Sekilas Nihon Hidankyo, Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Jepang

Peristiwa

Indonesia Menyapa, Jakarta — Asosiasi Hibakusha lokal, bersama dengan para korban uji coba senjata nuklir di Pasifik, membentuk Konfederasi Organisasi Korban Bom A dan H Jepang pada 1956.

Nihon Hidankyo, gerakan akar rumput para penyintas bom atom Hiroshima dan Nagasaki yang juga dikenal sebagai Hibakusha, dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada Jumat (11/10).

Berikut ini adalah beberapa fakta tentang latar belakang dan upaya gerakan tersebut.

 

Pengeboman Jepang dengan Bom Atom

Pada 1945, Amerika Serikat menjatuhkan dua bom atom di Jepang untuk mengakhiri Perang Dunia II dan menghindari invasi yang sangat mahal ke pulau-pulau asal Jepang.

Kedua bom tersebut menewaskan sekitar 120.000 orang di Hiroshima dan Nagasaki, sementara ribuan lainnya meninggal dunia akibat luka bakar dan radiasi pada tahun-tahun berikutnya. Kedua bom atom tersebut tetap menjadi satu-satunya senjata nuklir yang digunakan dalam perang.

 

Seorang wartawan perang dari pihak sekutu memperhatikan puing-puing bangunan di Hiroshima setelah kota itu dihancurkan bom atom pada 1945 (Foto: AP Photo/arsip)
Seorang wartawan perang dari pihak sekutu memperhatikan puing-puing bangunan di Hiroshima setelah kota itu dihancurkan bom atom pada 1945 (Foto: AP Photo/arsip)

 

Asosiasi lokal

Nasib para penyintas pengeboman Hiroshima dan Nagasaki telah lama disembunyikan dan diabaikan, terutama pada tahun-tahun awal setelah berakhirnya perang.

Asosiasi Hibakusha lokal, bersama dengan para korban uji coba senjata nuklir di Pasifik, membentuk Konfederasi Organisasi Korban Bom A dan H Jepang pada 1956.

Organisasi yang namanya disingkat dalam bahasa Jepang menjadi Nihon Hidankyo tersebut, menjadi organisasi Hibakusha terbesar dan paling berpengaruh di Jepang.

 

Kisah saksi mata

Selama bertahun-tahun, Nihon Hidankyo menyajikan ribuan kisah saksi mata yang menceritakan pengalaman bom nuklir. Nihon Hidankyo mengeluarkan resolusi dan seruan publik, serta mengirim delegasi tahunan ke badan-badan seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan konferensi perdamaian untuk mengadvokasi pelucutan senjata nuklir.

Gerakan itu telah membantu mendorong perlawanan global terhadap senjata nuklir melalui kekuatan kesaksian para penyintas sekaligus menciptakan kampanye pendidikan dan mengeluarkan peringatan keras tentang penyebaran dan penggunaan senjata nuklir.

 

Masa Depan

Setiap tahun, jumlah para penyintas dua ledakan nuklir di Jepang yang terjadi hampir 80 tahun lalu semakin berkurang.

Namun, gerakan akar rumput telah berperan dalam menciptakan ‘budaya mengenang’ peristiwa tersebut, yang memungkinkan generasi baru Jepang untuk melanjutkan misi organisasi tersebut.

 

Sumber: Sekilas Nihon Hidankyo, Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Jepang (voaindonesia.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *