Indonesia Menyapa, Jakarta — Mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) menjadi pemberitaan hangat di tanah air.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan Perry mundur karena “alasan pribadi”. Prasetyo tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai alasan pengunduran Perry itu.
Perry bukan pejabat pertama yang mengundurkan diri tahun ini. Beberapa waktu lalu Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S. Deyang juga mundur. Di samping itu, ada Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah yang mundur setelah tersandung kasus dugaan korupsi.
Berdasarkan catatan Tribunnews, dalam kurun sekitar 1,5 tahun terakhir, yakni sejak 2025 hingga sekarang, setidaknya sudah ada 11 pejabat yang memutuskan meletakkan jabatan.
Mereka mengundurkan diri dengan berbagai alasan, misalnya karena kondisi kesehatan, merasa kinerja tak sesuai dengan harapan, hingga alasan pribadi yang tidak dijelaskan lebih lanjut.
Bisa menggerus kepercayaan terhadap Prabowo
Ray Rangkuti, Direktur Eksekutif Lingkar Madani sekaligus pengamat politik, mengatakan fenomena mundurnya para pejabat itu memiliki sisi negatif.
“Negatifnya, khususnya kepada pemerintahan Pak Prabowo, akan menyumbang makin tergerusnya kepercayaan kepada Pak Prabowo. Lebih-lebih kalau yang mengundurkan diri itu misalnya oleh publik yang dianggap cukup profesional di bidangnya,” kata Ray ketika dihubungi Tribunnews dari Kantor Tribunnews di Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Selasa, (29/7/2026).
Menurut Ray, para pejabat yang mumpuni di bidangnya itu mungkin saja mundur karena sudah tidak satu visi dengan pemerintahan Prabowo atau tidak cocok dengan gaya kepemimpinannya.
Seandainya pun mereka mundur bukan karena alasan ketidakcocokan atau idealisme, melainkan karena alasan lain seperti tersandung kasus atau kendala kesehatan, Ray menilai hal itu juga bisa menurunkan tingkat kepercayaan publik kepada Prabowo.
“Kenapa? Karena masalah-masalah yang seperti ini seolah-olah memperlihatkan bahwa Pak Prabowo sejak dari awal tidak cukup hati-hati untuk merekrut para pembantunya, yang kemudian di tengah perjalanan menghadapi kasus-kasus hukum yang sebetulnya sangat tidak diharapkan,” kata dia menjelaskan.
Ray menegaskan bahwa pejabat yang mundur baik karena idealisme atau karena ada kendala/masalah hukum sama-sama bisa berdampak negatif pada kepemimpinan Prabowo
Di sisi lain, Ray menyebut mundurnya para pejabat juga memiliki sisi positif, yaitu memperlihatkan bahwa pejabat berani atau tidak takut kehilangan jabatan dan hal itu bertolak belakang dengan pragmatisme politik.
Daftar pejabat yang mundur
Berdasarkan catatan Tribunnews, Berikut sejumlah pejabat yang mundur dalam 1,5 tahun terakhir.
1. Satryo Soemantri Brodjonegoro
Mendikti Saintek Satryo Soemantri Brodjonegoro memutuskan mundur lewat surat pengunduran yang dibuat tanggal 18 Februari 2025.
“Saya baru saja ke Setneg menyerahkan surat pengunduran diri saya sebagai Mendikti Saintek,” kata Satryo, Rabu, di Kantor Kemendikti Saintek, Jakarta, sehari kemudian.
“Ya, surat itu saya buat tadi malam jam 12 malam. Tadi saya serahkan ke Setneg untuk disampaikan kepada Presiden,” imbuh dia.
Saat itu Satryo mengaku selama empat bulan menjadi Mendikti Saintek, dia telah bekerja secara maksimal dan tulus. Namun, jika atasan merasa tak cocok, Satryo memilih mundur dari kursi jabatan Mendikti Saintek
Dia juga mengakui adanya kemungkinan kinerja dirinya yang tak sesuai dengan harapan pemerintah.
2. Mahendra Siregar dan kawan-kawan
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar resmi mengundurkan diri dari jabatannya, Jumat (30/1/2026).
“OJK menyampaikan bahwa Ketua Dewan Komisioner OJK, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (KE PMDK), dan Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (DKTK) telah menyampaikan pengunduran diri dari jabatannya,” tulis keterangan pers OJK yang diterima Tribunnews.
Selain Mahendra, pejabat OJK yang turut mundur adalah Inarno Djajadi (KE PMDK), I. B. Aditya Jayaantara (Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK) dan, Mirza Adityaswara (Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan).
Mahendra Siregar menyatakan, pengunduran dirinya bersama KE PMDK dan DKTK merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk mendukung terciptanya langkah pemulihan yang diperlukan.
“OJK menegaskan bahwa proses pengunduran diri ini tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas, fungsi, dan kewenangan OJK dalam mengatur, mengawasi, serta menjaga stabilitas sektor jasa keuangan secara nasional,” tulis OJK.
3. Iman Rachman
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengumumkan pengunduran diri, Jumat, (30/1/2026).
Keputusan tersebut diambil setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok selama dua hari terakhir, yang berujung pada penerapan trading halt atau penghentian sementara perdagangan saham sebanyak dua kali.
“Teman-teman sudah mengikuti dua hari terakhir bagaimana kondisi market kita dua hari terakhir, walaupun kondisi kita hari ini membaik, saya ingin menyampaikan statement dan ini tidak ada tanya jawab,” kata Iman kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta,
“Saya sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin, menyatakan mengundurkan diri sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia,” lanjutnya.
Dia berharap keputusannya mengundurkan diri merupakan langkah yang terbaik untuk pasar modal.
4. Hasan Nasbi (sempat mundur, tetapi kembali)
Hasan Nasbi mengajukan pengunduran diri sebagai Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan atau PCO pada Senin 21 April 2025. Sebelumnya, Hasan mengunggah hari terakhir kerjanya dalam akun Instagram Total Politik.
“Benar surat (mundur) saya sampaikan pada 21 April” kata Hasan saat dikonfirmasi, Selasa, (29/4/2025).
Hasan mengatakan alasan pengunduran dirinya sebagai Kepala PCO sama seperti yang diunggah dalam akun instagram tersebut.
“Sama seperti yang saya sampaikan di Total Politik,” katanya.
Dalam akun instagram Total Politik tersebut Hasan mengatakan dirinya sudah beberapa kali menyampaikan dalam podcast bahwa apabila ada suatu pekerjaan atau masalah yang tidak bisa ditangani maka harus tahu diri dan mengambil jalan untuk menepi.
“Tidak perlu heboh-heboh, kita pun harus tahu diri dan kemudian mengambil keputusan untuk menepi. Maka pada hari ini, 21 April 2025, sepertinya saat itu sudah tiba,” katanya.
Meski telah mengajukan pengunduran diri, Hasan Nasbi memutuskan menerima kembali penugasan sebagai pimpinan PCO.
Dia menegaskan langkah tersebut merupakan bentuk loyalitas kepada Presiden Prabowo Subianto.
“Saya kan loyal sama Presiden. Jadi tahu diri itu bukan sesuatu yang bertentangan dengan loyalitas kan. Tapi begitu diperintahkan untuk melanjutkan ya sudah, kita sebagai bawahan beliau, sebagai anak bawahan beliau ya patuh untuk melanjutkannya,” kata Hasan saat ditemui di Kantor PCO di Gedung Kwarnas, Jakarta pada Selasa (6/5/2025).
5. Nanik S. Deyang
Nanik S. Deyang memutuskan mundur dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).
Kabar pengunduran diri Nanik disampaikan melalui akun Facebook pribadinya pada Rabu (22/7/2026). Nanik mengaku pengunduran dirinya telah disetujui oleh Presiden Prabowo Subianto.
“Saya sampaikan ke presiden juga dengan beribu maaf sepertinya saya harus mundur sebagai Kepala BGN, demi kesehatan saya,” tulis Nanik.
“Karena presiden prihatin dan kasihan dengan saya, presiden menyetujui, namun saya diminta tetap ikut mengawasi BGN,” ujarnya.
Nanik mengatakan dirinya berat hati untuk mundur dari Kepala BGN. Dia pun harus berangkat ke luar negeri untuk melakukan pengobatan pada hari ini.
“Ini bukan karena tidak percaya dokter yang hebat di Indonesia, tapi untuk second opinion dan kebetulan ada kawan yang merekomendasikan di tempat yang mau saya tuju,” katanya.
Sementara itu, Istana melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan alasan Nanik mundur. Menurut Prasetyo Nanik mundur karena alasan kesehatan.
“Memang benar Ibu Nanik mengajukan permohonan pengunduran diri dalam kapasitas beliau selaku Kepala Badan Gizi Nasional kepada Bapak Presiden oleh karena alasan kesehatan yang saat ini beliau ingin memohon untuk fokus terlebih dahulu mengatasi masalah kesehatan beliau,” kata Prasetyo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Prasetyo tidak mengetahui kenapa Nanik memilih mundur dan tidak mengambil cuti untuk memulihkan masalah kesehatannya. Menurut Prasetyo hal itu merupakan pilihan pribadi Nanik yang mengerti sejauh mana kondisi kesehatannya.
“Ya kalau pertanyaannya adalah kenapa harus mundur atau kenapa tidak cuti saja, ini kan kita kembalikan kepada yang bersangkutan. Ini kan kita juga tidak bisa memaksakan. Karena yang mengerti kondisi pribadinya adalah beliau,” katanya.
Perry Warjiyo resmi menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia per Senin (27/7/2026).
Pengunduran diri itu disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Gedung Bank Indonesia, Senin.
“Bahwa per kemarin secara resmi kami menerima surat pengunduran diri dari Gubernur Bank Indonesia kepada Bapak Presiden,” kata Prasetyo.
“Dalam suratnya hanya menyatakan mengajukan permohonan pengunduran diri oleh karena alasan pribadi.”
Menurutnya, Prabowo menerima surat pengunduran diri tersebut. Presiden mengucapkan terima kasih kepada Perry yang telah mengabdi selama 7 tahun.
“Maka yang pertama Bapak Presiden menerima pengunduran diri dari Bapak Perry Warjiyo. Tentu disertai dengan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas dedikasi beliau selama kurang lebih 7 tahun lamanya memimpin Bank Indonesia,” ujarnya.
Prabowo, kata Prasetyo, akan segera menindaklanjuti pengunduran diri tersebut dengan menerbitkan Keppres terkait pemberhentian Perrysebagai Gubernur BI.
“Untuk selanjutnya, secara administratif tentu hari ini akan kami tindaklanjuti berkenaan dengan surat pengunduran diri tersebut karena sesuai mekanisme, maka akan diterbitkanlah keputusan presiden berkaitan dengan pemberhentian beliau secara hormat dari jabatan sebagai Gubernur Bank Indonesia,” imbuhnya.
Adapun jabatan Gubernur BI sementara dijabat oleh Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti.
7. Gus Miftah
Pendakwah Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah memutuskan mundur setelah pernyataannya yang menghina pedagang es teh viral di media sosial.
“Saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari tugas saya sebagai Utusan Khusus Presiden Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan,” kata Gus Miftah dalam konferensi pers di kawasan Pondok Pesantren Ora Aji Sleman, DI Yogyakarta, Jumat siang, (6/12/2024)
Gus Miftah menyebut keputusan mengundurkan diri diambil bukan karena ditekan oleh siapa pun, termasuk permintaan dari Prabowo.
“Tetapi keputusan ini saya ambil karena rasa cinta hormat dan tanggung jawab saya yang mendalam terhadap Bapak Presiden Prabowo Subianto serta seluruh masyarakat,” ujar Miftah yang berkata sambil terbata-bata seperti hendak menangis.
8. Febrie Adriansyah
Febrie Adriansyah resmi mundur dari jabatannya sebagai Jampidsus per Sabtu, 11 Juli 2026
Dalam keterangan resmi yang diterima Tribunnews.com, Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Anang Supriatna menyampaikan bahwa keputusan tersebut merupakan bentuk komitmen untuk menjaga integritas, objektivitas, dan netralitas proses penegakan hukum.
Pengunduran diri Febrie ini seiring adanya proses hukum yang sedang ditangani oleh penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia.
“Kejaksaan Agung menghormati keputusan tersebut dan memastikan seluruh tugas, fungsi, serta penanganan perkara di lingkungan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus tetap berjalan normal sesuai mekanisme yang berlaku,” kata Kapuspenkum.
Kejaksaan Agung mengajak semua pihak untuk menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan tetap menjunjung tinggi asas praduga tidak bersalah.
Sumber: Dampak Mundurnya Gubernur BI dan Pejabat Lain, Pengamat: Kepercayaan kepada Prabowo Tergerus

