Indonesia Menyapa, Jakarta — Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (Ipemi) mendorong Gubernur DKI Pramono Anung membuat kebijakan yang pro terhadap pengusaha kecil.
Khususnya, kepada mal atau pusat perbelanjaan dan hotel untuk menyediakan tempat untuk UMKM.
Dorongan tersebut disampaikan Ketua Umum Ipemi Ingrid Kansil bersama Sekretaris Jenderal Nurwahidah Saleh, dan sejumlah jajaran pengurus Ipemi pusat saat bertemu dengan Pramono di Balai Kota, Jakarta Pusat, Kamis (16/10/2025).
“Pak Gubernur menerima langsung audiensi dari Ipemi. Pak Gubernur menyampaikan akan terus memperluas ruang-ruang UMKM di DKI,” ujar Ingrid dalam keterangannya, Jumat (17/10/2025).
Menurutnya, selain mendukung program-program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, tujuan pertemuan dengan Pramono juga untuk menjajaki kerja sama Ipemi. Khususnya, pemberdayaan UMKM.
Ingrid usul agar Pramono menghadirkan program yang berpihak pada pelaku usaha kecil. Contohnya, mewajibkan hotel atau mal di DKI Jakarta berkolaborasi dengan UMKM sekitar.
“Khusus hotel-hotel yang diharapkan menyediakan corner khusus kuliner khas Betawi dengan memberdayakan UMKM DKI, seperti ketoprak, bir pletok, nasi uduk, dan lainnya. Begitu juga mall yang diharapkan bisa memfasilitasi ruang UMKM secara maksimal,” tuturnya.
Ingrid menyampaikan, hotel berbintang dan mal di DKI memiliki peran sebagai akomodator yang berorientasi pada keberlanjutan. Sehingga, kolaborasi dengan UMKM lokal menjadi suatu keniscayaan.
Ia megatakan, hotel menjadi sarana penting bagi UMKM karena memiliki akses pasar yang lebih luas. Sehingga, kolaborasi ini dapat meningkatkan omzet UMKM, dan memicu standar kualitas yang lebih tinggi melalui kurasi produk.
“Kemitraan seperti ini juga membantu UMKM beradaptasi dengan standar industri yang dapat memperkuat daya saing dan potensi ekspor mereka,” kata Ingrid.
Dia mengakui, ada beberapa hotel dan mall yang melakukan hal serupa. Namun, masih banyak yang belum maksimal melakukan kolaborasi dengan UMKM, khususnya pada realisasi di lapangan.
Sekalipun diberikan premium area, harga sewanya terlalu tinggi bagi UMKM.
“Tempat yang diberikan kurang strategis. Seperti di lantai paling bawah, dekat parkiran, dan lainnya. Nahasnya, tempat itu justu jarang dilalui orang-orang,” pungkas Ingrid.

