Takbir Bergema di Ruang Pemantauan saat Sistem Kelistrikan di Aceh Kembali Pulih

Peristiwa

Indonesia Menyapa, Jakarta — Kota Serambi Mekkah kembali terang benderang setelah tim PLN berhasil memulihkan sistem kelistrikan yang sempat lumpuh total sejak banjir melanda wilayah itu akhir November lalu.

Di ruang pemantauan listrik, terlihat suasana ceria para petugas saat sistem kelistrikan Aceh kembali terhubung dengan sistem besar Sumatra.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, yang memantau langsung proses ini tidak bisa menyembunyikan rasa syukurnya saat melihat indikator di layar monitor kembali normal.

“Alhamdulillahi Robbal Alamin… Takbir…!” seru Darmawan dengan penuh semangat, ditulis Kamis (18/12/2025).

Ucapan syukur itu pun langsung disambut kompak oleh para pegawai PLN di ruangan tersebut dengan sahutan, “Allahu Akbar!”

Pemulihan kilat ini bukan tanpa alasan.

PLN bergerak cepat menindaklanjuti arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto dan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, untuk memprioritaskan layanan publik dan aktivitas warga.

“Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri ESDM, kami terus mempercepat upaya pemulihan kelistrikan pascabencana Aceh. Alhamdulillah, proses ini dapat berjalan lancar dan sistem kelistrikan Banda Aceh kini telah pulih sepenuhnya,” ujar Darmawan.

Meski lampu sudah menyala, PLN tidak lantas bersantai.

Petugas di lapangan masih bersiaga 24 jam untuk memantau stabilitas pasokan, terutama di wilayah yang terdampak banjir dan longsor.

Darmawan menegaskan bahwa fokus selanjutnya adalah memperkuat sistem agar lebih tangguh menghadapi potensi gangguan di masa depan.

“Personel kami terus bekerja untuk mempercepat recovery agar seluruh wilayah di Aceh dapat pulih sepenuhnya,” ujarnya.

Kini, aktivitas warga Banda Aceh pun perlahan kembali normal seiring dengan kembalinya aliran listrik ke rumah-rumah mereka.

 

Kerahkan 500 Personel

Sebelumnya PT PLN (Persero) mengerahkan 500 personel dari berbagai unit di seluruh Indonesia untuk mempercepat pemulihan jaringan listrik pascabencana banjir dan longsor di Aceh.

Personel tersebut diterjunkan ke sejumlah titik kritis tower Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kilovolt (kV) pada Minggu (30/11/2025).

Penanganan dilakukan melalui jalur darat dan udara dengan dukungan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Adapun titik-titik kritis yang menjadi fokus penanganan meliputi SUTT 150 kV Arun–Bireuen dengan 258 personel, SUTT 150 kV Bireuen–Peusangan sebanyak 178 personel, serta SUTT 150 kV Pangkalan Brandan–Langsa dengan 64 personel.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan sinergi PLN dengan TNI Angkatan Udara (AU) dan TNI Angkatan Darat (AD) berperan penting dalam mempercepat proses pemulihan kelistrikan di Aceh.

“Kami mengapresiasi dukungan TNI yang memperkuat upaya pemulihan ini. Kolaborasi lintas instansi menjadi faktor penting untuk mempercepat perbaikan jaringan transmisi yang mengalami kerusakan,” ujar Darmawan.

Ia menjelaskan, bencana banjir dan longsor menyebabkan kerusakan infrastruktur yang cukup parah, termasuk terputusnya sejumlah akses jalan utama. Kondisi tersebut membuat beberapa wilayah terdampak sulit dijangkau melalui jalur darat.

 

Uji Coba Jembatan Bailey Teupin Reudep

Sementara itu pembangunan jembatan bailey Teupin Reudep di Kabupaten Bireuen, Aceh, terus dikebut.

Rencananya jembatan ini bisa mulai diuji coba pada Jumat (19/12/2025) hari ini.

Jalur ini sangat krusial karena merupakan jalan alternatif yang menghubungkan Bireuen dan Lhokseumawe.

“Jembatan bailey Teupin Reudeup yang juga sangat krusial, ini jalur alternatif Bireuen-Lhokseumawe. Ini sudah tahap finalisasi,” ujar Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BNPB Abdul Muhari dalam konferensi pers di Aceh, Kamis (18/12/2025) sore.

Abdul mengatakan jika jembatan Teupin Reudep ini rampung dan bisa dilintasi kendaraan, upaya pemulihan pascabencana bisa lebih optimal.

Distribusi logistik hingga perbaikan infrastruktur fisik lainnya akan berlangsung signifikan.

“Kalau jembatan Teupin Reudeup ini, di Awe Geutah ini juga bisa terhubung, tentu saja upaya-upaya kita dalam mengoptimalkan proses pemulihan di sektor fisik ini akan lebih signifikan lagi,” tutur Abdul.

Sementara itu, proses pembangunan Jembatan Kutablang yang merupakan jalur utama Bireuen-Lhokseumawe sudah mencapai 60 persen.

Kemudian, jembatan Jeumpa yang ada di ruas jalan Kota Bireuen pengerjaannya sudah 80 persen.

“Untuk jalur utamanya saat ini sudah 60 persen. Dan ini juga kita harapkan bisa segera tersambung satu segmen jembatan bailey untuk menggantikan jembatan utama yang terputus akibat banjir,” jelasnya.

 

Lahan Lokasi Huntara

Bersamaan dengan itu, pemerintah juga sudah memulai pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak bencana di Aceh.

Pemerintah daerah setempat telah mengusulkan lahan di beberapa titik  untuk jadi lokasi huntara, salah satunya di Kabupaten Nagan Raya.

“Ini bersama pemerintah daerah, tim BNPB saat ini sedang melakukan pengecekan kesesuaian lahan. Sekali lagi, tentu saja untuk hunian sementara ini dan hunian tetap nantinya kita perlu benar-benar memastikan bahwa lokasi ini aman dari potensi bencana serupa di masa depan,” ucap Abdul.

Sementara di Sumatera Barat, pembangunan huntara telah dimulai di 5 kabupaten/kota.

Selama proses pembangunan huntara, pemerintah memberikan bantuan berupa Dana Tunggu Hunian (DTH) bagi warga.

Besaran bantuan yang disiapkan yaitu Rp600 ribu per bulan per Kepala Keluarga (KK).

Namun, Abdul menekankan kecepatan penyaluran bantuan ini sangat bergantung pada pemerintah daerah setempat.

Data penerima harus diverifikasi dan ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) oleh masing-masing kepala daerah.

“Untuk pembangunan huntara di Sumatera Barat ini memang berprogres lebih cepat. Ini seluruhnya sudah memulai proses pembangunan yang saat ini dengan pematangan lahan. Ini BNPB bersama TNI akan segera melaksanakan pembangunan ini,” ucapnya.

 

1.068 Korban Meninggal

Data terbaru korban banjir yang terjadi di Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara pada akhir November lalu per 19 Desember 2025 sekitar 1.068 orang meninggal dunia.

Korban hilang sekitar 190 orang

Dilaporkan lebih dari 7.000 orang mengalami luka.

Angka terus diperbarui karena tim SAR masih melakukan pencarian dan pendataan di beberapa wilayah yang sulit dijangkau.

Selain korban jiwa, ratusan ribu rumah rusak, jutaan orang terdampak atau mengungsi, serta infrastruktur publik turut hancur/rusak akibat bencana ini.

 

Sumber: Takbir Bergema di Ruang Pemantauan saat Sistem Kelistrikan di Aceh Kembali Pulih – TribunNews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *