Trump Kembali Pakai Tekanan Ekonomi ke Iran, Apakah Berhasil?

Peristiwa

Indonesia Menyapa, Jakarta — Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tidak akan lagi menggunakan kekuatan militer untuk menekan Iran. Kini AS mulai kembali menggunakan tekanan ekonomi.

Dalam wawancara dengan Axios pada Minggu (9/8), Trump mengatakan pemerintahannya kini mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati terhadap Iran.

“Kami akan melakukannya secara diam-diam. Kami hanya melakukan negosiasi setengah-setengah dengan mereka. Kami hanya mengamati Iran dengan inflasi yang sangat tinggi dan kenyataan bahwa mereka tidak memiliki uang,” kata Trump.

Komentar Trump muncul setelah Iran pada hari Sabtu menetapkan syarat-syarat baru yang drastis untuk mencabut blokade di Selat Hormuz, yang mengangkut sekitar seperlima pengiriman minyak komersial dunia.

Trump sendiri mengancam akan melakukan serangan militer besar-besaran terhadap Iran, tetapi kemudian menarik kembali ancamannya pada awal pekan lalu, dengan alasan adanya terobosan dalam pembicaraan.

 

Akankah tekanan ekonomi AS berhasil?

Ekonomi Iran memang babak belur selama diserang AS dan Israel. Apalagi embargo ekonomi puluhan tahun.

Konflik berkepanjangan ini tak hanya memicu inflasi tinggi, tetapi juga menyebabkan jutaan pekerjaan hilang atau terhenti.

Tercatat harga makanan, obat-obatan, mobil, peralatan listrik, hingga produk petrokimia dilaporkan meningkat signifikan dibandingkan pekan sebelumnya.

Kondisi ini diperparah oleh kombinasi salah urus domestik, serangan terhadap infrastruktur, sanksi Amerika Serikat, blokade laut, serta pemadaman internet hampir total yang telah berlangsung selama enam bulan.

Nilai tukar mata uang Iran, rial, juga terpuruk ke level terendah sepanjang masa di pasar terbuka, yakni 1,84 juta rial per dolar AS. Angka tersebut mencerminkan pelemahan tajam daya beli masyarakat, dikutip CNBC.

Namun hal tersebut belum bisa memastikan rezim Iran akan runtuh total. Terbukti, para penguasa Iran masih solid.

Saat ini Iran masih mengandalkan diversifikasi domestik, ekspor minyak terselubung ke China, serta jaringan perbankan bayangan untuk bertahan.

Jaringan perbankan bayangan Iran (shadow banking) adalah sistem keuangan paralel dan tidak resmi yang digunakan Iran untuk memindahkan uang, menjual minyak, serta mendapatkan mata uang asing demi menghindari sanksi internasional.

Ekspor terselubung Iran ke China didominasi oleh komoditas minyak mentah.

China saat ini menyerap sekitar 80% hingga 90 persen dari total ekspor minyak Iran, yang setara dengan sekitar 1,4 juta barel per hari.

Karena kesulitan mengirimkan minyak melalui Selat Hormuz, Iran mencari jalur darat alternatif untuk mengimpor dan mengekspor barang.

Pada bulan Maret, misalnya, Iran mengekspor 1,84 juta barel per hari (BPD) ke pelanggan di Asia, sebagian besar Tiongkok.

Meskipun beberapa kapal berhasil menghindari blokade, Iran masih tidak dapat mengangkut minyak sebanyak yang diproduksinya setiap hari.

Iran beralih ke jalur kereta api melalui Asia Tengah sebagai jalur yang lebih aman untuk perdagangan dengan China, seperti dikutip situs The Diplomat.

 

Sumber: Trump Kembali Pakai Tekanan Ekonomi ke Iran, Apakah Berhasil?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *