Presiden Iran Bantah Tuduhan soal Rencana Pembunuhan Trump

Peristiwa

Indonesia Menyapa, Jakarta — Presiden Iran Masoud Pezeshkian dituduh merencanakan pembunuhan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Pezeshkian membantah tuduhan tersebut.

Dilansir CNN, Senin (28/9/2026), Pezeshkian sempat menjawab pertanyaan dari sekelompok wartawan di New York, tempat ia berkunjung di bawah perlindungan Dinas Rahasia AS (US Secret Service), meskipun ia adalah pemimpin negara yang sedang berperang dengan Amerika Serikat.

Dalam sesi yang membahas berbagai topik tersebut, sehari setelah berpidato di Majelis Umum PBB, Pezeshkian mengulangi posisi khas Iran terkait perang, program nuklirnya, dan penentangan politik di Iran. Ia juga membicarakan dampak sanksi terhadap rakyat Iran, serta mengklaim bahwa Iran tidak akan pernah mencoba membunuh Donald Trump-meskipun presiden dan otoritas AS menuduh rezim tersebut merencanakan pembunuhannya.

Pernyataan tersebut disampaikan di Hotel Millennium Hilton, yang berada sangat dekat dengan markas besar PBB, tempat Presiden Iran pada hari Rabu (23/9) lalu menyatakan bahwa negaranya “tidak akan tunduk” seiring berlarut-larutnya perang dengan AS.

Dalam pengarahan pers tersebut, Pezeshkian juga menggambarkan pertemuan terbaru yang diadakannya dengan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, yang belum pernah terlihat di publik sejak awal perang, dan menyatakan bahwa sang pemimpin “cukup sehat.”

Berbicara tentang kondisi Khamenei, Pezeshkian berkata, “Saya tidak melihat masalah besar pada kesehatan atau penampilan fisiknya,” seraya menambahkan bahwa pertemuan tatap muka terbaru mereka berlangsung sekitar satu bulan lalu dan berjalan selama kurang lebih tujuh jam.

Pezeshkian mengatakan keduanya duduk di atas bantal di lantai dan berdiri untuk berjalan-jalan selama pertemuan tersebut. Intelijen AS menilai bahwa terlepas dari luka-lukanya, Khamenei masih memainkan peran krusial dalam merumuskan strategi perang bersama para pejabat senior Iran, menurut beberapa sumber yang memahami laporan intelijen tersebut pada bulan Mei.

Dalam pengarahan tersebut, Pezeshkian juga membantah tuduhan bahwa Iran berusaha membunuh Donald Trump. “Tidak pernah menjadi posisi (pemerintah Iran), secara terbuka maupun tersembunyi, untuk berusaha membunuh Trump atau anggota keluarganya,” imbuh dia.

Bulan lalu, US Secret Service menyatakan telah mengetahui keberadaan sebuah video yang ditayangkan oleh stasiun TV pemerintah Iran yang tampak mengancam nyawa Barron Trump, putra bungsu sang presiden. Hal ini terjadi setelah Israel membagikan data intelijen kepada AS bahwa Iran telah merancang rencana untuk membunuh Donald Trump. Pada akhir tahun 2024, Departemen Kehakiman AS mengumumkan dakwaan federal atas apa yang dideskripsikan sebagai rencana pembunuhan Trump oleh Iran yang berhasil digagalkan sebelum pemilihan presiden.

Media Iran bergaris keras kerap kali menampilkan konten yang mengancam nyawa Trump dan keluarganya. Selama acara pemakaman almarhum Khamenei pada bulan Juli, para loyalis rezim terlihat memegang poster bertuliskan “Bunuh Trump”. Trump juga sempat membahas ancaman Iran terhadap nyawanya secara terbuka, seraya berkata pada bulan Juli: “Saya ada di daftar mana pun … sejauh ini, saya rasa saya sedikit beruntung, tapi mungkin itu tidak bertahan sangat lama. Mereka adalah orang-orang yang jahat dan sakit jiwa.”

 

Respons Gedung Putih

Menanggapi pernyataan Pezeshkian, juru bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan, “Rezim Iran telah membunuh ribuan rakyatnya sendiri, membunuh warga Amerika di luar negeri, melakukan aksi terorisme di Selat Hormuz, dan melancarkan serangan membabi buta terhadap negara-negara tetangganya di kawasan tersebut.”

“Presiden secara berani memastikan bahwa negara sejahat itu tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, yang akan membuat seluruh dunia lebih aman dan lebih stabil,” kata Kelly.

 

Sumber: Presiden Iran Bantah Tuduhan soal Rencana Pembunuhan Trump

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *