Tragedi Anak SD di NTT Akhiri Hidup, Legislator Minta Sekolah Rakyat Lebih Tepat Sasaran

Peristiwa

Indonesia Menyapa, Jakarta — Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi Partai Golkar Atalia Praratya, menyoroti secara serius tragedi meninggalnya seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Peristiwa memilukan tersebut dinilai sebagai potret nyata dampak kemiskinan dan keterbatasan akses pendidikan yang masih dialami sebagian masyarakat, khususnya anak-anak di daerah tertinggal.

“Atas nama kemanusiaan, kita semua tentu berduka. Peristiwa ini harus menjadi refleksi bersama bahwa kemiskinan tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga pada kondisi psikologis anak dan relasi dalam keluarga,” kata Atalia, kepada wartawan Kamis (5/2/2026).

Sebagaimana diberitakan media, seorang anak kelas IV SD berusia 10 tahun berinisial YBR di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri.

Sebelum kejadian, korban menulis surat kepada ibunya dalam bahasa daerah Bajawa yang mengungkapkan kekecewaannya karena tidak dibelikan perlengkapan sekolah berupa buku tulis dan pulpen.

Dalam surat tersebut, korban juga menyampaikan pesan perpisahan agar sang ibu tidak bersedih dan tidak menangis atas kepergiannya.

Atalia menegaskan, kasus tersebut tidak boleh dilihat semata-mata sebagai persoalan keluarga, melainkan sebagai gambaran kerentanan sosial yang masih terjadi di wilayah dengan tingkat kemiskinan dan keterbatasan layanan dasar yang tinggi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) awal 2025, tingkat kemiskinan di NTT tercatat masih berada di angka 18,6 persen, jauh di atas rata-rata nasional sebesar 8,47 persen.

Kondisi tersebut didominasi wilayah pedesaan dengan angka kemiskinan mencapai 23,02 persen, sementara wilayah perkotaan berada di angka 8,11 persen.

Dalam konteks tersebut, Atalia menyoroti Program Sekolah Rakyat (SR) yang diinisiasi Kementerian Sosial sebagai upaya membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.

“Sekolah Rakyat adalah ikhtiar negara yang sangat strategis. Namun, keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh ketepatan sasaran, kualitas pendampingan, serta integrasi dengan layanan perlindungan sosial lainnya,” ucapnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara Kemendikbud, Kemensos, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), KPAI, pemerintah daerah, masyarakat, serta sekolah.

Menurutnya, sekolah tidak hanya harus menjadi tempat belajar yang aman secara fisik, tetapi juga mampu mendeteksi lebih dini potensi tekanan psikologis pada anak.

“Negara harus hadir tidak hanya melalui pembangunan fisik sekolah, tetapi juga melalui kepekaan sosial, pendampingan, dan keberpihakan nyata kepada anak-anak dari keluarga tidak mampu. Pendidikan adalah hak dasar, bukan beban,” ujarnya.

Lebih lanjut, Atalia menilai Program Sekolah Rakyat perlu lebih selektif dalam penentuan lokasi.

Dia menyoroti bahwa selama ini SR lebih banyak dibangun di wilayah perkotaan, sementara kemiskinan justru lebih dominan terjadi di pedesaan. Kondisi tersebut membuat anak-anak miskin di desa sulit menjangkau SR dan berpotensi merasa terasing dari lingkungan sosialnya.

Dengan pemilihan lokasi yang lebih tepat dan menyasar wilayah pedesaan, Atalia berharap Program Sekolah Rakyat benar-benar mampu menjangkau masyarakat miskin dan miskin ekstrem secara optimal.

Komisi VIII DPR RI, kata Atalia, akan terus mengawal kebijakan perlindungan sosial dan pendidikan inklusif agar setiap anak Indonesia, tanpa terkecuali, dapat tumbuh, belajar, dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Diberitakan sebelumnya, seorang siswa SDN Rutowaja, Desa Nenawea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan meninggal dunia di pohon cengkeh, Kamis (29/1/2026) siang.

Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban.

Korban diketahui berinisial YBR (10), pelajar kelas IV SD, warga Kampung Boloji, Desa Wawowae, Kecamatan Bajawa.

Saat ditemukan, korban tampak mengenakan baju olahraga berwarna merah.

Informasi yang diperoleh, saat mengevakuasi korban, warga menemukan sebuah pesan tertulis yang ditujukan kepada sang ibunda.

Pesan itu ditulis pada sebuah kertas berwarna putih.

Surat untuk Mama

Dalam selembar surat yang ditulis menggunakan bahasa daerah (bahasa Bajawa).

Kertas Ti’i Mama Reti”
Mama galo Ze’e
Mama Molo, Galo Ja’o Mata, Mama Ma’e Rita ee Mama

Mamo Galo Ja’o Mata, Ma’e Woe Rita Ne Gae Nga’o ee

MOLO MAMA

Menurut sumber warga asli Bajawa, isi surat itu adalah:

Kertas untuk mama Reti

Mama terlalu kikir,
Mama baik sudah, saya kalau mati jangan sampai menangis ee mama.

Mama, saya kalau mati jangan menangis dan cari saya ee.

Baik sudah mama.

 

Sumber: Tragedi Anak SD di NTT Akhiri Hidup, Legislator Minta Sekolah Rakyat Lebih Tepat Sasaran – TribunNews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *