Tak Hanya di Jalanan, Simbol Tiga Jari Kini Muncul di Forum Pemuda hingga CFD

Peristiwa

Indonesia Menyapa, Jakarta — Simbol tiga jari yang semula terlihat dalam aksi demonstrasi kini muncul di berbagai ruang publik di Indonesia.

Gestur yang dikenal sebagai three-finger salute itu terlihat dalam sejumlah kegiatan, mulai dari forum kepemudaan hingga aksi simbolik di ajang Car Free Day (CFD).

Kemunculannya di berbagai ruang tersebut memperlihatkan penggunaan simbol yang tidak lagi terbatas pada demonstrasi.

Di Indonesia Youth Summit 2026 yang berlangsung di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Jumat (30/10/2026), sejumlah peserta terlihat mengacungkan tiga jari ke arah Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad.

Aksi tersebut terjadi ketika Raffi Ahmad berada di atas panggung bersama Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir.

Berdasarkan sejumlah pemberitaan pada Sabtu (31/10/2026), seorang peserta yang berdiri dari tempat duduknya melakukan gestur tersebut sebelum dihampiri petugas keamanan dan diarahkan keluar ruangan.

Belum ada keterangan resmi mengenai maksud dan alasan peserta melakukan aksi tersebut. Karena itu, makna gestur tiga jari dalam peristiwa tersebut belum dapat dipastikan hanya berdasarkan rekaman video.

Simbol serupa juga terlihat dalam kegiatan yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Udayana di kawasan Car Free Day (CFD) Bali, Minggu (1/11/2026).

Meski hujan turun, sejumlah mahasiswa tetap menggelar aksi simbolik sejak pukul 07.00 Wita. Mereka mengajak pengunjung CFD menyampaikan aspirasi melalui tulisan yang ditorehkan pada lembaran vinyl baliho.

Beberapa peserta dan pengunjung juga terlihat mengacungkan tiga jari.

 

SIMBOL TIGA JARI - Gestur simbol tiga jari tampak di tengah aksi demonstrasi mahasiswa di depan Gedung UOB, Jalan MH Thamrin, dekat Bundaran HI, Jakarta, Rabu (28/10/2026). Simbol tersebut menandai solidaritas dan perlawanan mahasiswa yang menyuarakan lima kelompok tuntutan.
SIMBOL TIGA JARI – Gestur simbol tiga jari tampak di tengah aksi demonstrasi mahasiswa di depan Gedung UOB, Jalan MH Thamrin, dekat Bundaran HI, Jakarta, Rabu (28/10/2026). Simbol tersebut menandai solidaritas dan perlawanan mahasiswa yang menyuarakan lima kelompok tuntutan. (Tribunnews)

 

Koordinator Analisis dan Pergerakan BEM Universitas Udayana, Ni Kadek Sri Yulianti, mengatakan kegiatan tersebut dilatarbelakangi sejumlah persoalan yang dinilai belum diselesaikan secara tuntas.

Isu yang disoroti antara lain kebakaran hutan dan lahan (karhutla), korupsi, upah minimum provinsi (UMP) Bali yang dinilai masih di bawah standar hidup layak, serta persoalan bahan bakar minyak (BBM).

“Melihat sampai detik ini Indonesia, begitu juga Bali, masih mengalami banyak sekali permasalahan. Tidak hanya satu masalah, masih banyak seperti permasalahan karhutla yang memang belum selesai sampai saat ini, masih banyak korupsi di Indonesia, pun di Bali masih ada permasalahan UMP dan kemarin juga ada permasalahan BBM yang rasanya belum selesai,” ujar Sri Yulianti.

Menurut Sri, konsep aksi simbolik dipilih karena tidak semua masyarakat memiliki keberanian menyampaikan pendapat secara langsung melalui demonstrasi.

Melalui kegiatan tersebut, pengunjung CFD diberi kesempatan menyampaikan keresahan melalui tulisan, membaca, maupun berpartisipasi dalam penggalangan dana untuk membantu masyarakat terdampak karhutla di Kalimantan.

BEM Udayana juga berencana mengakomodasi tulisan yang terkumpul untuk dibawa dalam aksi lanjutan sebagai representasi aspirasi masyarakat Bali.

“Suara-suara ini akan kami akomodasi. Kemudian akan kami bawa pada aksi selanjutnya sebagai suara dari rakyat-rakyat kita yang ada di Bali, untuk merepresentasikan teman-teman di luar juga,” jelasnya.

Terkait kemungkinan aksi lanjutan, Sri mengatakan BEM Udayana masih membuka peluang untuk menggelar kegiatan serupa.

“Harapannya masyarakat di sini sekiranya sadar dengan apa yang sekarang terjadi di Indonesia, bahkan di Bali. Karena memang permasalahannya belum selesai dan pemerintah juga belum dapat menyelesaikan secara tuntas apa yang menjadi permasalahan dan keluh kesah dari kita,” pungkasnya.

 

Asal-usul Simbol Tiga Jari dari The Hunger Games

Gestur tiga jari dikenal luas melalui novel dan film The Hunger Games karya Suzanne Collins. Dalam cerita tersebut, gestur dengan mengangkat jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis digunakan sebagai tanda penghormatan, kekaguman, dan perpisahan.

Seiring perkembangan cerita, simbol itu berubah menjadi bentuk perlawanan terhadap Capitol, pusat kekuasaan yang menindas masyarakat dalam dunia fiksi tersebut.

Artikel Peta Freestone, Jessica Kruk, dan Lauren Gawne berjudul From Star Trek to The Hunger Games: Emblem Gestures in Science Fiction and Their Uptake in Popular Culture yang terbit di jurnal Linguistics Vanguard pada 2023 membahas bagaimana gestur dari karya fiksi dapat diadopsi dalam kehidupan nyata.

Penelitian tersebut menunjukkan salam tiga jari dari The Hunger Games telah digunakan demonstran di sejumlah negara Asia Tenggara sebagai gestur protes pro-demokrasi.

Namun, penelitian itu tidak menyimpulkan bahwa setiap orang yang mengacungkan tiga jari memiliki tujuan atau pandangan politik yang sama. Makna gestur tetap bergantung pada situasi dan kelompok yang menggunakannya.

 

Menjadi Simbol Protes di Thailand

Salah satu contoh penggunaan salam tiga jari dalam gerakan sosial terlihat di Thailand sejak 2014. Gestur tersebut digunakan dalam gerakan pro-demokrasi sebagai bentuk penolakan dan solidaritas antarpeserta aksi.

Penelitian Annie Hui berjudul Appropriating Dissent: The Three-Finger Salute and Thailand’s Pro-Democracy Movementyang terbit di Anthropological Notebooks pada 2020 mengkaji penggunaan simbol tersebut dalam gerakan pro-demokrasi Thailand.

Menurut penelitian itu, salam tiga jari menjadi sarana untuk menunjukkan identitas kolektif sekaligus menyampaikan ketidakpuasan terhadap kondisi sosial-politik.

Kajian Jane Reynoaldo, Bambang Srigati, dan Mohammad Solihin dalam Jurnal Komunikasi dan Media pada 2022 juga membahas simbol tersebut melalui foto jurnalistik demonstrasi pro-demokrasi Thailand pada Oktober 2020.

Dengan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes, penelitian itu mengaitkan salam tiga jari dengan tuntutan reformasi parlemen, reformasi konstitusi, dan penghentian intimidasi terhadap masyarakat.

Meski demikian, penggunaan simbol tersebut di Thailand tidak dapat dijadikan satu-satunya acuan untuk menafsirkan gestur serupa di Indonesia.

 

Muncul dalam Demonstrasi Mahasiswa di Jakarta

Di Indonesia, salam tiga jari terlihat dalam demonstrasi mahasiswa di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat, pada 20 Oktober 2026.

Aksi yang melibatkan aliansi mahasiswa dan elemen masyarakat sipil tersebut berkaitan dengan evaluasi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Dalam demonstrasi itu, Koordinator Sosial dan Politik BEM UI, Hafidz Hernanda, mengajak peserta mengacungkan tiga jari. Hafidz menyebut gestur tersebut sebagai lambang kemarahan, kekecewaan, dan perlawanan masyarakat terhadap pemimpin yang dinilai gagal.

Gestur serupa kembali terlihat dalam aksi #IndonesiaSadar di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Dalam aksi tersebut, BEM UI bersama sejumlah kelompok mahasiswa mengusung slogan “Sadar Dipalak, Sadar Dibakar, Sadar Dimiskinkan”.

Slogan tersebut menjadi bagian dari pesan kritik yang disampaikan peserta aksi, bukan makna harfiah dari gestur tiga jari.

Kemunculan simbol tiga jari dalam demonstrasi, forum kepemudaan, hingga kegiatan CFD memperlihatkan penggunaannya di berbagai ruang publik.

Meski memiliki sejarah sebagai simbol perlawanan dalam budaya populer dan gerakan pro-demokrasi, pemaknaannya di Indonesia tetap perlu dilihat berdasarkan konteks serta pesan dari pihak yang menggunakannya.

 

 

Sumber: Tak Hanya di Jalanan, Simbol Tiga Jari Kini Muncul di Forum Pemuda hingga CFD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *