Indonesia Menyapa, Jakarta — Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ahmad Ali mendorong pemerintah Indonesia mencari alternatif impor minyak imbas ditutupnya Selat Hormuz akibat perang Amerika Serikat-Israel Vs Iran.
Ali mengatakan akibat penutupan Selat Hormuz, impor minyak Indonesia yang selama ini sebagian besar dari Timur Tengah berpotensi terhambat.
Terlebih, jika merujuk pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia soal persediaan minyak dalam negeri.
Sehingga, kata Ali, penting bagi pemerintah mencari alternatif impor dari negara lain.
“Nah tentunya pemerintah harus mencari jalan supaya kita tidak tergantung dari Timur Tengah toh. Kalau kita belum bisa mendapatkan pengganti BBM, paling tidak kita mencari substitusinya dari negara mana,” kata Ali saat ditemui di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Selasa (10/3/2026) malam.
Ali pun berpandangan Indonesia bisa mengalihkan impor BBM dari Timur Tengah ke Amerika sebagaimana perjanjian dagang yang sebelumnya terjalin.
Menurut dia, hal itu saat ini bisa dijadikan solusi sementara mengingat situasi di Timur Tengah berada dalam kondisi tidak pasti imbas perang perang AS-Israel Vs Iran.
“Saya pikir kemarin salah satu perjanjian dagang yang ditandatangani Presiden yaitu impor minyak dari Amerika. Saya pikir itu salah satu solusi yang kemudian bisa menghidupkan untuk menjawab permasalahan yang dihadapi bangsa ini,” jelasnya.
Pemerintah Imbau Masyarakat Tak Panic Buying
Buntut dari perang di Timur Tengah mulai terasa di Indonesia.
Masyarakat yang khawatir akan kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) berujung terjadinya panic buying di sejumlah wilayah Indonesia.
Menyikapi hal tersebut, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia minta masyarakat tidak panic buying BBM karena stok mencukupi.
“Saya menyarankan dan meminta tidak perlu ada panic buying karena memang stok BBM kita cukup,” kata Bahlil di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Menurut Bahlil, stok BBM yang hanya 21-25 hari tersebut karena memang kapasitas penyimpanan atau storage yang dimiliki Indonesia hanya bisa selama itu.
Bahlil pun menegaskan saat ini tidak ada masalah dalam penyediaan dan penyaluran BBM.
Distribusi BBM terus berputar dan tidak ada masalah dalam pasokan.
“Jadi yang dimaksud 21 hari sampai 25 hari itu adalah storage kita tapi itu kan dia pergi dan datang lagi, industri kita jalan terus dan impor kita tak ada masalah. Apalagi dari Timur Tengah, itu kita cuma impor crude minyak mentahnya sementara minyak jadinya kita impor dari negara Asia Tenggara dan produksi dalam negeri,” katanya.
Karena itu, kata Bahlil, masyarakat tidak perlu panik membeli BBM.
“Jadi harusnya tak perlu ada sampai begitu ya (panic buying),” pungkasnya.

