Indonesia Menyapa, Jakarta — Terletak di selatan Samudra Pasifik, membuat Fiji jadi salah satu negara dengan wisata alam terindah dunia. Tapi sekarang negara ini sedang darurat HIV.
Fiji merupakan sebuah kepulauan yang terdiri lebih dari 330 pulau dan sekitar 500 pulau kecil. Secara keseluruhan, hanya sekitar 110 pulau yang dihuni secara permanen.
Sebagai negara dengan status langit paling biru di dunia, Fiji membuat banyak turis penasaran. Itulah mengapa, pariwisata di negara ini sangat maju, bahkan menjadi bagian penting dalam perekonomian negara.
Namun sayang, Fiji kini menetapkan status darurat kasus infeksi Virus Imunodefisiensi Manusia (HIV). Bukan main, penyebaran infeksi HIV telah menjadi krisis kesehatan nasional dan mencapai skala epidemi.
Keputusan ini diumumkan pemerintah pada awal pekan ini. Pemerintah Fiji tengah mengerahkan seluruh unsur untuk merespons lonjakan kasus HIV dan melindungi masyarakat di seluruh negeri, seperti dikutip dari DW News, Kamis (24/9/2026).
Melihat catatan tahun 2025, Fiji telah mendiagnosis 2.016 kasus HIV baru. Jumlah kasus ini 16 kali lipat dibanding catatan kasus pada 2019.
Virus tak lagi terbatas pada kelompok berisiko tinggi, seperti pengguna narkoba dan pekerja seks, tetapi mulai menyebar ke masyarakat yang lebih luas. Setidaknya, satu dari 60 orang dewasa terinfeksi HIV.
Sementara, di kalangan perempuan hamil, setidaknya dua dari setiap 100 orang hidup dengan HIV. Pemerintah Fiji juga memperingatkan bahwa 59 bayi lahir dengan HIV pada 2025, dan 18 di antaranya meninggal sebelum berusia satu tahun.
Jauh sebelum darurat HIV, Fiji sudah lebih dulu mengalami masa kelam. Dulu, leluhur Fiji datang dari kawasan Asia Tenggara yang kemudian menetap di sana. Inggris sempat menjajah Fiji pada 1874, namun pada 1970 Fiji mendapatkan kemerdekaannya.
Mundur lebih jauh, sekitar 2.500 tahun lalu, Fiji memiliki praktik kanibalisme pernah berlangsung lama di tengah masyarakatnya. Praktik ini bahkan direkam dalam sebuah catatan di Museum Fiji.
Dalam catatan tersebut ditemukan bukti arkeologis yang menyarankan praktik memakan daging manusia. Selain itu, ditemukan pula tulang belulang manusia dengan bekas pembantaian. Hal ini menjadi bukti brutalnya kanibalisme saat itu.
Secara historis, Fiji dijuluki ‘Pulau Kanibal’ oleh para pelaut Eropa pada abad ke-19 karena praktik ritual memakan sesama manusia tersebut. Praktik kanibalisme itu tercatat berakhir di tahun 1860.
Kembali ke masa kini, bentuk geografis Fiji yang jauh di tengah Samudra Pasifik menjadi salah satu faktor mengapa HIV bisa berkembang dengan pesat. Sejak beberapa tahun terakhir, kepulauan Pasifik menjadi jalur transit narkoba dari Amerika Latin dan Asia menuju pasar Australia dan Selandia Baru.
Inilah mengapa pemakai narkoba di Fiji semakin meningkat. Dalam sejumlah kasus, sindikat kejahatan dari luar negeri membayar mitra lokal mereka dengan narkoba sebagai imbalan atas jasa yang diberikan.
Semoga Fiji cepat membaik dan pariwisatanya baik-baik saja, ya!

