Indonesia Menyapa, Jakarta — YouTuber Denny Sumargo alias Densu mendatangkan mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Video tersebut tayang pada Rabu (7/1/2026).
Podcast berdurasi satu jam tersebut menuai kontroversi.
Pasalnya pasca-diunggah di platform YouTube, video tersebut sempat menghilang alias takedown.
Bahkan video tersebut baru tayang selama 19 menit di YouTube.
Selang empat jam video tersebut di-takedown, kanal CURHAT BANG Denny Sumargo kembali mengunggah video tersebut.
Hingga kini belum ada penjelasan video tersebut sengaja di-takedown oleh pihak Densu atau kena takedown pihak YouTube.
Namun pada unggahan terbaru, tim Densu menggunakan kalimat ‘Video ini Hilang dari Beranda. Ahok Bongkar Semuanya di Sini. Nonton Sebelum di-Takedown Lagi’ sebagai judul.
Hal itu mengisyaratkan tak ada unsur kesengajaan atas hilangnya podcast Densu bareng Ahok.
Secara singkat, podcast Densu bersama Ahok membicarakan tentang pengalaman sang politisi menghadapi proses hukum, kriminalisasi politik, hingga dinamika kekuasaan.
Beberapa hal yang disentil oleh Ahok di antaranya penolakan Pilkada lewat DPR, transparansi anggaran kampanye.
Mantan suami Veronica Tan tersebut juga menyentil fenomena penegakan hukum yang terkesan tebang pilih atau disesuaikan dengan target tertentu.
Hal itu dia rasakan saat MK menggonta-ganti peraturan saat Ahok ingin mencalonkan diri sebagai Gubernur.
Selain itu, pria yang baru saja dikaruniai anak ketiga dari Puput Nastiti Devi itu juga menyinggung Undang-Undang Perampasan Aset yang bisa menjadi pisau bermata dua untuk masyarakat.
Ahok juga membela kebijakan Nadiem Makarim soal Chromebook.
Pria berusia 59 tahun itu membicarakan juga isu lingkungan terkait bisnis tambang, banjir dan reklamasi Jakarta hingga kehidupan pribadinya sebagai anggota aktif di PDIP.
Profil Ahok
Ahok memiliki nama asli Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M.
Namun, Ahok juga kerap dipanggil dengan sebutan BTP.
Ahok adalah pengusaha dan politikus keturunan Tionghoa-Indonesia yang pernah menjabat Komisaris Utama PT Pertamina.
Ahok juga merupakan politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang terdaftar sebagai anggota sejak 8 Februari 2019 lalu.
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok lahir di Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Bangka Belitung, pada 29 Juni 1966.
Ahok adalah anak Indra Tjahaja Purnama (Tjoeng Kiem Nam) dan Buniarti Ningsing (Boen Nen Tjauw).
Mantan Komisaris Utama Pertamina ini merupakan anak pertama dari empat bersaudara.
Ia memiliki tiga saudara yang bernama Basuri Tjahaja Purnama, Fifi Lety, dan Harry Basuki.
Ahok kecil menghabiskan masa anak-anak di kampung halamannya di Desa Gantung, di mana lokasi tersebut merupakan lokasi syuting film Laskar Pelangi, dilansir Tribunnewswiki.
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok diketahui pernah menikah 2 kali.
Pertama Ahok menikah dengan Veronica Tan.
Ahok dan Veronica Tan dikaruniai tiga orang anak bernama Nicholas Sean, Nathania, dan Daud Albeenner.
Namun, pernikahan Ahok dan Veronica Tan tidak berjalan mulus.
Ahok melayangkan gugatan cerai ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada Januari 2018 lalu.
Basuki Tjahaja Purnama dan Veronica Tan resmi bercerai.
Kemudian, mantan Gubernur Jakarta ini dikabarkan dekat dengan gadis bernama Puput Nastiti Devi.
Pada Jumat, 15 Februari 2019, Basuki Tjahaja Purnama alias resmi menikahi Puput Nastiti Devi.
Tambahan informasi, nama Ahok pernah terjerat kasus penghinaan agama.
Dirinya pun divonis bersalah atas kasus penodaan agama pada 9 Mei 2017 dan dihukum dua tahun penjara.
Pada 24 Januari 2019, Basuki Tjahaja Purnama resmi bebas dari vonis penjara dalam kasus penghinaan agama.
Pendidikan
Sebelum pindah ke Jakarta, Ahok bersekolah di daerah kampung halamannya.
Saat sekolah dasar, Ahok bersekolah di SD Negeri III Gantung.
Basuki Tjahaja Purnama menuntaskan studi di sekolah dasar pada tahun 1977.
Pada tahun 1981, Basuki Tjahaja Purnama lulus dari SMP Negeri I Gantung.
Selepas itu, Basuki Tjahaja Purnama merantau di Jakarta karena orangtua Basuki Tjahaja Purnama memilihkan sekolah di SMAK III PSKD.
Di Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama dititipkan di rumah seorang wanita yang bernama Misribu Andi Baso Amier.
Setelah lulus SMK pada tahun 1984, Basuki Tjahaja Purnama kemudian berkuliah di jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Trisakti.
Basuki Tjahaja Purnama lulus dengan gelar insinyur pada tahun 1990.
Kemudian, Basuki Tjahaja Purnama kembali ke kampung halaman di Bangka Belitung dan mulai mendirikan perusahaan bernama CV Panda.
Perusahaan itu bergerak di bidang kontraktor pertambangan.
Selama kurang lebih dua tahun Basuki Tjahaja Purnama terjun dalam dunia kontraktor pertambangan.
Tak berhenti di situ, Basuki Tjahaja Purnama melanjutkan studi magister di jurusan Manajemen di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya pada tahun 1992.
Basuki Tjahaja Purnama mampu menyelesaikan studi magister pada tahun 1994.
Sepak Terjang
Perjalanan karier Basuki Tjahaja Purnama berlanjut ketika memilih bekerja di PT Simaxindo Primadaya di Jakarta.
Perusahaan tersebut bergerak di bidang kontraktor listrik.
Basuki Tjahaja Purnama bekerja sebagai staf direksi bagian analisa biaya dan keuangan proyek.
Pekerjaan itu hanya bertahan selama satu tahun.
Pada tahun 1995, Basuki Tjahaja Purnama kembali ke kampung halaman dan mendirikan sebuah pabrik pengolahan pasir bernama pabrik Gravel Pack Sand (GPS).
Perusahaan yang didirikan Basuka Tjahaja Purnama bernama PT Nurindra Ekapersada.
Tak lama kemudian, pabrik tersebut ditutup karena berseberangan dengan pemerintah setempat.
Basuki Tjahaja Purnama sempat mengalami masa-masa tertekan dan frustasi karena penutupan pabrik yang telah dibangun.
Sempat merasa frustasi dan ingin pergi ke luar negeri karena pabrik dibangun telah ditutup.
Basuki Tjahaja Purnama mulai terjun ke dalam dunia politik pada tahun 2003.
Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB) menjadi partai pertama Basuki Tjahaja Purnama memulai perjalanan politik.
Basuki Tjahaja Purnama mendaftar sebagai calon legislatif di Belitung Timur.
Kemudian Basuki Tjahaja Purnama terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Belitung pada periode 2004-2009.
Basuki Tjahaja Purnama adalah sosok yang berhasil menunjukkan integritas dengan menolak ikut praktik KKN.
Di tahun 2005, Basuki Tjahaja Purnama terpilih menjadi Bupati Belitung bersama pasangan Khairul Effendi.
Namun, Basuki Tjahaja Purnama hanya menjabat sekitar satu tahun.
Basuki Tjahaja Purnama mencalonkan diri sebagai anggota Partai Golkar dan terpilih sebagai calon DPR RI dari Belitung Timur pada tahun 2009.
Dua tahun kemudian, Basuki Tjahaja Purnama mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta melalui jalur independen, namun hal itu gagal.
Pada tahun 2012, Basuki Tjahaja Purnama berhasil menjadi Gubernur DKI Jakarta bersama pasangannya yaitu Joko Widodo.
Setelah dua tahun, Joko Widodo maju sebagai calon presiden dan berhasil terpilih.
Alhasil, Basuki Tjahaja Purnama menggantikan jabatan sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Basuki Tjahaja Purnama kalah dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2017.
Pasca mengalami kekalahan dalam Pilgub DKI Jakarta 2017, Ahok justru mengalami nasib yang kurang beruntung.
Seiring dengan pernyataannya terkait kasus penodaan agama yang menuai kontroversial hingga dilakukan Aksi Bela Islam yang dinahkodai oleh Front Pembela Islam pimpinan Muhammad Rizieq Shihab.
BTP divonis dua tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada 9 Mei 2017.
Pada tanggal 24 Januari 2019, ia telah dibebaskan dari penjara.
Dilansir Wikipedia, Ahok resmi ditunjuk sebagai Komisaris Utama Pertamina pada tanggal 22 November 2019.
Pada awal 2024, Ahok memilih mundur dari kursi Komut Pertama melalui surat MEMORANDUM dengan Nomor 025/K/DK/2024, Perihal Surat Pengunduran Diri dan Laporan Pertanggungjawaban sebagai Komisaris Utama PT Pertamina (Persero).

