Indonesia Menyapa, Samarinda — Inovasi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kalimantan Timur terus berkembang melalui pemanfaatan bahan baku lokal. Salah satu contoh datang dari pengolahan kayu menggeris menjadi berbagai produk gaya hidup seperti jam tangan, kacamata, hingga aksesori teknologi.
Owner Menggeris, Iendy Zelviean Adhari, menjelaskan latar belakangnya sebagai akademisi di bidang ekonomi syariah tidak menghalanginya untuk menekuni riset kreatif pada bahan kayu lokal. Ia mengaku ketertarikannya pada seni dan produk kreatif menjadi awal mula lahirnya inovasi tersebut.
“Saya memang doktornya ekonomi syariah, tetapi riset tentang kayu ini saya pelajari secara mandiri di luar kepakaran utama saya,” ujarnya dalam program UMKM Bicara di Pro1 RRI Samarinda, dikutip Senin 30 Maret 2026.
Ia mengatakan, minatnya terhadap seni juga memengaruhi cara pandangnya dalam mengembangkan produk. Menurutnya, seni dapat dibagi menjadi dua kategori, yakni seni abstrak dan seni yang memiliki bentuk produk nyata serta dapat diukur kualitasnya. “Kalau seni yang berbentuk produk, kualitasnya bisa dinilai bersama-sama. Misalnya jam tangan atau kacamata, orang bisa melihat langsung apakah produk itu berkualitas atau tidak,” kata Iendy.
Atas dasar pemikiran tersebut, ia memilih jam tangan dan kacamata sebagai produk utama karena memiliki nilai seni sekaligus fungsi praktis. Selain itu, bahan kayu menggeris yang digunakan dikenal memiliki ketahanan tinggi terhadap hama. “Kayu menggeris dan kayu ulin itu terkenal tahan rayap dan hama, sehingga cocok dijadikan produk yang tahan lama,” ucapnya.

Dalam proses produksinya, Iendy juga menerapkan prinsip efisiensi bahan baku sehingga hampir tidak ada bagian kayu yang terbuang. Setiap potongan kayu dimanfaatkan untuk menghasilkan produk turunan yang berbeda. “Bahan utama kami fokuskan dulu untuk jam tangan. Sisa kayunya bisa diolah menjadi kacamata, kemudian turun lagi menjadi strap Apple Watch,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa potongan kayu yang lebih tipis kemudian dimanfaatkan untuk membuat aksesori lain seperti softcase ponsel dan pemegang kartu identitas. Dengan cara tersebut, seluruh bahan baku dapat dimanfaatkan secara maksimal. “Sisa yang lebih tipis lagi bisa dijadikan card holder atau aksesori lainnya,” kata Iendy.
Tidak hanya itu, serbuk kayu yang dihasilkan dari proses produksi juga dimanfaatkan kembali melalui riset lanjutan. Ia mengungkapkan bahwa serbuk kayu menggeris dapat diolah menjadi bahan esensial yang berpotensi digunakan sebagai produk wewangian. “Serbuk kayunya kami riset lagi dan bisa dijadikan esensial parfum dengan aroma khas kayu menggeris,” ucapnya.
Menurutnya, hasil penelitian awal menunjukkan bahwa ekstrak kayu tersebut memiliki kandungan yang baik untuk kulit. Bahkan, potensi tersebut tengah dikembangkan untuk menjadi produk turunan lain yang bernilai ekonomi. “Kami menemukan bahwa kandungannya memiliki sifat antioksidan yang baik untuk kulit,” ujar Iendy.
Melalui konsep produksi tanpa limbah tersebut, ia berharap inovasi berbasis kayu lokal dapat terus berkembang. Selain meningkatkan nilai ekonomi bahan alam, langkah tersebut juga menjadi bentuk pemanfaatan sumber daya secara lebih bijak dan berkelanjutan.
Sumber: UMKM Samarinda Kembangkan Produk Kayu Menggeris tanpa Limbah – RRI.co.id

