Indonesia Menyapa, Jakarta — Dunia saat ini tidak sekadar mengalami fragmentasi, tetapi telah memasuki fase ketegangan geopolitik yang semakin intens dan berpotensi sistemik. Rivalitas antarnegara besar, konflik bersenjata terbuka, serta disrupsi jalur perdagangan strategis telah membentuk lanskap global yang jauh lebih tidak stabil dibandingkan satu dekade terakhir.
Perang Rusia–Ukraina yang belum sepenuhnya mereda, eskalasi konflik di Timur Tengah, serta rivalitas geopolitik antara Amerika Serikat dan Tiongkok, telah mendorong dunia menuju konfigurasi kekuatan yang semakin terbelah dan sulit diprediksi.
Menurut Wang et al. (2024), keterkaitan antara dinamika geopolitik dan keamanan energi semakin menguat dalam beberapa dekade terakhir yang ditandai dengan meningkatnya perhatian global terhadap bagaimana konflik dan ketegangan internasional memengaruhi stabilitas pasokan energi. Hal tersebut diperkuat oleh temuan Yilmazkuday (2024) yang menunjukkan bahwa peningkatan risiko geopolitik secara signifikan mendorong ketidakpastian energi global, yang pada akhirnya berdampak pada fluktuasi harga energi dan stabilitas ekonomi di berbagai negara.
Selain itu, laporan International Energy Agency (IEA) tahun 2025 menegaskan bahwa energi kini semakin berada di pusat ketegangan geopolitik global, sehingga menjadikannya faktor strategis dalam menentukan arah kebijakan ekonomi dan hubungan internasional.
Polarisasi Geopolitik Global
Polarisasi global kini berkembang melampaui sekadar perbedaan ideologi menuju perebutan pengaruh ekonomi, teknologi, dan kontrol atas sumber daya strategis, terutama energi. Konflik Rusia–Ukraina telah memperdalam jurang antara blok Barat dan Rusia, sementara negara-negara seperti Tiongkok dan India mengambil posisi yang lebih fleksibel demi menjaga kepentingan energi dan ekonominya.
Namun, perkembangan paling signifikan terjadi di Timur Tengah pada 2026 ini. Kawasan ini kembali menjadi pusat krisis global setelah pecahnya konflik berskala besar yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan sekutunya. Salah satu dampak paling krusial adalah terganggunya Selat Hormuz, sebuah jalur perdagangan vital yang sebelumnya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Sejak akhir Februari 2026, jalur ini mengalami gangguan ekstrem hingga nyaris terhenti, dengan lebih dari 90% aktivitas pengiriman energi global terdampak.
Gangguan tersebut tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga diperparah oleh meningkatnya risiko keamanan maritim, termasuk serangan drone, rudal, serta praktik manipulasi sistem navigasi kapal. Akibatnya, biaya logistik energi melonjak drastis, sementara premi risiko pengiriman meningkat tajam. Dalam beberapa kasus, negara tertentu bahkan mulai membatasi akses jalur energi hanya untuk mitra geopolitik tertentu, mempertegas fragmentasi global.
Dampak Krisis Energi Global
Krisis energi yang terjadi saat ini merupakan kombinasi dari gangguan pasokan ekstrem dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Penutupan atau pembatasan jalur distribusi energi utama telah menyebabkan lonjakan harga minyak yang menembus di atas USD 100 per barel, bahkan sempat mencapai lebih dari USD 120 dalam beberapa periode konflik.
Lebih jauh lagi, dampak krisis ini tidak terbatas pada sektor energi. Gangguan pasokan gas, pupuk, hingga helium menunjukkan bahwa krisis energi telah menjalar ke sektor industri dan pangan global. Hal ini meningkatkan risiko inflasi global, memperlemah pertumbuhan ekonomi, dan bahkan membuka potensi stagflasi di berbagai negara.
Negara berkembang menjadi kelompok yang paling rentan karena ketergantungan yang tinggi terhadap impor energi. Kenaikan harga energi mendorong lonjakan biaya produksi, meningkatkan harga barang dan jasa, serta menekan daya beli masyarakat. Dalam beberapa kasus, kondisi ini berpotensi memicu instabilitas sosial dan politik.
Namun demikian, krisis ini juga memicu percepatan transisi energi global. Negara-negara mulai menyadari pentingnya diversifikasi energi, efisiensi konsumsi, serta pengembangan energi terbarukan sebagai strategi jangka panjang untuk mengurangi kerentanan terhadap gejolak geopolitik.
Posisi Indonesia di Tengah Krisis
Indonesia berada dalam posisi yang dilematis. Di satu sisi, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya energi seperti batu bara dan nikel yang memberikan peluang strategis di tengah krisis global. Di sisi lain, ketergantungan terhadap impor minyak masih menjadi titik lemah utama.
Lonjakan harga minyak global secara langsung meningkatkan tekanan terhadap anggaran negara, terutama melalui subsidi energi. Selain itu, gangguan jalur distribusi global, seperti yang terjadi di Selat Hormuz, menjadi ancaman nyata terhadap ketahanan energi nasional, mengingat sebagian besar impor energi Indonesia masih bergantung pada jalur tersebut.
Meski demikian, situasi ini juga membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam rantai pasok energi global, khususnya melalui hilirisasi nikel untuk industri baterai kendaraan listrik. Upaya pemerintah dalam mendorong hilirisasi dan pengembangan energi terbarukan menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Menakar Strategi Indonesia Menghadapi Krisis
Dalam menghadapi dinamika global yang semakin tidak stabil, Indonesia perlu mengadopsi strategi yang lebih adaptif dan terintegrasi. Diversifikasi sumber energi menjadi langkah kunci untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak. Penguatan infrastruktur energi, termasuk pembangunan kilang dan jaringan distribusi, juga menjadi prioritas penting.
Di sisi lain, percepatan transisi menuju energi terbarukan harus dilakukan secara konsisten. Pengembangan energi surya, panas bumi, bioenergi, serta teknologi penyimpanan energi akan menjadi fondasi penting dalam membangun sistem energi yang lebih resilien.
Diplomasi energi juga menjadi instrumen strategis yang tidak dapat diabaikan. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, kemampuan Indonesia untuk menjaga akses terhadap sumber energi global melalui kerja sama internasional akan sangat menentukan stabilitas energi nasional.
Selain itu, reformasi subsidi energi perlu dilakukan secara lebih tepat sasaran agar tidak membebani fiskal secara berlebihan. Pendekatan ini harus diiringi dengan upaya peningkatan efisiensi energi serta perubahan perilaku konsumsi masyarakat.
Penguatan industri berbasis mineral strategis, khususnya nikel, juga harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir agar memberikan nilai tambah maksimal bagi perekonomian nasional.
Ringkasnya, dalam dunia yang semakin terpolarisasi, energi telah menjadi pusat dari dinamika geopolitik global. Ancaman krisis energi yang terjadi saat ini bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut stabilitas politik, keamanan nasional, dan kedaulatan negara.
Bagi Indonesia, kondisi tersebut merupakan ujian sekaligus peluang. Dengan kebijakan yang tepat, penguatan ketahanan energi, serta pemanfaatan sumber daya yang dimiliki, Indonesia tidak hanya dapat bertahan dari krisis energi global, tetapi juga berpotensi menjadi aktor penting dalam tatanan energi dunia yang baru.
Indrawan Susanto. Pegawai di Direktorat Kerja Sama Multilateral dan Keuangan Berkelanjutan, Kemenkeu RI.
Sumber: Membaca Kondisi Energi Global di tengah Dunia yang Terpolarisasi

