Tubuh 2 Pendaki Singapura Hancur Tertimpa Batu Besar Saat Erupsi Gunung Dukono Halmahera Utara

Peristiwa

Indonesia Menyapa, GALELA — Dua pendaki Singapura yang hilang dalam erupsi Gunung Dukono di Halmahera Utara dipastikan tewas. Kepastian kabar ini disampaikan Iwan Ramdani, Kepala Basarnas Ternate kepada The Straits Times, Minggu, 10 Mei 2026.

Iwan Ramdani mengatakan, jenazah kedua pendaki ditemukan sekitar 50 meter dari puncak. Jenazah, yang ditemukan bersebelahan, kemudian dievakuasi dan dibawa turun dari gunung.

Seorang warga bernama Risman Umar yang ikut serta dalam operasi penyelamatan, mengatakan kepada ST sebelum jenazah dievakuasi. “Kedua korban terkubur di bawah reruntuhan. Dua batu besar menimpa dan menghancurkan tubuh mereka.

“Mereka pertama kali ditemukan oleh tim penyelamat sekitar pukul 12.40 siang. Setengah dari tubuh mereka terkubur di bawah abu vulkanik. Evakuasi tidak dapat dilakukan karena hujan lebat, yang membuat material vulkanik tidak stabil dan rawan longsor,” ujarnya.

Dalam rekaman yang dilihat oleh ST, tim penyelamat Indonesia terlihat bekerja di lereng curam yang dipenuhi abu vulkanik hitam di dekat puncak gunung, sementara hujan dan kabut menyelimuti gunung tersebut.

Tentara, petugas polisi, dan sukarelawan lokal berkumpul di sekitar lubang sempit di abu tempat kedua pendaki diyakini terkubur. Beberapa menggali dengan tangan, sementara yang lain berdiri di dekatnya di lereng yang licin.

 

MEDAN SULIT - Tim gabungan pencarian dan penyelamatan membawa kantong jenazah korban letusan Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, Minggu 10 Mei 2026.
MEDAN SULIT – Tim gabungan pencarian dan penyelamatan membawa kantong jenazah korban letusan Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, Minggu 10 Mei 2026. (HO/IST/dok. Basarnas)

 

Kedua warga Singapura tersebut merupakan bagian dari kelompok yang terdiri dari 20 orang pendaki yang terdiri dari sembilan warga Singapura dan 11 warga Indonesia.

Mereka melakukan pendakian pada tanggal 7 Mei meskipun ada larangan pendakian yang diberlakukan oleh otoritas setempat pada tanggal 17 April dan zona larangan masuk sejauh 4 km di sekitar kawah.

Semua pendaki kecuali kedua warga Singapura dan seorang warga Indonesia dievakuasi. Kedua pendaki tersebut belum terlihat sejak Gunung Dukono meletus pada pagi hari tanggal 8 Mei 2026.

Batu dan abu vulkanik menghujani para pendaki di dekat puncak dengan batu panas, abu, dan puing-puing vulkanik. Seorang wanita Indonesia ditemukan tewas pada tanggal 9 Mei.

Nama kedua warga Singapura tersebut belum dirilis secara resmi, tetapi keluarga dari Bapak Timothy Heng, 30 tahun, dan Bapak Shahin Muhrez Abdul Hamid, 27 tahun, mengatakan kepada media bahwa mereka telah diberitahu.

Kementerian Luar Negeri Singapura (MFA) dalam sebuah pernyataan pada Minggu 10 Mei 2026 mengatakan, mereka sedang menjalin kontak erat dengan keluarga untuk memfasilitasi identifikasi kedua jenazah tersebut.

Kementerian Luar Negeri Singapura juga menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada pemerintah Indonesia, khususnya tim gabungan pencarian dan penyelamatan yang terdiri dari lebih dari 150 personel, atas upaya penyelamatan mereka dalam kondisi yang sulit dan berbahaya.

Hambatan pertama muncul jauh sebelum tim penyelamat dapat mencapai kawah salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia.

Tim pencarian dan penyelamatan Indonesia kembali berangkat menuju Gunung Dukono tepat setelah fajar pada 10 Mei, tetapi hujan deras semalaman telah mengubah jalan tanah sempit menuju gunung menjadi lumpur tebal.

 

Medan Terjal, Lewati Hutan Lebat

Dari pos pemantauan gunung berapi utama di desa Mamuya, jaraknya sekitar 10 km ke pos pengamatan pertama di kaki Gunung Dukono. Rute tersebut melewati hutan lebat dan perkebunan, dan sebagian besar hanya dapat diakses melalui jalan tanah yang kasar.

Sekitar 5 km dari Mamuya, sepeda motor yang ditumpangi seorang jurnalis Straits Times terpaksa berbalik arah karena jalan menjadi tidak dapat dilalui akibat banjir dan lumpur tebal yang ditinggalkan oleh hujan.

Lebih tinggi di gunung, kondisinya tidak lebih baik.

“Tim penyelamat telah mencapai Pos 5 (sekitar tengah hari waktu setempat), yang berjarak sekitar 1 km dari kawah, tetapi mereka sedikit berbalik arah menuju tempat perlindungan karena hujan dan banjir di sana,” kata Mochamad Thilio, anggota Brimob yang mengkoordinasikan komunikasi dengan tim tersebut.

 

ERUPSI DUKONO - Gunung Dukono di Halmahera Utara erupsi pada 4 April 2026 pukul 17.37 WIT dengan kolom abu setinggi 1,3 km. Hari ini, Jumat (8/5/2026), gunung di Maluku Utara itu kembali mengalami erupsi.
ERUPSI DUKONO – Gunung Dukono di Halmahera Utara erupsi pada 4 April 2026 pukul 17.37 WIT dengan kolom abu setinggi 1,3 km. Hari ini, Jumat (8/5/2026), gunung di Maluku Utara itu kembali mengalami erupsi. (Tribun Ternate/TribunTernate.com)

 

Dua gundukan kecil pasir vulkanik di dekat kawah Gunung Dukono, hanya 3 m dari tempat wanita Indonesia itu ditemukan tewas, menjadi fokus upaya pencarian.

Badan pencarian dan penyelamatan Indonesia, Basarnas, mengatakan pada 10 Mei bahwa personel yang dikerahkan dibagi menjadi empat unit pencarian dan penyelamatan untuk menyisir area yang membentang sekitar 1,25 km dari titik terakhir para pendaki terlihat.

Iwan mengatakan, para penyelamat bekerja dalam kondisi berbahaya karena gunung berapi terus meletus secara berkala.

“Keselamatan tim penyelamat tetap menjadi prioritas karena kondisi cuaca dan aktivitas vulkanik terus menghasilkan abu panas dan material lainnya,” katanya.

Anggota tim penyelamat gabungan menemukan wanita Indonesia tersebut sekitar pukul 14.30 waktu setempat pada tanggal 9 Mei, sekitar 50 meter dari tepi kawah.

 

Hujan Deras Paksa Tim Penyelamat Hentikan Evakuasi

Hujan deras memaksa para penyelamat untuk menghentikan pekerjaan dan berlindung setelah berjam-jam menyisir pasir vulkanik yang tebal.

Ketika hujan mereda, hanya bagian bawah tubuh wanita itu, dari kaki hingga pinggangnya, yang terlihat di atas abu. Jenazahnya ditemukan dan dibawa ke pos komando erupsi sebelum dipindahkan ke rumah sakit di Tobelo.

Rekaman yang dirilis oleh lembaga tersebut menunjukkan lebih dari selusin petugas penyelamat Indonesia bergerak berbaris satu per satu melalui hutan pegunungan yang lebat, helm dan seragam oranye mereka menonjol di antara pakis raksasa dan pohon-pohon yang ditutupi lumut.

 

Pos pengamatan Gunung Dukono
POS PENGAMATAN – Peta pos pengamatan Gunung Berapi Dukono yang terpampang di halaman kantor Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Desa Mamuya, Halmahera Utara, pos pengamatan ini menunjukkan menuju puncak Gunung Dukono di Maluku Utara, Indonesia.

 

Di jalan setapak yang sempit dan berlumpur, mereka melangkah dengan hati-hati melewati batang kayu yang tumbang dan tanah vulkanik yang licin saat mereka membawa korban di atas tandu menuruni lereng gunung.

Adegan tersebut menggarisbawahi kesulitan luar biasa dari operasi untuk mengevakuasi korban letusan Gunung Dukono, gunung berapi aktif di pulau terpencil Halmahera di Indonesia bagian timur.

Minggu, 10 Mei 2026, setelah jenazah yang tersisa ditemukan, Pangdam XV Pattimura Mayor Jenderal Dody Triwinarto mengatakan kepada wartawan bahwa misi evakuasi para korban telah selesai.

“Kami telah mengevakuasi semua korban yang meninggal,” ujarnya.

 

Sumber: Tubuh 2 Pendaki Singapura Hancur Tertimpa Batu Besar Saat Erupsi Gunung Dukono Halmahera Utara – TribunNews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *