling mudah bagi virus pernapasan untuk menyebar.
Kepadatan tenda, ventilasi minim, dan ruangan yang tertutup menjadi kombinasi yang ideal bagi penularan.
“Banyak yang tinggal berdekatan dalam ruang tertutup ventilasi minim. Droplets dan aerosol virus seperti influenza, Virus Sinsitial Pernapasan (RSV), dan rhinovirus sangat mudah menyebar, ditambah anak-anak sering bermain dan berkumpul di ruang yang sama,” jelasnya.
Situasi ini menjadi pendorong kuat meningkatnya attack rate, atau tingkat penularan infeksi.
Dicky menyebutkan bahwa berbagai riset pascabencana di Asia menunjukkan ISPA merupakan penyakit yang paling cepat melonjak dalam 48–72 jam pertama setelah banjir.
Lingkungan Lembap dan Polusi Dapur Memperburuk Kondisi
Tak hanya kerumunan di tenda, suhu dingin dan kelembapan tinggi yang muncul setelah banjir turut memperkuat stabilitas virus di udara dan permukaan.
Paparan udara dingin juga menyebabkan iritasi saluran napas pada anak dan menurunkan fungsi silia.
Polusi dalam ruangan pun menjadi faktor lain yang sering terabaikan. Banyak keluarga memasak di tenda atau ruang darurat, sehingga asap dapur meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
“Kondisi lembab dan dingin meningkatkan stabilitas virus pernapasan. Asap dapur di pengungsian juga memperburuk saluran napas dan menjadi trigger dari ISPA,” imbuh Dicky.
Stres akibat bencana, kurang tidur, hingga asupan nutrisi yang tidak memadai turut menurunkan daya tahan tubuh anak.
Akses layanan kesehatan yang terbatas membuat batuk pilek ringan tidak tertangani cepat, sehingga berpotensi berkembang menjadi ISPA berat.
Mengapa Kasus Diare atau Penyakit Kulit Tidak Langsung Meningkat?
Menurut Dicky, penyakit pencernaan memiliki masa inkubasi lebih panjang.
Jika distribusi air bersih dan fasilitas sanitasi darurat cepat tersedia, lonjakan kasus bisa tertahan.
Sementara penyakit kulit lebih dipengaruhi paparan air banjir berkepanjangan.
Namun, banyak anak segera dievakuasi sehingga paparan lebih pendek, dan fasilitas mandi darurat di sebagian lokasi membantu menekan kasus.
Kelompok Usia Balita Paling Rentan
Dicky menekankan bahwa anak di bawah lima tahun adalah kelompok dengan risiko tertinggi, bahkan 2–4 kali lipat lebih besar untuk terinfeksi ISPA dalam kondisi pengungsian yang padat dan lembap.
“Anak usia kurang dari 5 tahun itu kelompok paling rentan, dan risiko meningkat 2–4 kali lipat di lingkungan pengungsian yang padat dan lembab,” ujarnya.
Melihat situasi ini, Dicky menilai intervensi cepat harus menjadi prioritas, terutama selama masa kritis pascabencana.
Ia merekomendasikan beberapa langkah yang perlu segera dilakukan:
-Memperbaiki ventilasi di posko
-Mengurangi kepadatan tenda pengungsian
-Membuat zonasi ruang tidur anak
-Menyediakan masker untuk anak-anak
-Pemantauan harian gejala ISPA di posko
-Edukasi batuk bersih dan kebersihan tangan
Selain itu, area bermain terbuka sangat penting agar anak-anak tidak berkumpul di ruang tertutup yang berisiko tinggi menularkan infeksi.
Pengendalian polusi asap dapur juga perlu diperhatikan, termasuk memastikan pakaian anak tetap kering agar mereka tidak kedinginan.
Dicky menegaskan bahwa dalam situasi bencana, anak-anak harus mendapat prioritas tertinggi.
Ketersediaan nutrisi, pakaian kering, akses kesehatan awal, hingga dukungan emosional adalah komponen penting untuk mencegah kondisi semakin buruk.
“Anak itu tentu paling penting diawasi, didampingi,” tegasnya.
Dengan ancaman ISPA yang terus meningkat di lokasi terdampak banjir dan longsor, para ahli menilai perlindungan anak harus menjadi fokus utama dalam penanganan bencana di Sumatera saat ini.
Sumber: Waspada Ancaman ISPA pada Anak Usai Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera – TribunNews.com

