Indonesia Menyapa, Sabang— Banjir yang melanda Aceh pada 26 November 2025 tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga memberi tekanan serius terhadap perekonomian masyarakat. Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu yang paling terdampak pascabencana.
Refleksi tersebut disampaikan relawan asal Kota Sabang Muhammad Mulziatuddin, berdasarkan pengalaman dan keterlibatan langsung di wilayah terdampak. Ia menilai, dampak banjir terhadap UMKM belum sepenuhnya menjadi fokus utama dalam proses pendataan dan penanganan.
“Selama satu bulan pascabencana, saya melihat dampak terhadap UMKM belum mendapatkan perhatian yang memadai dalam asesmen resmi. Sebagian besar pendataan masih berfokus pada kerusakan bangunan dan infrastruktur,” ujar Muhammad Mulziatuddin, Minggu (27/12/2025).

Dalam periode pemulihan, aktivitas UMKM di sejumlah wilayah terdampak belum kembali normal. Banyak warung kecil, usaha kuliner, pedagang harian, hingga usaha rumahan mengalami stagnasi bahkan berhenti total akibat hilangnya stok, terganggunya modal kerja, dan meningkatnya biaya operasional.
“Kerugian UMKM tidak selalu terlihat secara fisik, tetapi lebih pada hilangnya pendapatan harian dan terganggunya arus kas. Kondisi ini diperparah oleh gangguan distribusi LPG, keterbatasan BBM, serta kenaikan harga dan keterlambatan pasokan bahan pokok,” katanya.
Ia menilai, pendekatan penanganan pascabencana belum cukup jika hanya menghitung kerugian material. Dampak ekonomi UMKM yang bersifat tidak kasat mata dinilai berpengaruh jangka panjang terhadap ketahanan ekonomi keluarga dan pemulihan sosial masyarakat.
Muhammad Mulziatuddin berharap, pemerintah pusat dan daerah dapat memasukkan kerugian UMKM sebagai komponen utama asesmen dampak banjir. Ia juga mendorong penyusunan skema pemulihan UMKM yang adaptif, termasuk bantuan modal kerja darurat, stabilisasi distribusi energi dan pangan, serta kebijakan relaksasi bagi pelaku usaha kecil.
Sumber: RRI.co.id – Banjir Aceh Tekan UMKM, Pemulihan Belum Optimal

