Indonesia Menyapa, Jakarta — Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian serius karena dapat memicu berbagai gangguan kesehatan.
Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin meminta kelompok rentan, mulai dari bayi, balita, lanjut usia (lansia), hingga ibu hamil, untuk menghindari aktivitas di luar rumah selama kondisi tersebut masih berlangsung.
Imbauan ini disampaikan sebagai langkah pencegahan untuk meminimalkan paparan asap yang dapat berdampak pada saluran pernapasan, mata, dan kulit.
Masyarakat juga diminta lebih waspada terhadap gejala kesehatan yang muncul serta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami keluhan setelah terpapar kabut asap.
Karhutla merupakan peristiwa kebakaran yang terjadi di kawasan hutan dan lahan, baik yang dipicu oleh faktor alam maupun aktivitas manusia.
Kebakaran tersebut dapat menghasilkan asap yang mengandung partikel halus dan berbagai zat pencemar.
Ketika asap menyebar ke permukiman, masyarakat dapat terpapar melalui udara yang dihirup sehari-hari.
Sehingga upaya pencegahan perlu dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, Kementerian Kesehatan terus melakukan langkah perlindungan kesehatan bagi masyarakat di daerah terdampak.
Kemenkes terus berupaya memastikan masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang dibutuhkan, termasuk melalui penyediaan obat-obatan di puskesmas.
Saat memberikan keterangan kepada media di Kementerian Dalam Negeri pada Kamis (15/10/2026), Budi menekankan pentingnya mengutamakan keselamatan kelompok rentan dengan menghindari paparan asap secara langsung.
“Pesan saya, terutama untuk kelompok rentan, jangan keluar rumah. Kalau terpaksa keluar, sebisa mungkin biarkan anggota keluarga yang tidak rentan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Menkes, dikutip dari kemkes.go.id.
Imbauan tersebut menjadi perhatian penting bagi keluarga yang tinggal di wilayah terdampak kabut asap.
Apabila kebutuhan rumah tangga mengharuskan seseorang keluar, anggota keluarga yang tidak termasuk kelompok rentan dapat diprioritaskan untuk menjalankan keperluan tersebut.
Dengan begitu, bayi, balita, lansia, dan ibu hamil dapat mengurangi paparan asap selama kondisi belum membaik.
Dampak Kabut Asap terhadap Kesehatan
Paparan asap karhutla tidak hanya berpotensi mengganggu pernapasan, tetapi juga dapat menimbulkan keluhan pada mata dan kulit.
Partikel halus yang terbawa udara dapat masuk ke saluran pernapasan.
Sedangkan paparan langsung dapat memicu iritasi pada bagian tubuh yang sensitif.
Kelompok rentan perlu mendapat perhatian lebih karena kondisi tubuh dan kebutuhan kesehatannya berbeda-beda.
Bayi dan balita masih berada dalam tahap pertumbuhan, sementara lansia dapat memiliki kemampuan tubuh yang lebih terbatas dalam menghadapi gangguan kesehatan.
Ibu hamil juga perlu menjaga kondisi tubuh dan mengurangi paparan lingkungan yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Menkes mengingatkan masyarakat agar menggunakan perlindungan yang sesuai apabila terpaksa beraktivitas di luar rumah.
Masker jenis respirator, seperti N95, dianjurkan jika tersedia karena dirancang untuk membantu menyaring partikel halus di udara.
Penggunaannya perlu disertai pemasangan yang rapat agar perlindungan lebih optimal.
Selain masker, masyarakat dapat menggunakan kacamata untuk membantu melindungi mata dari paparan asap serta pakaian berlengan panjang untuk mengurangi kontak langsung partikel dengan kulit.
Meski demikian, perlindungan tersebut tidak menggantikan anjuran untuk membatasi kegiatan di luar ruangan ketika kabut asap masih pekat.
Setelah kembali ke rumah, masyarakat juga disarankan membersihkan diri dan mengganti pakaian yang digunakan selama berada di luar.
Langkah ini dapat membantu mengurangi sisa partikel yang menempel pada tubuh maupun pakaian.
Jangan Abaikan Batuk dan Iritasi saat Kabut Asap
Keluhan kesehatan selama kabut asap berlangsung sebaiknya tidak dianggap sepele.
Batuk, iritasi mata, serta kulit yang terasa gatal atau mengalami iritasi berkepanjangan merupakan gejala yang perlu diperhatikan, terutama apabila muncul setelah seseorang terpapar asap.
Menkes meminta masyarakat segera mencari pertolongan medis ketika mulai mengalami gejala, tanpa menunggu kondisi menjadi lebih parah.
“Jangan menunggu sampai batuk darah. Kalau mulai batuk, mata mengalami iritasi, atau kulit terus-menerus gatal dan iritasi, segera periksa ke puskesmas terdekat,” tegas Menkes.
Pesan tersebut menekankan pentingnya mengenali tanda gangguan kesehatan sejak awal.
Pemeriksaan ke fasilitas kesehatan dapat membantu tenaga medis menilai keluhan dan menentukan penanganan yang sesuai dengan kondisi pasien.
Kemenkes juga memastikan ketersediaan suplai obat-obatan di puskesmas wilayah terdampak untuk mendukung penanganan gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Masyarakat diharapkan memanfaatkan layanan kesehatan apabila mengalami keluhan, terutama jika gejala tidak membaik atau semakin berat.
Cara Melindungi Diri dari Paparan Asap Karhutla
Selain mengikuti imbauan untuk membatasi aktivitas di luar rumah, masyarakat dapat menerapkan sejumlah langkah pencegahan selama kabut asap masih berlangsung.
Mengutip dari Instagram @kemenkes_ri, berikut sejumlah langkah pencegahan selama kabut asap:
1. Gunakan masker yang sesuai
Apabila harus keluar rumah, gunakan respirator seperti N95 atau KN95 jika tersedia.
Pastikan masker terpasang rapat di wajah agar dapat membantu menyaring partikel halus.
Masker kain biasa tidak memberikan tingkat perlindungan yang setara terhadap partikel halus.
2. Kurangi kegiatan di luar ruangan
Tunda kegiatan yang tidak mendesak, khususnya bagi bayi, balita, lansia, dan ibu hamil.
Jika ada keperluan penting, usahakan anggota keluarga yang tidak rentan untuk melakukannya dengan tetap memperhatikan keselamatan.
3. Jaga kualitas udara di dalam rumah
Tutup pintu dan jendela ketika asap masuk ke lingkungan tempat tinggal.
Jika memungkinkan, gunakan penyaring udara yang sesuai dan hindari aktivitas yang menghasilkan asap tambahan di dalam rumah, seperti merokok atau membakar sampah.
4. Penuhi kebutuhan cairan tubuh
Minum air putih yang cukup untuk membantu menjaga kebutuhan cairan tubuh.
Namun, perlu dipahami bahwa minum air tidak menghilangkan dampak paparan asap.
Sehingga langkah ini tetap harus disertai upaya mengurangi paparan.
5. Pantau informasi kualitas udara
Ikuti perkembangan kualitas udara dan imbauan dari otoritas setempat.
Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk menentukan apakah aktivitas luar ruangan perlu dibatasi lebih lanjut.
Kemenkes Ingatkan Pentingnya Pencegahan
Selama kabut asap akibat karhutla masih berlangsung, perlindungan kesehatan perlu menjadi perhatian bersama.
Membatasi aktivitas di luar rumah, terutama bagi kelompok rentan, merupakan salah satu langkah untuk mengurangi paparan asap.
Apabila harus bepergian, penggunaan pelindung yang sesuai dan upaya menjaga kebersihan setelah kembali ke rumah perlu diperhatikan.
Masyarakat juga diimbau tidak menunda pemeriksaan ketika mengalami batuk, iritasi mata, atau keluhan kulit yang berkepanjangan.
Dengan mengenali gejala sejak dini dan memanfaatkan layanan puskesmas, gangguan kesehatan dapat memperoleh penanganan yang sesuai.
Upaya perlindungan tersebut perlu dilakukan bersamaan dengan pemantauan kondisi udara dan perkembangan kabut asap di masing-masing wilayah.
Selama kualitas udara belum membaik, mengurangi paparan tetap menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan diri sendiri dan keluarga.
Sumber: Kabut Asap Berisiko Ganggu Kesehatan, Menkes Imbau Kelompok Rentan Hindari Keluar Rumah

