Indonesia Menyapa, Jakarta — Sebuah kapal tanker super (Very Large Crude Carrier/VLCC) milik perusahaan nasional Iran, National Iranian Tanker Company (NITC) dilaporkan berhasil meninggalkan Iran dan menghindari blokade militer Amerika Serikat di Teluk Persia.
Keberanian kapal ini menjadi sorotan internasional setelah TankerTrackers melaporkan bahwa kapal tersebut mematikan Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) sejak Maret lalu guna menghindari deteksi militer Amerika.
Saat ini diketahui kapal tersebut tengah melintasi Selat Lombok, Indonesia, dan bergerak menuju Kepulauan Riau.
Kapal itu akan berlabuh di Selat Malaka kemudian minyak mentah yang diangkut akan dipindahkan ke kapal lain menuju China.
Rute lebih jauh dipilih beberapa kapal tanker Iran untuk mengirim pasokan minyak ke China demi menghindari blokade militer AS.
Kapal Iran ini membawa muatan sekitar 1,9 juta barrel minyak mentah dengan nilai estimasi mencapai Rp 3,8 triliun.

Tanggapan pemerintah Indonesia
Kementerian Luar Negeri Indonesia menegaskan bahwa posisi kapal tanker Iran itu masih dalam koridor hukum.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Yvonne Mewengkang menyatakan bahwa Indonesia tetap berpegang pada aturan navigasi internasional sembari terus melakukan pemantauan ketat melalui saluran diplomatik.
“Pemerintah Indonesia tengah melakukan verifikasi lapangan serta terus melakukan koordinasi internal, dan memandang bahwa kapal-kapal tersebut melaksanakan hak lintasnya sesuai hukum internasional,” kata Yvonne, Selasa (5/5/2026).
Yvonne memastikan, Kementerian Luar Negeri akan terus melakukan pemantauan dan melakukan komunikasi terkait keberadaan kapal tersebut di perairan Indonesia.
Ia menyebut, Indonesia telah mencatat laporan mengenai keberadaan kapal-kapal asing di perairan Indonesia.
“Kami akan terus memantau situasi ini dan berkomunikasi melalui saluran diplomatik yang tepat,” ucap dia.
Kapal Pertamina belum jelas nasibnya
Seperti diketahui dua kapal tanker yang mengangkut minyak mentah ke Indonesia belum diketahui kabarnya saat ini setelah tertahan lama di Teluk Persia tak bisa melintasi Selat Hormuz.
Dua kapal itu adalah kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro tak bisa lewat karena belum diizinkan otoritas Iran.
Padahal kapal tanker negara lain seperti Thailand dan Malaysia diizinkan Iran lewat Selat Hormuz.
Pada Sabtu (18/4/2026) lalu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Yvonne Mewengkang menyatakan pemerintah terus memonitor keberadaan dua kapal tanker milik Pertamina yang tertahan di Teluk Arab imbas Selat Hormuz ditutup.
Yvonne menyampaikan, KBRI Tehran bersama PT Pertamina International Shipping (PIS) juga terus berkoordinasi dengan para pihak terkait di Iran untuk mendukung kelancaran perlintasan kapal Indonesia.
Dia membeberkan, terdapat sejumlah aspek teknis dan mekanisme operasional di lapangan yang masih perlu diperhatikan.
“Keselamatan awak kapal serta keamanan kapal dan seluruh muatannya menjadi prioritas pemerintah Indonesia saat ini,” ujar Yvonne.

