Operasi SAR Pesawat ATR 42-500 Ditutup: Semua Korban Ditemukan, Identifikasi Masih Berlangsung

Peristiwa

Indonesia Menyapa, Jakarta — Seluruh korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 telah ditemukan oleh Tim SAR Gabungan di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Insiden kecelakaan pesawat ATR milik Indonesia Air Transport ini, menambah catatan kasus kecelakaan transportasi udara di Indonesia.

Setidaknya, empat pesawat mengalami insiden kecelakaan di sejumlah wilayah setahun terakhir, sejak Januari 2025. Seperti Helikopter BK117-D3 milik operator Eastindo yang hilang kontak di wilayah Tanah Bumbu (Tanbu), Kalimantan Selatan (Kalsel) pada Senin, 1 September 2025.

Terbaru, pesawat ATR 42-500 yang mengangkut 10 orang jatuh di lereng Bulusaraung pada Sabtu (17/1/2026). Bulusaraung adalah bagian dari kawasan karst Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul) di Sulsel, dengan ketinggian ±1.353 mdpl.

Semua korban yang terdiri dari 7 kru dan 3 penumpang itu, berhasil ditemukan. Tiga di antaranya berhasil diidentifikasi, sedangkan body part atau potongan tubuh lainnya masih dalam proses identifikasi.

Dengan ditemukannya seluruh korban, proses operasi SAR telah resmi ditutup pada Jumat (23/1/2026) malam.

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) RI, Marsekal Muda Mohammad Syafii, mengatakan penutupan operasi dilakukan setelah evaluasi menyeluruh pada hari ketujuh pelaksanaan Operasi SAR.

“Sesuai komitmen kami, pada hari ketujuh dilakukan evaluasi menyeluruh. Setelah dikonfirmasi kepada seluruh unsur yang terlibat, maka pada malam ini operasi pencarian dan evakuasi pesawat ATR 42-500 kami nyatakan selesai,” katanya dalam konferensi pers di Kantor Basarnas Makassar, dilansir Tribun-Timur.com.

 

Proses Evakuasi

Dalam proses evakuasi, Syafii menjelaskan, pencarian dilakukan dengan membagi kekuatan ke dalam dua unsur utama, yakni unsur udara dan unsur darat, dengan dukungan unsur laut.

Selama tujuh hari operasi, Basarnas bersama TNI mengerahkan pesawat dan helikopter yang melaksanakan sedikitnya 21 kali penerbangan untuk proses pencarian.

Pada unsur darat, operasi SAR juga melibatkan personel lintas instansi dari tiga matra TNI serta unsur kepolisian.

“Kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya atas dukungan TNI, baik darat, laut, maupun udara, serta seluruh pihak yang terlibat dalam operasi kemanusiaan ini,” imbuhnya.

 

Cuaca Jadi Kendala Utama Evakuasi

Sementara itu, kondisi cuaca menjadi tantangan utama selama pelaksanaan operasi SAR.

Pada hari pertama, cuaca buruk menghambat proses pencarian korban.

Menurut Syafii, korban pertama baru ditemukan pada hari kedua pencarian, disusul korban kedua hari ketiga.

Meski begitu, Syafii mengatakan, proses evakuasi baru dapat dilakukan tiga hari setelah penemuan akibat cuaca ekstrem.

Sebelumnya, sempat dilakukan upaya modifikasi cuaca. Namun, modifikasi cuaca disebut hanya mampu menurunkan intensitas hujan sekitar 30 persen per hari, sehingga operasi udara masih sangat terbatas.

“Baru pada hari ketujuh, cuaca cukup baik dan operasi dapat dilakukan secara optimal,” jelas alumnus Akademi Angkatan Udara tahun 1991 itu.

 

Total 11 Paket Kantung Jenazah Diserahkan

Tim SAR telah menyerahkan total 11 paket (kantung jenazah) secara bertahap kepada Tim DVI Polri hingga operasi SAR hari ketujuh, Jumat kemarin.

Dari sebanyak 11 kantung jenazah, tiga di antaranya telah teridentifikasi, yakni Deden Maulana (Pegawai KKP), Florencia Lolita Wibisono (Pramugari), dan Esther Aprilita (Pramugari).

Sementara itu, tujuh korban lainnya masih dalam proses identifikasi. Tujuh korban tersebut, terdiri dari lima kru pesawat ATR 42-500 PK-THT milik maskapai Indonesia Air Transport (IAT) dan dua pegawai Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

 

Puing Pesawat Tidak Memungkinkan Semua Dievakuasi

Sementara itu, terkait puing-puing pesawat yang masih tersisa di Bulusaraung, tak mungkin semua dievakuasi. Mengingat kondisi medan terjal dan cuaca ekstrem.

Namun, Kepala Basarnas menyatakan, pihaknya siap membantu jika KNKT memerlukan bantuan untuk masuk ke lokasi kecelakaan pesawat.

Sejauh ini, selain korban jiwa, bukti black box dan beberapa komponen telah ditemukan.

“Teman-teman KNKT sudah menyampaikan bahwa dengan bukti black box yang sudah ditemukan (Tim SAR Gabungan) dan juga beberapa komponen pesawat yang sudah kita serahterimakan sementara sudah cukup,” ungkapnya.

“Cukup dari bukti-bukti itu untuk ditindaklanjuti, untuk dilakukan investigasi,” lanjut Syafii.

Black box atau kotak hitam pesawat adalah perangkat vital berisi Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR) yang merekam data teknis dan percakapan kokpit untuk investigasi kecelakaan.

Adapun fungsi kotak hitam adalah merekam semua parameter penerbangan (kecepatan, ketinggian, bahan bakar) dan dialog pilot, untuk dianalisis penyebab kecelakaan.

Diketahui, Pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT dilaporkan hilang kontak di wilayah Sulsel, pada Sabtu (17/1/2025) siang.

Pesawat itu, lepas landas dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta Sabtu pagi menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.

Namun, pesawat ATR 42-500 mengalami insiden di lereng Gunung Bulusaraung. Semua korban ditemukan dalam kondisi meninggal

 

Sumber: Operasi SAR Pesawat ATR 42-500 Ditutup: Semua Korban Ditemukan, Identifikasi Masih Berlangsung – TribunNews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *