Prabowo Pilih Jalan Ekonomi Indonesia: Gabungkan Paham Sosialisme dan Kapitalisme

Peristiwa

Indonesia Menyapa, Jakarta — Presiden Prabowo Subianto berbicara terkait mazhab ekonomi yang ingin dijalankannya di Indonesia.

Mulanya, Prabowo mengatakan selama 30 tahun, Indonesia menganut mazhab pasar bebas neoliberal.

Hanya saja, dalam rentang waktu tersebut, pemerintah gagal untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat dengan memegang filosofi ekonomi semacam itu.

Prabowo mengatakan hal tersebut bisa terjadi lantaran tidak ada intervensi dari pemerintah dan ekonomi seluruhnya diserahkan ke pasar.

“Dalam 30 tahun terakhir, kita melihat dominasi filosofi pasar bebas kapitalis klasik neoliberal, yang pada dasarnya cenderung laissez-faire (pasar tanpa adanya intervensi pemerintah) dan elite Indonesia mengikuti filosofi ini,” kata Prabowo saat berpidato di mimbar St Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2025 di Rusia, dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (21/6/2025).

“Dan oleh karena itu, menurut saya, kita tidak dapat menaikkan kemakmuran bagi rakyat,” sambungnya.

Prabowo mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia memang mencapai lima persen dalam tujuh tahun terakhir.

Namun, dengan adanya pertumbuhan ekonomi semacam itu, tak ada efek yang dirasakan oleh masyarakat bawah lantaran efek semacam itu hanya dinikmati elite.

Prabowo mengatakan hal ini menjadi dampak lainnya yang membuat Indonesia gagal untuk mempraktikkan mazhab ekonomi pasar bebas.

“Kesejahteraan tetap di atas, kurang dari satu persen. Dan ini bukanlah formula yang sukses menurut saya,” jelas Prabowo.

Sehingga, Prabowo menginginkan tiap negara, termasuk Indonesia, menganut filosofi ekonomi yang dirasa memang cocok.

Ketua Umum Gerindra itu pun menyatakan, di bawah kepemimpinannya, Indonesia bakal menganut mazhab ekonomi yaitu dengan menggabungkan paham sosialisme dan kapitalisme.

“Sosialisme murni telah kita lihat tidak dapat berjalan dengan baik. Itu utopia. Sosialisme murni di mana kita melihat, orang menjadi tidak mau bekerja.”

“Kapitalisme murni membuat adanya ketimpangan, menghasilkan hanya segelintir orang yang menikmati hasil kekayaan,” tegasnya.

Prabowo pun merinci penggabungan dua paham ekonomi tersebut yaitu penggabungan kreativitas hingga inovasi dari kapitalisme dan tetap adanya intervensi dari negara seperti yang diajarkan dalam paham sosialisme.

“Kita ingin mengambil jalan tengah yaitu memakai kreatifitas, inovasi, dan inisiatif dari paham kapitalisme. Ya kita membutuhkannya.”

“Tapi kita perlu intervensi pemerintah untuk mengatasi kelaparan dan adanya intervensi untuk melindungi masyarakat miskin,” ujarnya.

Prabowo menambahkan saat ini kemiskinan di Indonesia masih sulit diberantas lantaran kekayaannya masih dikuasai segelintir elite.

Adapun segelintir tersebut adalah konglomerat, pejabat, dan politikus.

Dia mengatakan kelompok tersebut saling berkolisi yang berakibat masyarakat miskin sulit keluar dari garis kemiskinan tersebut untuk naik ke kelas menengah.

“Ada bahaya di negara-negara berkembang seperti Indonesia dari apa yang kita anggap sebagai bahaya penguasaan negara.”

“(Yaitu) kolusi antara pemodal besar dengan pejabat pemerintah dan elite politik. Pada akhirnya, kolusi antara kelompok ini tidak membuahkan hasil pengentasan kemiskinan dan perluasan kelas menengah,” pungkasnya.

 

Sumber: Prabowo Pilih Jalan Ekonomi Indonesia: Gabungkan Paham Sosialisme dan Kapitalisme – TribunNews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *