Indonesia Menyapa, Jakarta — Edukator kebencanaan, Daryono mendesak pemerintah untuk mengevaluasi operasi keselamatan dalam upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia menyusul gugurnya belasan relawan atau petugas.
Daryono juga meminta pemerintah agar mengutamakan keselamatan personel yang terlibat dalam memadamkan api.
Diketahui, hingga artikel ini ditulis pada Senin (26/10/2026), tercatat ada 12 relawan dan warga meninggal dunia saat memadamkan api karhutla, yang terdiri atas 10 petugas/relawan pemadam dan dua warga yang ikut membantu pemadaman.
Kalimantan Tengah
- Akhmad Rijani – Ketua Tim Serbu Api Kelurahan (TSAK) Palangka, Palangka Raya.
Ia meninggal dunia pada 27 Agustus 2026 setelah perawatan di RS; kondisi menurun pascabertugas di Jalan Rungan Ujung pada 22 Agustus 2026. - Ahmadin alias Itam Madin – Relawan Damkar Huma Singgah Itah/Satgas Karhutla BPBD Kotawaringin Barat.
Ia meninggal dunia pada 30 Agustus 2026, beberapa hari setelah bertugas; sempat sesak napas dan dirawat karena kelelahan. - Aries Sutio Luthfil Hadi – Anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) Kotawaringin Barat.
Ia gugur pada 10 September 2026.
Kalimantan Selatan
- Nurdin alias Amang Udin – Relawan Damkar (BPK Kayu Bulan / Regu 03, Barito Kuala).
Ia meninggal dunia pada Rabu, 21 Oktober 2026 saat memadamkan karhutla di Simpang Empat Handil Bakti; sempat mengeluhkan nyeri dada dan sesak napas.
Jawa Timur
Ada enam relawan yang gugur saat menjalankan tugas pemadaman kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Resort Tengger Laut Pasir, Seksi PTN Wilayah I, Kabupaten Probolinggo.
- Sukaris (55) – Petugas BB TNBTS, warga Dusun Wonokitri, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.
Ia meninggal dunia di lokasi kejadian pada Kamis (15/10/2026). - Hendra Roni Wagiyanata (33) – Petugas BB TNBTS, warga Dusun Krajan II, Desa Jetak, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Ia meninggal dunia di lokasi kejadian pada Kamis (15/10/2026). - Wisnu Yuda Pratama (26) – Karyawan Artotel (HR Admin), warga Dusun Krajan, Desa Lumbang, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo.
Ia meninggal dunia di lokasi kejadian pada Kamis (15/10/2026). - Sefriel Ardiansyah (19) – Karyawan Artotel (General Maintenance), warga Jalan Serayu, Kelurahan Jrebeng Kulon, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo.
Ia meninggal dunia di lokasi kejadian pada Kamis (15/10/2026). - Munawi (44) – Masyarakat Mitra Polhut (MMP) BB TNBTS, warga Dusun Krajan, Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo Ia meninggal dunia di RSUD Dr Soetomo pada Senin (19/10/2026).
- Suraji (44) – DW Security Artotel PT. Mitra Indo Permai), warga Desa Lumbang, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Ia meninggal dunia pada Jumat (23/10/2026).
Sementara itu, menurut unggahan Daryono di akun media sosial Instagram @daryono, Sabtu (24/10/2026), dua korban meninggal dunia dari unsur warga yang ikut memadamkan api, yakni satu orang di Kalimantan Timur dan satu orang di Sumatra Selatan.
Pemerintah Didesak Evaluasi Sistem Keselamatan Operasi Penanganan Karhutla
Melalui unggahannya, Daryono menilai data korban tewas tersebut menunjukkan tingginya risiko dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tidak hanya bagi petugas dan relawan, tetapi juga bagi masyarakat yang secara sukarela membantu pemadaman.
“Karena itu, keselamatan seluruh personel harus menjadi prioritas utama melalui penilaian risiko, penyediaan alat pelindung diri (APD), pelatihan keselamatan, pengawasan operasi, serta kesiapan jalur evakuasi,” kata Daryono dalam unggahannya, dikutip Senin (26/10/2026).
Eks Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tersebut menegaskan, nyawa para petugas yang berjuang memadamkan api tidak boleh diabaikan.
Oleh karenanya, ia mendesak agar pemerintah mengevaluasi sistem keselamatan operasi penanganan karhutla, yang meliputi penilaian risiko, penyediaan APD (alat pelindung diri), hingga penentuan jalur evakuasi.
“Yang pertama harus dievaluasi adalah sistem keselamatan operasinya, bukan sekadar tindakan individu masing-masing relawan,” ucap Daryono.
Daryono lantas merinci hal-hal yang harus diperhatikan sebelum petugas atau relawan diturunkan, yakni:
1. Penilaian Risiko.
Memeriksa arah dan kecepatan angin, kondisi api, ketebalan asap, jenis vegetasi, serta potensi api mengepung petugas.
2. Pemeriksaan Kesehatan.
Mengecek tekanan darah, denyut nadi, kondisi pernapasan, riwayat penyakit jantung atau asma, serta tingkat kelelahan dan dehidrasi yang melemahkan fisik petugas dan relawan.
3. Pembekalan Keselamatan.
Memberikan pengarahan tentang bahaya api dan asap, cara menggunakan APD, prosedur komunikasi, serta kapan harus menghentikan pemadaman dan menyelamatkan diri.
4. Penyediaan APD Standar.
Memastikan petugas menggunakan pakaian pelindung tahan api sesuai standar, helm, sarung tangan, sepatu keselamatan, pelindung mata, serta perlindungan pernapasan yang sesuai dengan tingkat bahaya.
5. Penentuan jalur evakuasi.
Dalam setiap operasi harus menetapkan jalur keluar yang aman, titik kumpul atau zona aman, serta prosedur penarikan personel apabila arah angin berubah atau api membesar.
“Intinya sebelum relawan diterjunkan, harus dipastikan bahwa risikonya sudah dinilai, kesehatannya layak, personelnya terlatih, perlengkapannya memadai, dan jalur penyelamatannya jelas,” papar Daryono.
“Relawan datang untuk menyelamatkan masyarakat dan lingkungan. Karena itu, keselamatan mereka harus menjadi prioritas utama.”

Data Nusantara Atlas: Total 1,9 Juta Hutan dan Lahan di Indonesia Terbakar Sejak Awal 2026
Sebelumnya, The Straits Times melaporkan, api sudah membumihanguskan lebih dari 1,9 juta hektar (1.916.588 hektar) hutan dan lahan di Indonesia sejak Januari hingga akhir September 2026.
Angka tersebut disampaikan oleh lembaga pemantau deforestasi, Nusantara Atlas, pada Senin (19/10/2026).
Data terbaru ini muncul di tengah penolakan pejabat Indonesia terhadap seruan untuk menetapkan kebakaran kali ini sebagai bencana nasional.
Pemerintah menyatakan bahwa Indonesia “masih mampu menangani situasi ini sendiri,” menyusul tawaran bantuan kembali dari negara tetangga, Malaysia.
Dari data Nusantara Atlas tersebut, itu berarti luas lahan yang terbakar di Indonesia sepanjang tahun 2026 mencapai hampir 29 kali luas Provinsi DKI Jakarta.
Sebagian besar kebakaran terjadi seiring dengan datangnya musim kemarau sejak bulan Juni, yang diperparah oleh siklus El Nino yang kuat.
Sementara, pemerintah Indonesia belum memberikan update angka resmi mengenai luas lahan yang terbakar sejak pengumuman via Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan (SIPONGI KEMENHUT) pada akhir Juli 2026, yang menyebutkan 202.004,30 hektare lahan telah hangus.
Pendiri Nusantara Atlas, David Gaveau, mengatakan bahwa skala kebakaran yang sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar daripada 1.916.588 hektare yang telah terdeteksi oleh lembaganya sejauh ini.
“Estimasi luas lahan terbakar kami tergolong konservatif karena dua alasan. Pertama, kami tidak menghitung bekas kebakaran yang luasnya kurang dari 6,25 hektare… Kedua, kami memprioritaskan untuk menghindari deteksi yang keliru,” papar David.
Sumber: 12 Relawan Gugur Saat Padamkan Karhutla, Pakar Kebencanaan Desak Evaluasi Sistem Keselamatan

