Indonesia Menyapa, Tarakan – Ketahanan pangan menjadi salah satu fokus utama pemerintah dalam menghadapi tantangan pertumbuhan populasi dan perubahan iklim.
Optimalisasi lahan pertanian menjadi solusi strategis untuk meningkatkan produksi pangan dan mendukung kesejahteraan petani. Dalam upaya ini, berbagai pihak berkolaborasi untuk memastikan lahan yang belum termanfaatkan dapat diolah secara maksimal.
Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, menegaskan bahwa optimalisasi lahan adalah kunci ketahanan pangan nasional. Menurutnya, Indonesia perlu bergerak cepat untuk mengamankan produksi pangan.
“Melalui OPLAH 2025, kita tidak hanya memanfaatkan lahan tidur, tetapi juga memastikan setiap hektare tanah berkontribusi maksimal untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan meningkatkan kesejahteraan petani,” ujarnya.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Idha Widi Arsanti, menambahkan bahwa kesiapan sumber daya manusia sangat penting untuk kesuksesan program ini.
“Petani dan penyuluh adalah ujung tombak sektor pertanian. Dengan OPLAH 2025, kami memastikan pelatihan dan pendampingan intensif agar mereka bisa mengelola lahan lebih optimal dengan teknologi modern,” jelasnya.
Untuk mendukung percepatan swasembada pangan, Dinas Pertanian bersama Kodim TNI di Nunukan, Bulungan, Malinau, dan Tana Tidung menandatangani Perjanjian Konstruksi Optimasi Lahan (OPLAH) 2025 di Tarakan, Jumat (21/3/2025).
Acara ini disaksikan oleh Kepala Pusat Pelatihan Pertanian dan Brigadir Jenderal Putra Widiastawa, Koordinator Satgas Swasembada Pangan Kalimantan Utara.
Program ini menargetkan rehabilitasi dan pengelolaan lebih dari 15.000 hektare lahan rawa dan lahan tidur agar lebih produktif.
Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Inneke Kusumawaty, menegaskan bahwa OPLAH 2025 tidak hanya membangun infrastruktur pertanian, tetapi juga meningkatkan kapasitas petani agar lebih mandiri dan berdaya saing.
“Optimalisasi lahan harus diiringi dengan peningkatan keterampilan petani dan penyuluh. Dengan pendampingan intensif dan pemanfaatan alsintan yang tepat, kita bisa meningkatkan produksi pangan sekaligus menciptakan sistem pertanian yang lebih modern dan berkelanjutan,” kata Inneke.
Fokus utama program ini mencakup rehabilitasi lahan, pengadaan alsintan, serta pengelolaan lahan oleh TNI dan penyuluh.
Brigadir Jenderal Putra Widiastawa menegaskan bahwa keterlibatan TNI dalam program ini adalah bentuk sinergi lintas sektor untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
“Kami siap mendukung penuh optimalisasi lahan di Kalimantan Utara. Dengan kerja sama ini, target swasembada pangan bisa tercapai lebih cepat dan meningkatkan kesejahteraan petani lokal,” ujarnya.
Seluruh pihak berkomitmen untuk segera merealisasikan program ini guna meningkatkan produksi pangan dan mempercepat swasembada beras di Kalimantan Utara.

