Indonesia Menyapa, Jakarta — Menteri Transmigrasi (Mentrans) RI, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, melakukan pertemuan strategis dengan Duta Besar China untuk Indonesia, Wang Lutong, guna membahas kerja sama konkret dalam pengentasan kemiskinan.
Dalam pertemuan yang merupakan kunjungan balasan ini, fokus utama pembicaraan tertuju pada percepatan kesejahteraan masyarakat di wilayah Papua melalui pengembangan Center of Excellence.
Iftitah yang turut didampingi oleh Wamen Transmigrasi Viva Yoga Mauladi, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah nyata untuk mengimplementasikan arahan Presiden RI Prabowo Subianto dalam menghapus kemiskinan ekstrem dan menyediakan lapangan kerja seluas-luasnya.
“Kami di Kementerian Transmigrasi ingin sekali mengimplementasikan apa yang menjadi concern Bapak Presiden, yakni untuk mengentaskan kemiskinan dan menyediakan lapangan kerja lebih banyak,” kata Iftitah di kantor Kementerian Transmigrasi, Kalibata, Jakarta, Senin (13/4/2026).
Ia pun menyoroti keberhasilan Tiongkok yang mampu memindahkan lebih dari 9 juta jiwa penduduk demi pembangunan infrastruktur raksasa, namun tetap berhasil meningkatkan taraf hidup masyarakatnya melalui hilirisasi industri.
Iftitah menilai, model keberhasilan Tiongkok tersebut sangat relevan untuk diimplementasikan di 154 kawasan transmigrasi yang ada di Indonesia.
“Kita tahu bahwa penduduk Tiongkok lebih dari 1,4 miliar, tetapi hampir tidak ada kemiskinan di sana saat ini. Itulah yang ingin kami pelajari,” jelasnya.
Sebagai langkah awal, pemerintah Tiongkok telah mengundang para ahli dari Kementerian Transmigrasi serta akademisi dari 10 universitas ternama di Indonesia untuk bertolak ke Beijing dalam waktu dekat.
Adapun universitas yang dilibatkan antara lain UI, IPB, ITB, Unpad, Undip, UGM, Brawijaya, Unair, ITS, hingga Unhas untuk mempelajari strategi pengentasan kemiskinan secara mendalam.
Lebih lanjut, Iftitah menjelaskan bahwa kerja sama ini akan dikerucutkan pada pembentukan Center of Excellence yang berfokus pada ketahanan pangan, energi, dan air di Tanah Papua.
“Kami ingin membantu rakyat Papua sesuai dengan arahan Bapak Presiden. Insyaallah sedang dibicarakan secara konkret melalui Bappenas, pemerintah Tiongkok juga akan memberikan hibah untuk membantu Center of Excellence tersebut,” tuturnya.
Bahkan, delegasi dari Tiongkok disebut telah melakukan survei langsung ke Papua untuk melihat potensi kerja sama di lapangan.
Selain bantuan teknis, Tiongkok juga berkomitmen menjadi pembeli siaga (offtaker) bagi hasil bumi dari kawasan transmigrasi, terutama komoditas durian dan kelapa yang memiliki nilai ekonomi fantastis.
Iftitah memaparkan, kebutuhan durian di Tiongkok mencapai Rp 120 triliun per tahun, sementara kelapa mencapai Rp 110 triliun per tahun.
Hal ini menjadi peluang besar bagi transmigran di daerah seperti Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, maupun Papua.
Sementara itu, Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong menyambut hangat kerja sama ini dan menyebut hubungan kedua negara seperti persaudaraan sejati yang saling mendukung.
Wang Lutong mengungkapkan, pihaknya berencana membangun sekolah teknologi atau sekolah vokasi di Papua guna menyiapkan tenaga kerja lokal yang terampil.
“Kami sedang memikirkan untuk membangun sekolah teknologi di Papua untuk pelatihan vokasi. Kami ingin meningkatkan teknologi di sini dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja bagi kaum muda Indonesia,” ungkap Wang Lutong.
Tak hanya itu, Dubes Wang juga menawarkan pembangunan pusat padi (Rice Center) di Indonesia untuk meningkatkan produktivitas pangan nasional melalui pendampingan ahli-ahli pertanian dari Tiongkok.
Menutup pertemuan tersebut, Wang Lutong meyakini dengan dukungan insentif dari pemerintah Indonesia, investasi di sektor pertanian dan infrastruktur di kawasan transmigrasi akan semakin berkembang pesat.
“Kami menantikan kerja sama dengan Anda untuk mencapai target-target tersebut di masa depan demi masa depan yang lebih cerah bagi kedua bangsa,” pungkasnya.

