Indonesia Menyapa, Jakarta — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali memukul daya beli masyarakat.
Kenaikan harga BBM non subsidi ini merata, terjadi di sejumlah daerah di Indonesia.
Pertamina melakukan penyesuaian harga BBM lantaran beberapa faktor, tidak lepas dari berbagai pertimbangan, seperti pergerakan rata-rata harga minyak mentah dunia.
Dan juga nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus berfluktuasi.
Di samping faktor ekonomi, dinamika geopolitik global juga berperan besar dalam menentukan arah kebijakan tersebut.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran, ikut memberi tekanan terhadap pasokan dan harga energi di tingkat global.
Dalam situasi yang diwarnai kekhawatiran akan kelangkaan BBM akibat konflik tersebut, pemerintah melalui Pertamina akhirnya melakukan penyesuaian harga untuk sejumlah BBM non subsidi.
Tiga jenis yang mengalami lonjakan signifikan adalah Pertamax Turbo, Pertamina Dex (Pertadex), dan Dexlite.
Lantas berikut beberapa pantauan dampak kenaikan harga BBM di berbagai daerah:
Harga Pertamax Turbo di Jateng Naik Hampir Rp 10 Ribu
Di wilayah Jawa Tengah (Jateng), harga Pertamax Turbo mengalami lonjakan drastis.
Sebelumnya dibanderol Rp13.100 per liter, kini naik menjadi Rp19.400 per liter atau meningkat sebesar Rp6.300.
Kenaikan lebih tinggi bahkan terjadi pada Pertamina Dex. Harga BBM jenis ini melonjak dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter, atau naik Rp9.400.
Sementara itu, Dexlite juga mengalami peningkatan tajam. Dari harga sebelumnya Rp14.200 per liter, kini menjadi Rp23.600 per liter, dengan kenaikan sebesar Rp9.400, mengutip TribunJateng.com.
Di sisi lain, harga Pertamax dan Pertamax Green dilaporkan tidak mengalami perubahan pada periode kali ini, meskipun sebelumnya sempat mengalami penyesuaian pada Februari 2026.
Masyarakat diimbau untuk terus memantau perkembangan harga BBM secara berkala, mengingat harga BBM non subsidi dapat berbeda di tiap wilayah dan sewaktu-waktu berubah mengikuti kebijakan serta kondisi global.
Warga Menyesal Tak Isi Tangki BBM Full
Sejumlah warga mengaku terkejut dengan lonjakan yang dinilai cukup tinggi.
Salah satunya Ihsan (28), yang mengaku menyesal karena tidak sempat mengisi penuh tangki kendaraannya sebelum tarif baru diberlakukan.
“Jujur, begitu tahu harganya naik, langsung kepikiran kenapa tidak isi penuh dari semalam. Kenaikannya lumayan besar, jadi cukup bikin kaget,” ujar Ihsan saat ditemui di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026).
Ia menilai, kenaikan tersebut berdampak langsung pada pengeluaran bulanannya yang kini terasa semakin berat.
Meski begitu, Ihsan mengaku belum berniat beralih ke jenis BBM lain dan tetap memilih menggunakan Pertamax Turbo.
Menurutnya, kualitas bahan bakar masih menjadi pertimbangan utama, mengutip Kompas.com.

Ia juga menyebut masih kurang cocok dengan Pertamax, serta menilai pembakarannya tidak sebersih Turbo.
Hal serupa disampaikan pengguna lain, Yusuf (33). Ia memperkirakan pengeluaran bulanannya untuk BBM yang sebelumnya berada di kisaran Rp 1,8 juta hingga Rp 2 juta berpotensi meningkat akibat kenaikan harga tersebut.
“Sekarang saja sudah sekitar Rp 1,8 sampai Rp 2 jutaan per bulan. Kalau naik lagi, pasti bisa lebih dari itu,” katanya.
Yusuf mengaku cukup terkejut, meski sejak awal sudah memahami bahwa penggunaan BBM seperti Pertamax Turbo memiliki risiko fluktuasi harga. Kendati pengeluaran bertambah, ia tetap memilih bertahan karena menilai penggunaan Turbo lebih efisien dan mendukung performa kendaraan.
“Untuk sekarang masih pakai Turbo. Kalau dihitung-hitung, sebenarnya lebih hemat di konsumsi. Dulu juga selisihnya tipis dengan Pertamax, jadi sekalian pilih yang kualitasnya lebih baik,” ujarnya.
Jenis Mobil-mobil yang Kena Imbas
Kenaikan ini dinilai berdampak langsung ke mobil bermesin diesel modern (common-rail) yang memang direkomendasikan pakai solar berkualitas tinggi seperti Dex / Dex Lite (setara Euro 4–5).
Diketahui mesin diesel modern butuh bahan bakar bersih (sulfur rendah), sehingga tidak cocok solar subsidi biasa.
Berikut beberapa jenis mobil yang kena imbas, mengutip Tribun-Timur.com:
- Toyota Fortuner (2.4 / 2.8 diesel)
- Mitsubishi Pajero Sport
- Toyota Hilux (double cabin)
- Isuzu MU-X
- Hyundai Santa Fe (varian diesel lama)
- Kia Sorento (generasi sebelumnya)
- Toyota Innova Reborn Diesel
- Toyota Kijang Innova Zenix Diesel
- Mitsubishi Triton
- Isuzu D-Max
- Ford Ranger

