Sepinya Jalur Pantura Jelang Lebaran Buat Pedagang dari Untung Jadi Buntung, Cari Rp 100 Ribu Sulit

Peristiwa

Indonesia Menyapa, Jakarta — Jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa yang dulu identik dengan kepadatan kendaraan saat musim mudik Lebaran, kini perlahan kehilangan pamornya.

Jalan yang membentang dari pesisir utara Jawa Barat hingga Jawa Timur itu pernah menjadi urat nadi perjalanan para pemudik dari Jakarta menuju berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, suasana di sejumlah ruas Pantura justru terlihat lebih lengang dibandingkan masa kejayaannya.

Apalagi sejak Tol Trans Jawa hadir dengan menawarkan waktu tempuh yang lebih singkat, fasilitas yang lebih lengkap, serta kondisi jalan yang relatif lebih mulus membuat tol menjadi pilihan utama bagi para pengendara kendaraan pribadi.

Akibatnya, jalur Pantura yang dulu dipadati bus antarkota, truk logistik, hingga sepeda motor para pemudik kini terasa berbeda.

Pada hari-hari menjelang Lebaran yang dahulu identik dengan antrean kendaraan panjang, kini hanya terlihat lalu lintas yang relatif normal, bahkan cenderung sepi di beberapa titik.

Tribun sempat menyusuri jalur Pantura di Tegal, Jawa Tengah tepatnya di Jalan Yos Sudarso arah ke Stasiun.

Situasinya masih sepi pemudik delapan hari jelang Lebaran.

Padahal kata Sobari seorang warga yang ditemui menyebut biasanya saat ini sudah mulai ramai hilir mudik pemudik yang hendak pulang ke kampung halamannya masing-masing.

“Biasanya ramai mas sekarang pada mampir ke warung saya untuk istirahat ngopi-ngopi,” kata Sobari saat ditemui Rabu(11/3/2026) malam.

Kehadiran jalan Tol Trans Jawa lanjut Sobari menjadi satu penyebabnya mengapa kini Jalur Pantura Non Tol menjadi sepi.

“Ya sejak ada tol itu mas sepi sekarang,” ujarnya.

Karyati seorang penjual nasi rames di pinggir jalan Pantura Tegal juga menceritakan hal serupa.

Kata dia, dulu pada tahun 2014 sebelum Tol Trans Jawa rampung dibangun para pemudik khususnya pengendara sepeda motor ramai datang.

Mereka hendak makan atau beristirahat sembari menyeruput kopi hitam.

Karyati yang sudah ditinggal pergi untuk selamanya oleh suaminya juga mengaku pendapatannya kala itu bisa tembus Rp 1 juta per hari dengan menjajakan makanan nasi rames dengan lauk ikan, ayam dan sayur asem serta sayur tumisan.

“Sekarang cari Rp 100 ribu saja susah mas,” ujarnya.

Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) DKI Jakarta-Jawa Barat, Ditjen Bina Marga, Kementerian PU, Rina Kumala Sari ST MT mengatakan salah satu alasan mengapa Jalur Pantura kini tidak menjadi favorit karena banyaknya kendaraan besar dan berat seperti truk yang melintas.

Tidak hanya itu, akibat truk-truk dengan bawaan beban yang besar membuat banyak jalan berlubang dan rusak.

Ditambah lagi cuaca ekstrem yang sering terjadi belakangan ini.

Rina juga menjelaskan bahwa sudah teridentifikasi 7.400 jalan berlubang di wilayah Balai Besar Jalan Nasional DKI Jakarta-Jawa Barat.

Separuhnya atau berjumlah sekitar 3.200 ada di Jalur Pantai Utara(Pantura).

Namun, kini pihaknya sudah menargetkan zero jalan berlubang di Jalur Pantura.

“Jadi dari 3 ribu itu separuhnya ada di Karawang Cikampek. Dan dari lima PPK di Pantura alhamdulillah sekarang targetnya sudah zero lubang. Alhamdulillah sekarang tinggal 131 lubang lagi yang belum,” kata dia.

 

Sumber: Sepinya Jalur Pantura Jelang Lebaran Buat Pedagang dari Untung Jadi Buntung, Cari Rp 100 Ribu Sulit – TribunNews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *