Indonesia Menyapa, Jakarta — Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), mengingatkan masyarakat dan pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan serta kesiapsiagaan menghadapi berbagai ancaman bencana di sejumlah wilayah Indonesia.
Menurutnya, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas dalam menghadapi kondisi kebencanaan yang terus terjadi.
Diketahui sepanjang 2026, BNPB mencatat terjadi lebih dari 1700 kejadian bencana alam yang didominasi bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, tanah longsor, cuaca ekstream, bencana geilogi serta karhutla.
Ibas menilai Indonesia memiliki tingkat risiko kebencanaan yang tinggi.
Karena itu, upaya menghadapi bencana tidak boleh hanya dilakukan setelah musibah terjadi, tetapi harus diperkuat melalui mitigasi dan kesiapsiagaan sejak dini.
Hal tersebut disampaikan Ibas saat menjadi Keynote Speaker dalam Seminar Kebangsaan Fraksi Partai Demokrat bertema “Muda Berkarya, Ekonomi Berdaya, Indonesia Maju: Ekonomi Kreatif, Politik, dan Demokrasi” di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Dalam kesempatan itu, Ibas yang merupakan anggota DPR empat periode dari Dapil Jatim VII ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memberikan perhatian kepada warga yang tengah menghadapi bencana di berbagai daerah, mulai dari gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), kebakaran kawasan adat di Nusa Tenggara Barat (NTB), kekeringan di sejumlah wilayah Jawa, hingga kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.
“Mari kita ingat saudara-saudara kita yang sedang menghadapi musibah. Kita menyaksikan gempa di NTT, kebakaran kawasan adat di NTB, kekeringan di sejumlah wilayah Jawa, kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, serta berbagai bencana lainnya,” kata Ibas, Senin (7/9/2026).
Ibas juga menyoroti aktivitas erupsi Anak Gunung Krakatau yang menurutnya menjadi pengingat akan tingginya risiko kebencanaan yang dihadapi Indonesia.
Ia menegaskan, bencana tidak hanya menimbulkan kerusakan terhadap infrastruktur dan lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat di berbagai sektor, termasuk transportasi, pendidikan, dan perekonomian.
“Dampaknya bukan hanya kerusakan fisik. Transportasi terganggu, pendidikan terganggu, aktivitas ekonomi terganggu. Dan yang paling penting, keselamatan masyarakat terancam,” ujar lulusan S3 Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan predikat Cum Laude itu.
Atas kondisi tersebut, Ibas meminta masyarakat tetap waspada dan tidak mengabaikan aspek keselamatan saat menjalankan aktivitas sehari-hari. Ia juga mengingatkan pentingnya mengikuti informasi resmi dari otoritas terkait serta mematuhi protokol keselamatan dan kesehatan yang berlaku.
“Tetap produktif, tetapi jangan mengabaikan keselamatan,” ucapnya.
Selain kesiapsiagaan masyarakat, Ibas menekankan pentingnya pemerintah memperkuat sistem mitigasi bencana secara terpadu.
Menurutnya, pemerintah harus memastikan sistem tersebut mampu memberikan perlindungan yang optimal kepada masyarakat ketika menghadapi berbagai ancaman bencana.
“Kita harus terus mengawal pemerintah untuk memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan,” kata Ibas kelahiran Bandung 24 November 1980.
Ibas berpandangan bahwa pembangunan nasional tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi. Ketahanan masyarakat dalam menghadapi berbagai risiko, termasuk bencana alam, juga harus menjadi bagian penting dari pembangunan Indonesia.
Ia menegaskan, ukuran kekuatan suatu negara bukan terletak pada kemampuan untuk terbebas dari bencana, melainkan pada kesiapan menghadapi bencana dan kemampuan negara melindungi rakyat.
“Negara yang kuat bukan negara yang tidak pernah menghadapi bencana. Negara yang kuat adalah negara yang siap menghadapi bencana dan mampu melindungi rakyatnya,” tandas anak dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan alm Ani Yudhoyono tersebut.
Sumber: Pimpinan MPR RI Ingatkan Ancaman Bencana: Mitigasi Tak Boleh Menunggu Musibah Datang

