Indonesia Menyapa, Jakarta — Sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan dikabarkan mampir di atmosfer ibu kota. Bagaimana kualitas udara di Jakarta memburuk di tengah terdeteksinya asap?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan sudah memasuki atmosfer Jakarta pada Jumat (16/10/2026) pagi.
BMKG mengimbau masyarakat mengantisipasi potensi paparan polutan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.
Kualitas Udara Jakarta Sabtu 17 Oktober 2026 Pagi Ini

Berdasarkan pemantauan IQAir yang tersedia pada Sabtu (17/10/2026) pukul 01.00 WIB, kualitas udara Jakarta mencatat indeks AQI US sebesar 162 atau kategori tidak sehat. Konsentrasi PM2.5 tercatat mencapai 71 mikrogram per meter kubik (µg/m⊃3;).
Sementara itu, data stasiun pemantauan BMKG Kemayoran yang diperbarui pada pukul 02.00 WIB menunjukkan konsentrasi PM2.5 sebesar 51,1 µg/m⊃3; dengan nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) 99 atau kategori sedang.
Perbedaan angka tersebut perlu diperhatikan karena berasal dari platform dan waktu pengukuran yang berbeda. Data itu juga belum mewakili seluruh wilayah Jakarta, sehingga kondisi kualitas udara dapat berbeda antarlokasi.
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa terdeteksinya asap di atmosfer tidak secara langsung menunjukkan tingkat konsentrasi polutan di permukaan yang dihirup masyarakat.
Hal itu disampaikan Guswanto saat dihubungi Tribunnews.com, Jumat (16/10/2026).
Menurutnya, keberadaan asap di atmosfer perlu dibedakan dari hasil pengukuran kualitas udara di permukaan. Dampaknya terhadap kesehatan masyarakat perlu dinilai berdasarkan data pemantauan kualitas udara, termasuk konsentrasi partikel halus PM2.5.
Berdasarkan pemantauan citra satelit Himawari-9 pada Jumat pukul 08.00 WIB, indikasi sebaran asap karhutla teridentifikasi di sebagian wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.
Ketua Tim Analisis dan Pengelolaan Citra Satelit dan Deteksi Petir BMKG, Alpon Sepriando, mengatakan asap tersebut belum terindikasi mencapai permukaan tanah.
“Secara area sudah (sampai ke Jakarta), namun secara vertikal belum mencapai permukaan. Namun jika kondisi angin melemah dapat mencapai permukaan dan masih tipis,” ujar Alpon.
Pola angin di lapisan atmosfer bawah yang bertiup dari timur hingga tenggara menuju barat hingga barat laut memungkinkan asap bergerak dari Kalimantan menuju Pulau Jawa. Sementara itu, angin di lapisan atmosfer menengah hingga atas cenderung bertiup dari timur laut menuju barat daya.
Perbedaan arah angin pada berbagai lapisan atmosfer tersebut memungkinkan terjadinya transportasi asap menuju Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten.
Meski demikian, belum dapat dipastikan kapan dan sejauh mana asap karhutla akan memengaruhi kualitas udara di permukaan Jakarta.
Kualitas udara ibu kota juga dipengaruhi berbagai sumber emisi lokal, seperti kendaraan bermotor, aktivitas industri, pembakaran, dan kegiatan lainnya. Karena itu, memburuknya kualitas udara tidak dapat langsung dikaitkan dengan asap karhutla tanpa analisis tambahan.
Warga Disarankan Gunakan Masker

BMKG mengimbau masyarakat memantau kualitas udara secara berkala melalui informasi resmi dari BMKG, Dinas Lingkungan Hidup, maupun layanan pemantauan kualitas udara.
Apabila kualitas udara memburuk, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama olahraga outdoor yang membutuhkan aktivitas fisik berat seperti berlari dan bersepeda.
Bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker respirator seperti N95, KN95, atau KF94 dapat membantu menyaring partikel halus apabila digunakan dengan benar dan terpasang rapat.
“Masker yang paling disarankan adalah KN95, KF94, atau N95 karena lebih efektif menyaring partikel halus asap dibanding masker kain biasa,” ujar Guswanto.
Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada kelompok rentan, termasuk anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), penyakit jantung, dan gangguan pernapasan lainnya.
Untuk mengurangi masuknya asap ke dalam rumah, masyarakat dapat menutup pintu dan jendela ketika udara di luar berasap. Penggunaan alat penyaring udara atau air purifier juga dapat dipertimbangkan jika tersedia.
Masyarakat turut diimbau menghindari pembakaran sampah dan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor apabila memungkinkan.
Paparan PM2.5 dapat mengganggu kesehatan, terutama ketika konsentrasinya tinggi. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk berkepanjangan, mata perih atau merah, sakit tenggorokan, dan sesak napas. Apabila keluhan berlanjut, masyarakat disarankan mencari pertolongan medis.
Pemprov DKI Siagakan Fasilitas Kesehatan
Memburuknya kualitas udara Jakarta juga mendapat perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Mengutip TribunJakarta (Tribunnews.com Network), Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui kondisi udara ibu kota memburuk dalam dua hingga tiga hari terakhir pada Jumat (16/10/2026). Namun, ia tidak ingin berspekulasi mengenai penyebabnya.
Sebagai langkah antisipasi, Pramono menginstruksikan Dinas Kesehatan DKI Jakarta untuk meningkatkan kesiapsiagaan fasilitas pelayanan kesehatan.
Sebanyak 31 rumah sakit, 44 puskesmas, dan 292 puskesmas pembantu disiagakan untuk menangani warga yang mengalami gangguan kesehatan terkait kondisi udara dan cuaca.
Dengan terdeteksinya asap karhutla di atmosfer Jakarta dan adanya pengukuran PM2.5 yang menunjukkan konsentrasi cukup tinggi di sejumlah pemantauan, perkembangan kualitas udara perlu terus diperhatikan.
Namun, hubungan langsung antara asap karhutla dari Kalimantan dan peningkatan polusi di permukaan Jakarta masih memerlukan pembuktian melalui pengamatan atmosfer serta pengukuran polutan secara berkelanjutan.
Sumber: Kualitas Udara Jakarta Pagi Ini Usai Kabar Asap Karhutla Kalimantan ‘Mampir’ di Ibu Kota

