Indonesia Menyapa, Jakarta — Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus membuktikan peran strategisnya sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Mulai dari pedagang pasar hingga pelaku usaha rumahan, sektor ini menjadi tumpuan utama pendapatan sekaligus pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.
Berdasarkan data Dinas Koperasi, UKM, dan Tenaga Kerja Kabupaten Manggarai, tercatat sebanyak 5.191 UMKM aktif yang beroperasi hingga saat ini. Angka tersebut menegaskan besarnya kontribusi sektor informal dalam menjaga denyut nadi ekonomi daerah.
Kepala Bidang Koperasi dan UKM Kabupaten Manggarai, Dian Bhayangkari Guru Beatrix, menyatakan bahwa pemerintah daerah berkomitmen memperkuat kapasitas pelaku usaha melalui berbagai program stimulan.
“Kami memfasilitasi akses permodalan melalui kemitraan penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR). Selain itu, kami membantu penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB) serta memberikan pelatihan teknis mulai dari bidang kuliner, barber, hingga barista,” ujar Dian saat diwawancarai di Ruteng, Selasa (14/4/2026).
Ia menambahkan, pemerintah juga berencana menggandeng pihak ketiga untuk menyelenggarakan Festival UMKM. Langkah ini diharapkan mampu memperluas jangkauan promosi dan memperkuat daya saing produk lokal Manggarai di pasar yang lebih luas.
Tantangan di Lapangan
Meski menjadi pilar ekonomi, para pelaku UMKM masih dihadapkan pada tantangan klasik, seperti keterbatasan modal, rendahnya kapasitas sumber daya manusia (SDM), hingga kendala pemasaran digital.
Imel, seorang pedagang sayur yang telah berjualan selama 10 tahun di pasar, mengakui usahanya adalah sumber penghidupan tunggal bagi keluarganya. Namun, ia merasakan adanya tren penurunan penjualan belakangan ini.
“Ini pekerjaan utama saya. Tapi belakangan pembeli agak sepi. Persaingan semakin ketat, cuaca tidak menentu, dan sekarang orang banyak belanja lewat layanan online,” ungkap Imel, Sabtu (11/4/2026).
Hal senada diungkapkan Ardi, penjual gorengan yang sudah lima tahun bertahan. Baginya, tantangan terberat saat ini adalah fluktuasi harga bahan baku.
“Kadang ramai, kadang sepi, apalagi kalau musim libur sekolah. Sekarang harga minyak goreng dan tepung naik, ditambah lagi minyak tanah yang sering langka,” keluh Ardi. Meski demikian, ia tetap optimistis usahanya memiliki prospek untuk berkembang.
Adaptasi Layanan Digital
Di sudut lain Ruteng, seorang pemilik kios yang baru beroperasi 1,5 tahun justru menunjukkan tren positif. Ia berhasil mengembangkan usahanya dengan beradaptasi pada kebutuhan zaman, seperti menyediakan layanan transaksi digital, isi ulang pulsa, hingga top-up saldo.
“Peningkatan cukup terasa meski harga dari pemasok sering berubah-ubah. Kuncinya adalah pelayanan yang ramah agar pelanggan tetap loyal,” tuturnya, Minggu (12/4/2026).
Ia pun berpesan agar generasi muda di Manggarai tidak ragu untuk mulai berwirausaha. “Jangan hanya berpikir menjadi pekerja, kita harus berani menciptakan lapangan kerja sendiri,” pungkasnya.
Oleh Mahasiswa Unika St Paulus Ruteng (Teresa Gracia Ardiani, Anjelina Wulandri Jalang, Yulianus Harun Riwa, dan Maria Anjani Kurnia)
Sumber: Topang Ekonomi Daerah, UMKM di Manggarai Masih Dihadapkan Sejumlah Tantangan – Tribunflores.com

