Indonesia Menyapa, Tangerang Selatan — Kesabaran warga Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten pada penanganan sampah sepertinya sudah habis. Keresahan warga pun disambut dengan protes mahasiswa pada Pemerintah setempat.
Warga kesal karena hampir sebulan tumpukan sampah berserak dan tak terangkut di beberapa lokasi hingga menimbulkan bau tak sedap dan pemandangan tak enak.
Penyebab sampah tak terangkut yaitu penutupan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cipeucang di Kecamatan Serpong.
Tak jarang, warga menutup pintu rumahnya karena bau tak sedap datang dari tong sampah di area permukiman.
Datangnya truk sampah ke permukiman saat ini paling dinanti.
“Sekarang ini paling senang kalau ada suara truk sampah. Ampun numpuk itu sampah sudah lebih dari 10 hari sudah tak diangkut. Ini sudah hampir sebulan sampah diangkutnya lama,” ucap Nuri, warga Pamulang Tangsel.
Namun, kebahagiaan warga seolah sirna, karena saat truk sampah datang, tak semua sampah terangkut.
“Maaf ibu, ini kami angkut secukupnya dulu, truknya penuh. Di TPA juga belum tentu bisa dibuang, kami masih antre di Cipeucang,” kata seorang petugas.
Tak hanya di permukiman, sampah lebih menumpuk parah di beberapa pasar seperti di Pasar Ciputat, Cimanggis dan Pasar Serpong.
Tumpukan sampah terlihat di pinggir jalan hingga kawasan permukiman, menimbulkan bau tidak sedap serta mengancam kesehatan dan kenyamanan warga.
Protes Mahasiswa
Melanjutkan kekesalan warga, mahasiswa bertindak. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Wali Kota Tangerang Selatan, Ciputat, Jumat (26/12/2025).
Para mahasiswa yang menggelar aksi sempat membuang sampah di area kantor Wali Kota sebagai bentuk protes atas krisis sampah yang dinilai kian parah.
Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta menyatakan sikap tegas dan mendesak Wali Kota Tangerang Selatan untuk segera mengambil langkah konkret dalam menangani persoalan sampah, khususnya di wilayah Ciputat.

BEM UMJ menilai permasalahan ini mencerminkan lemahnya tata kelola lingkungan serta belum optimalnya kebijakan pengelolaan sampah daerah.
“Pemerintah daerah tidak boleh abai terhadap persoalan yang berdampak langsung pada kesehatan dan kualitas hidup masyarakat. Diperlukan tindakan cepat, tegas, dan berkelanjutan,” tegas Damar Ananta Pramudya, Wakil Presiden Mahasiswa BEM UMJ kepada TribunTangerang.com, Minggu (28/12/2025).
Selain itu, BEM UMJ mendesak Pemerintah Kota Tangerang Selatan bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk melakukan pengangkutan sampah secara rutin dari wilayah Ciputat Selatan hingga ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang.
Mereka juga menuntut penambahan armada dan fasilitas pendukung, serta penguatan edukasi kepada masyarakat terkait pengelolaan dan pemilahan sampah.
Menurut mereka, evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan sampah perlu segera dilakukan agar permasalahan serupa tidak terus berulang.
“Kebersihan lingkungan merupakan hak masyarakat dan kewajiban negara yang harus dipenuhi secara serius,” lanjut Damar.
Dalam tuntutannya, BEM UMJ juga meminta peningkatan transparansi dan akuntabilitas kinerja DLH kepada publik, serta mendorong Pemerintah Kota Tangerang Selatan untuk tegas dalam melakukan transformasi infrastruktur pengelolaan residu melalui penerapan teknologi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Pihaknya, kata Damar akan menunggu respons Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Selatan terkait penanganan krisis sampah yang terjadi di sejumlah wilayah.
Jika hingga 2 Januari 2026 tidak ada tanggapan, BEM UMJ memastikan akan kembali menggelar aksi lanjutan sebagai bentuk tekanan kepada pemerintah daerah.
“Respons akan ditunggu sampai tanggal 2 Januari,” ujar Damar kepada TribunTangerang.com, Minggu (28/12/2025).
Damar menyatakan telah mengirimkan poin tuntutan sekaligus permohonan audiensi kepada Pemerintah Kota Tangerang Selatan sebelum menggelar aksi unjuk rasa.
“Sebetulnya poin tuntutan dan permohonan audiensi sudah kami kirimkan sejak hari Rabu, sebelum aksi Jumat kemarin,” ujar Damar.
Namun hingga kini, BEM UMJ mengaku belum menerima respons dari pihak Pemkot Tangsel.
Respons Wali Kota Tangsel
Krisis masalah sampah yang terjadi di Tangerang Selatan, Banten tengah menjadi sorotan.
Pasalnya, tumpukan sampah terlihat di sejumlah titik jalanan yang menyebabkan masyarakat merasa tidak nyaman.
Menanggapi itu, Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, meminta masyarakat agar bersabar menghadapi kendala pengangkutan sampah yang terjadi di sejumlah wilayah belakangan ini.
Dia menegaskan situasi ini merupakan dampak dari langkah korektif pemerintah yang tengah melakukan transisi besar-besaran, dari pola pembuangan konvensional menuju sistem pengolahan sampah modern berbasis teknologi.

Benyamin menyadari sepenuhnya ketidaknyamanan yang dialami warga akibat tumpukan sampah di beberapa titik.
Menurutnya, Pemkot Tangsel saat ini tidak lagi sekadar ingin memindahkan masalah ke tempat lain, melainkan sedang memutus rantai persoalan sampah dari akarnya.
“Saya merasakan betul kegelisahan warga. Bau yang tidak sedap dan pemandangan tumpukan sampah itu adalah beban moral bagi saya. Namun, kita harus berani mengambil langkah jujur bahwa TPA Cipeucang sudah tidak mampu lagi menampung beban dengan cara lama,” kata Benyamin, Sabtu (27/12/2025).
“Memaksakan pembuangan di sana justru akan menciptakan bencana lingkungan yang lebih besar bagi anak cucu kita,” sambungnya.
Terkait solusi permanen, Benyamin memaparkan secara rinci mengenai proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Dia menjelaskan bahwa proyek ini telah melewati tahapan lelang yang ketat dan kini berada pada fase krusial sebelum konstruksi dimulai. Dimana, proyek ini merupakan bagian dari program strategis nasional untuk mengatasi darurat sampah perkotaan.
“Mengenai rincian teknisnya, PSEL ini nantinya akan memiliki kapasitas olah yang sangat masif, mencapai 1.000 hingga 1.100 ton sampah per hari. Angka ini setara dengan seluruh timbulan sampah yang dihasilkan warga Tangsel setiap harinya,” tuturnya.
Baca juga: Akademisi UI: PSEL Solusi Strategis Penanganan Sampah Perkotaan
Dia menambahkan bahwa teknologi thermal yang digunakan memiliki standar emisi yang sangat ketat.
“Sampah akan habis dibakar dan dikonversi menjadi energi listrik, bukan lagi ditumpuk hingga menggunung. Sistem ini mampu mereduksi volume sampah hingga 90 persen, sehingga residu yang dihasilkan sangat minimal. Ini adalah jawaban atas keterbatasan lahan kita yang semakin padat demi mencapai target zero landfill,” jelasnya.
Namun, Benyamin menekankan bahwa teknologi tidak akan maksimal tanpa penanganan darurat yang responsif.
Sembari menunggu PSEL beroperasi secara permanen, pihaknya bakal menjalankan strategi berlapis untuk mengurai kemacetan sampah di lingkungan warga.
“Saya telah menginstruksikan langkah-langkah darurat yang bersifat empatik di lapangan. Pertama, kita lakukan pengangkutan prioritas dengan mengerahkan armada tambahan di titik-titik pemukiman padat dan fasilitas umum agar estetika kota tetap terjaga,” kata Benyamin.
Selain itu, dia juga menjelaskan bahwa kerja sama regional menjadi kunci jangka pendek. Pemkot melanjutkan koordinasi pembuangan sampah sementara ke daerah mitra, seperti TPA Cilowong di Serang, guna mengurangi beban berat di Cipeucang.
Di tingkat akar rumput, pemerintah juga mengaktivasi kembali lebih dari 36 Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di setiap kelurahan.
“Aspek kesehatan warga tetap nomor satu. Saya memerintahkan penyemprotan disinfektan dan cairan pengurai bau secara rutin di titik-titik tumpukan sampah yang belum terangkut untuk meminimalisir dampak sanitasi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Benyamin pun mengajak masyarakat untuk ikut terlibat dalam perubahan besar ini.
Dia meyakini bahwa sentuhan tangan warga dalam memilah sampah dari sumbernya adalah bagian dari solusi humanis yang paling efektif.
“Mari kita mulai memilah sampah organik dan anorganik dari dapur kita masing-masing. Transisi ini memang berat, tapi ini adalah jalan menuju Tangerang Selatan yang lebih hijau dan bersih. Ini adalah warisan kita untuk masa depan anak cucu kelak,” tandasnya.

