8 WNI Diduga Direkrut Jadi Tentara Rusia, Ini Kata Menlu

Peristiwa

Indonesia Menyapa, Jakarta — Delapan Warga Negara Indonensia (WNI) diduga ikut dalam militer Rusia. Hal itu pertama kali diungkap oleh Badan Intelijen Luar Negeri Ukraina (FISU), yang turut menyertakan dokumen identitas para WNI tersebut.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono mengatakan, Kementerian Luar Negeri masih terus mendalami informasi mengenai 8 WNI yang diduga bergabung dengan tentara bayaran Rusia itu.

“Kementerian Luar Negeri bersama instansi terkait terus mendalami informasi yang kami terima beberapa hari lalu terkait keterlibatan 8 warga negara Indonesia yang diduga direkrut,” ujar Sugiono dalam keterangannya, Jumat (4/9/2026).

Sugiono menekankan bahwa tugas Kementerian Luar Negeri adalah memberi perlindungan terhadap warga negara Indonesia.

Menurutnya, setiap hak-hal konsuler akan dipenuhi oleh Kementerian Luar Negeri, sepanjang tidak ditemukan unsur-unsur yang menyebabkan mereka kehilangan kewarganegaraan.

“Hak-hak konsuler yang kami harus penuhi sepanjang tidak ditemukan unsur-unsur yang menyebabkan mereka kehilangan kewarganegaraan,” imbuhnya.

 

Diungkapkan Ukraina

Dinas Intelijen Asing Ukraina (SZRU) merilis identitas delapan warga negara Indonesia (WNI) yang diklaim telah direkrut Rusia menjadi tentara dalam perang melawan Ukraina.

Menurut berita yang diterbitkan di laman resmi SZRU, Kamis, (27/8/2026), para WNI itu mengisi kekosongan tentara di garis depan pertempuran. Mereka juga dijadikan sarana mendukung narasi Rusia masyarakat dunia mendukung perang yang dikobarkan Rusia.

“Alasan lain merekrut warga asing adalah meningkatnya ketidakpuasan di dalam negeri mengenai situasi sosial dan ekonomi, perang, dan rencana gelombang mobilisasi baru (angka ketidakpuasan mencapai 69 persen) dan konsekuensinya adalah menurunnya juga orang yang bersedia mendaftar sebagai relawan. Indonesia menjadi contoh terbaru pola ini,” kata SZRU.

Menurut SZRU, nama-nama orang Indonesia yang menjadi tentara Rusia itu didapatkan dinas itu dari dokumen-dokumen yang diperolehnya.

Para WNI, kata SZRU, menjadi canon fodder atau ‘pakan meriam’, yaitu tentara yang sengaja ditempatkan di medan tempur untuk dikorbankan sebagai sasaran meriam lawan.

Dinas tersebut mengklaim para WNI tertarik mendukung Rusia karena diimingi bayaran besar, ditempatkan pada posisi yang bukan posisi tempur, kewarganegaraan Rusia, dan keuntungan sosial. Namun, mereka tidak tahu ke mana sebenarnya mereka akan dikerahkan.

“Pola yang sama telah digunakan sebelumnya terhadap warga negara Nepal, Kuba, Kenya, dan India. Sebagian besar dari mereka berakhir di garis depan tanpa dibekali pelatihan, dan beberapa tewas dalam beberapa minggu pertama,” ungkap SZRU.

“Indonesia, negara dengan populasi muslim terbesar, yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa, telah masuk dalam negara-negara yang dipilih Rusia menjadi sumber tentara yang murah untuk perang.”

 

Diduga Korban Penipuan

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengungkapkan, berdasarkan informasi dari otoritas intelijen Indonesia, kedelapan WNI tersebut diduga kuat menjadi korban penipuan.

Para WNI awalnya ditawari lowongan pekerjaan sipil, seperti tenaga keamanan (satpam) dan tenaga administrasi, dengan iming-iming gaji besar.

Perekrutan tersebut dilakukan oleh negara pihak ketiga, sehingga para WNI tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya dipersiapkan untuk medan perang.

“Jadi kami mendapatkan informasi dari otoritas intelijen kita bahwa perekrutan tentara itu kemudian dilakukan oleh negara pihak ketiga, yang kemudian membuat seolah-olah itu adalah lowongan satuan pengamanan ataupun kemudian tenaga administrasi yang diiming-imingi oleh gaji yang besar,” kata Dasco, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Dasco menjelaskan, para WNI tersebut awalnya mendaftar untuk pekerjaan yang ditawarkan.

Namun, setelah melalui proses perekrutan, mereka kemudian dikirim dan diarahkan untuk menjadi tentara.

“Nah, para WNI ini kemudian mendaftar, lalu kemudian dari situ akhirnya dikirim untuk menjadi tentara. Begitu informasi yang kami dapat,” ucapnya.

Lebih lanjut, Dasco mengatakan pemerintah telah mengambil langkah antisipasi menyikapi informasi tersebut.

Otoritas intelijen bersama Kementerian Luar Negeri (Kemlu) disebut telah melakukan koordinasi untuk menindaklanjuti dugaan perekrutan tersebut.

“Dan pada saat ini, otoritas intelijen dan Kementerian Luar Negeri sudah melakukan antisipasi, berkoordinasi, dan kemudian mengirimkan utusan kepada negara-negara tersebut,” tandas Dasco.

Fenomena keterlibatan WNI dalam dinas militer Rusia rupanya bukan kali pertama terjadi. Motif ekonomi kerap menjadi pendorong utama di balik nekatnya sejumlah WNI terjun ke medan konflik.

Sebelumnya, publik juga sempat dihebohkan oleh kasus mantan anggota Marinir, Satria Arta Kumbara, serta eks personel Brimob Polri, Muhammad Rio, yang diketahui ikut bergabung dengan militer Rusia dengan alasan faktor ekonomi.

 

Sumber: 8 WNI Diduga Direkrut Jadi Tentara Rusia, Ini Kata Menlu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *