Indonesia Menyapa, Jakarta — Nama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia tengah menjadi pusat perhatian publik di wilayah Solo Raya melalui dua kabar berbeda yang mencuat secara simultan.
Sorotan tersebut mencakup fenomena budaya digital berupa lagu parodi yang viral di media sosial hingga realisasi proyek infrastruktur fisik berupa pelebaran jalan desa di Kabupaten Sragen.
Kabar pertama datang dari Kota Solo, ketika Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), dibuat keheranan oleh suara nyanyian dari halaman rumah kediamannya di Jalan Kutai Utara, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari.
Melalui unggahan di media sosial dari Solo pada Sabtu (30/5/2026), Jokowi mengaku sempat penasaran saat mendengar keramaian yang terjadi di depan kediamannya yang berada di Gang Kutai Utara tersebut.
Saat memeriksa ke area depan rumah, Jokowi mendapati sekelompok anak muda sedang bersemangat berjoget sembari melantunkan lagu parodi “MBG” yang sedang tren di platform TikTok.
Merespons kegembiraan para pemuda itu, Jokowi bahkan memberikan isyarat jari hati (sonkarak hate), sebuah tanda membentuk hati menggunakan telunjuk dan jempol yang jamak dipopulerkan oleh para bintang Korea Selatan.
“Rupanya lagu Pak Bahlil sudah sampai ke halaman rumah. Awalnya saya kira ada apa di depan rumah saya di Gang Kutai Utara, Solo. Ternyata anak-anak muda lagi semangat joget sambil menyanyikan ‘Mas Bahlil ganteng’,” ungkap Jokowi melalui postingan akun Instagram pribadinya.
Lagu parodi berjudul Kanda My Little Bolu Ketan yang dirilis oleh akun TikTok @vokaliz_netizen pada 29 April 2026 tersebut dikenal rutin membuat lagu berbasis kecerdasan buatan (AI).
Uniknya, singkatan MBG dalam lagu ini diplesetkan oleh warganet menjadi ‘Mas Bahlil Ganteng’, bukan program Makanan Bergizi Gratis.
Liriknya sendiri merupakan kompilasi komentar absurd netizen dari sebuah video siniar (podcast) Bahlil yang membahas panggilan “Kanda”, hingga melahirkan plesetan makanan dan rayuan bercanda seperti “Buah apa yang paling manis? Buahlil” dan “My little bolu ketan”.
Fenomena ini melesat tajam sejak akhir April hingga Mei 2026 setelah pembuat konten Sania Leonardo melalui akun TikTok @panggilakubambang mengunggah video reaksi yang kini menembus lebih dari 42 juta tayangan.
Format liriknya yang jenaka membuat lagu ini mudah diingat dan meluas ke berbagai kalangan, bahkan hingga anak-anak usia TK pun sudah piawai menyanyikannya di media sosial dengan total penggunaan menembus 88 ribu video turunan.
Publik pun dibuat penasaran dengan sosok asli di balik lagu tersebut, termasuk sang pemilik nama sendiri.
Melalui interaksi di akun Instagram pribadi selebritas Raffi Ahmad (@raffinagita1717), Bahlil Lahadalia mengaku penasaran dan berniat mengundang sang pencipta lagu untuk bincang-bincang dan makan bersama jika yang bersangkutan berkenan.
Meskipun sangat menghargai kreativitas digital para generasi muda di era demokrasi media sosial, Bahlil menitipkan pesan penting agar proses berkarya tetap dipergunakan secara terukur.
Mantan Ketua Hipmi ini mengingatkan agar konten kreatif tidak masuk ke ranah sensitivitas suku, agama, ras, dan antar-budaya (SARA) karena berpotensi memicu keretakan solidaritas sesama anak bangsa.
Fakta Proyek Jalan Menuju Desa Istri Bahlil di Sragen
Pemerintah Kabupaten Sragen merampungkan proyek pelebaran jalan sepanjang 2,148 kilometer yang menghubungkan Desa Tenggak dengan Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo.
Jalur strategis di dekat Gerbang Tol Sragen ini dikenal warga lokal sebagai akses utama menuju rumah keluarga Sri Suparni, istri Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Dikutip dari Kompas.com, kondisi jalan kini tampak lebih lebar dan mulus, membentang dari bagian timur Desa Tenggak hingga memasuki wilayah Desa Sribit, di mana warga menyambut positif peningkatan infrastruktur tersebut.
Sebelum proyek berjalan, ruas jalan utama desa yang menjadi akses penting warga menuju Jalan Raya Sragen-Gemolong di sisi barat dan pusat Kota Sragen di sisi timur ini hanya memiliki lebar sekitar 4 hingga 5 meter.
Akibatnya, ketika dua mobil berpapasan, salah satu kendaraan harus menepi atau mengalah untuk memberi jalan, sehingga dengan kondisi jalan yang sekarang diperlebar masing-masing 1 meter di kedua sisinya, arus lalu lintas dinilai menjadi lebih lancar dan nyaman bagi pengguna jalan.
Proyek bernilai Rp1,16 milar ini bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) APBD Perubahan Tahun Anggaran 2025.
Kemunculan proyek ini sempat memicu asumsi adanya hak istimewa pejabat pusat, namun Kepala Desa Sribit, Sutaryo, yang juga kerabat Sri Suparni, membantah tegas hal tersebut saat ditemui Jumat (5/6/2026).
Sutaryo menjelaskan bahwa perluasan jalan ini sudah lama diusulkan karena kondisi jalur lama yang sempit sering memicu kecelakaan.
Aspirasi yang sempat tertunda sejak era Bupati Kusnidar Untung Yuni Sukowati tersebut baru terealisasi pada Mei 2026 karena giliran anggaran daerah.
“Jadi bukan karena ada keluarga pejabat yang sering pulang lewat ke sini. Bukan karena itu. Tidak ada hubungannya sama sekali. Cuma pas kebetulan saja dapat giliran anggarannya pas era Bupati Sragen sekarang,” tegas Sutaryo.
Sutaryo menambahkan, Sri Suparni yang merupakan warga asli Dusun Semen sudah lama menetap di Jakarta setelah sebelumnya merantau ke Papua.
Karena kedua orang tuanya sudah meninggal dunia, aktivitas pulang kampung ke Sragen kini hanya dilakukan sesekali pada momen tertentu seperti mudik Lebaran.
“Bapak-ibunya sudah seda (meninggal). Kalau pulang ke sini sowan ke keluarga lebih tua,” tutur Sutaryo.

