Indonesia Menyapa, Jakarta — Ketua Umum Pengurus Besar Federasi Karate-Do Indonesia (PB FORKI), Marsekal TNI (Purn.) Hadi Tjahjanto, menunjuk Shihan Dr. Ucok Marisi Sihotang, S.H., M.H., sebagai Direktur Teknik Guardian Girls Karate (GGK) Indonesia. Penunjukan tersebut dilakukan untuk memperkuat pelaksanaan program GGK di Indonesia sebagai bagian dari upaya membekali perempuan dengan kemampuan dasar bela diri melalui olahraga karate.
Guardian Girls Karate Indonesia terbentuk berdasarkan licensing agreement antara World Karate Federation (WKF) sebagai induk organisasi karate dunia dan PB FORKI. Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Presiden WKF, Antonio Espinos Ortueta dan Ketua Umum PB FORKI, Hadi Tjahjanto sebagai dasar pengembangan program GGK di Indonesia melalui kegiatan seminar dan pelatihan.
“Guardian Girls Karate Indonesia telah terbentuk secara sah di bawah naungan Federasi Karate-Do Indonesia berdasarkan licensing agreement antara World Karate Federation sebagai induk organisasi karate dunia dengan FORKI,” ujar Hadi Tjahjanto saat memberikan arahan kepada Direktur Teknik GGK dan instruktur GGK Indonesia, Sensei Puspa Meonk, di Pendopo Wijaya, Cilandak, Jakarta, Rabu sore.
Menurutnya, setelah terbentuknya GGK Indonesia, langkah selanjutnya adalah melengkapi personel sekaligus menyusun program yang sesuai dengan arahan WKF. Ia menjelaskan, program GGK tidak hanya ditujukan untuk mengenalkan olahraga karate, tetapi juga memberikan bekal dasar bela diri kepada perempuan yang belum memiliki kemampuan tersebut.
“Saya berharap program-program GG Karate selain melatih para perempuan Indonesia yang belum memiliki basic bela diri, untuk dibekali dasar karate dalam menghadapi ancaman baik berupa agresor maupun pelecehan terhadap perempuan, kegiatan ini juga sebagai misi kemanusiaan yang dapat dilakukan GGK Indonesia,” tutur Hadi Tjahjanto.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa penunjukan Shihan Ucok Marisi Sihotang sebagai Direktur Teknik GGK Indonesia telah dituangkan melalui Surat Keputusan Ketua Umum PB FORKI. Dengan demikian, pelaksanaan program GGK Indonesia berada dalam koordinasi dan pembinaan PB FORKI.
Dalam pelaksanaannya, GGK Indonesia didukung dua instruktur perempuan yang telah memiliki lisensi GGK dari WKF, yakni Sensei Puspa Meonk dan Sensei Tenne. Keduanya mengikuti pelatihan GGK Internasional WKF pada Maret 2026 yang berafiliasi dengan Kayomada International Foundation di Osaka, Jepang.
Menurutnya, keberadaan instruktur yang telah mengikuti pelatihan internasional menjadi salah satu dukungan dalam menjalankan pelatihan dan pembinaan GGK di Indonesia sesuai dengan misi yang telah ditetapkan. “Dengan dua srikandi karate yang telah memiliki lisensi GGK International maka pelatihan dan pembinaan GGK di Indonesia akan berjalan sesuai misi tersebut,” lanjutnya.
Ketum PB FORKI berharap GGK Indonesia dapat terus berkembang dan menjangkau perempuan di berbagai wilayah Indonesia. Program tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya memberikan keterampilan bela diri sekaligus mendukung misi kemanusiaan melalui olahraga karate.
“GGK Indonesia berkomitmen untuk memajukan GGK di seluruh Indonesia melalui Federasi Karate-Do Indonesia sejalan dengan misi membantu perempuan Indonesia menghadapi situasi kekerasan berbasis gender melalui praktik olahraga karate,” pungkas Hadi Tjahjanto.

