Indonesia Menyapa, Jakarta — Pengamat Timur Tengah, Yon Machmudi menanggapi klaim Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut Iran memiliki senjata nuklir dan sejumlah negara juga ingin ikut mempunyai perangkat pembuat ledakan yang mendapatkan daya hancurnya dari reaksi nuklir itu.
Yon menegaskan, klaim mengenai dugaan kepemilikan senjata nuklir adalah hal yang sangat sensitif dan tidak seharusnya disampaikan secara terbuka ke publik.
Lebih lanjut, Profesor bidang Sejarah di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI) tersebut mendesak pemerintah segera memberikan klarifikasi untuk menjaga hubungan diplomatik antara Indonesia dan Iran.
“Harusnya informasi-informasi yang sensitif berkaitan terhadap suatu negara tidak disampaikan secara publik apa pun alasannya,” kata Yon, dalam program On Focus yang diunggah di kanal YouTube Tribunnews, Rabu (5/8/2026).
“Apalagi kemudian itu disampaikan secara live ya, yang di-cover oleh media nasional karena itu akan menimbulkan spekulasi dan juga pro kontra.”
Yon menilai, tentu Iran merasa keberatan dengan klaim Prabowo, terlebih tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa negara yang dulu bernama Persia itu telah memiliki senjata nuklir.
“Dan pasti kan, negara yang bersangkutan, yang disebut dalam hal ini —Iran— ya merasa keberatan dengan statement itu,” tutur Yon.
Selanjutnya, Yon menegaskan bahwa pemerintah harus memberikan klarifikasi mengenai pernyataan Prabowo yang menyebut Iran memiliki senjata nuklir.
Kata dia, maksud dari klaim Prabowo tersebut harus dijelaskan, apakah memang benar mengacu soal senjata nuklir atau pembuatan nuklir untuk tujuan damai.
“Maka, harus ada klarifikasi dari pemerintah atau juru bicara Istana untuk menjelaskan, apa sebenarnya konteks yang dimaksud oleh Presiden, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman,” ujar Yon.
“Bisa saja maksud dari Presiden bukan membenarkan bahwa Iran telah memiliki senjata nuklir, tetapi yang dimaksud nuklir dalam hal ini adalah tenaga nuklir yang digunakan untuk kepentingan damai atau potensi-potensi lain yang berkaitan dengan penggunaan nuklir sebagai senjata.”
Yon memaparkan, klarifikasi dibutuhkan agar tidak muncul salah paham di kalangan publik, baik di dalam negeri maupun di mata internasional, terutama bagi Iran.
“Saya kira memang harus ada klarifikasi yang jelas untuk menyampaikan apa yang sudah diberikan statement itu oleh Presiden,” papar akademisi yang juga penulis buku Timur Tengah dalam Sorotan: Dinamika Timur Tengah dalam Perspektif Indonesia itu.
“Intinya, agar publik Indonesia, internasional, bahkan negara Iran, bisa memahami apa yang dimaksud dari statement Presiden.”
Hingga saat ini, diketahui bahwa pihak pemerintah Indonesia masih belum memberikan klarifikasi atau penjelasan lebih lanjut mengenai klaim Prabowo yang menyinggung kepemilikan senjata nuklir Iran.
Sebagai informasi, klaim Prabowo menyebut Iran memiliki senjata nuklir disampaikannya saat berpidato dalam acara pertemuan dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Pusat dan Daerah serta asosiasi pengusaha seluruh Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo mulanya membahas eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah yang hingga saat ini masih berlangsung, terutama dengan adanya serangan Amerika Serikat (AS) – Israel terhadap Iran.
Lantas, Prabowo menyebut ada negara yang dikabarkan sudah memiliki senjata nuklir, yakni Iran.
“Jadi saudara-saudara, ini saya dengan panjang lebar saya tekankan kembali ke saudara-saudara, karena apa yang kita bahas sedang, sedang terjadi di depan mata kita. Tiap sore tiap malam kita lihat dalam berita-berita,” ujar Prabowo di hadapan hadirin.
“Sore tiap malam kita lihat dalam berita-berita eskalasi, eskalasi, eskalasi. Dikatakan bahwa Iran sudah punya senjata nuklir.”
Lalu, ia menambahkan, negara-negara lain ikut ingin memiliki senjata nuklir, seperti Arab Saudi, Mesir, hingga Qatar.
“Sekarang Saudi Arabia ingin juga punya senjata nuklir,” ucap Ketua Umum Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) yang saat ini berusia 74 tahun itu.
“Kalau Saudi Arabia ingin punya senjata nuklir, tidak menutup kemungkinan Emirat juga mau punya senjata nuklir. Qatar juga mau punya senjata nuklir. Mesir juga mau punya senjata nuklir.”
Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus periode 1995-1998 itu lantas menyinggung penyebab konflik yang melanda Timur Tengah, yakni adanya kekayaan alam seperti gas dan minyak bumi di kawasan tersebut.
“Kenapa ribut di Timur Tengah? Timur Tengah banyak gas, banyak minyak, dan banyak mineral-mineral lain. Berkecamuklah perang sudah ratusan tahun di situ,” ujarnya.
Ia juga meyakini Divide Et Impera atau politik adu domba/pecah belah benar-benar nyata adanya.
“Saudara-saudara, jadi, Divide Et Impera itu bukan tulisan di buku-buku sejarah. Itu nyata. Nyata. Divide Et Impera nyata,” imbuh Prabowo.
Kedubes Iran untuk RI Tegaskan Iran Tidak Mengejar Kepemilikan Senjata Nuklir
Kedutaan Besar (Kedubes) Iran di Indonesia telah memberikan klarifikasi menyusul pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyinggung Iran memiliki senjata nuklir.
Melalui sebuah cuitan di akun resmi di media sosial X (sebelumnya Twitter), @IraninIndonesia pada Minggu (2/8/2026) atau dua hari setelah pidato Prabowo, Kedubes Iran menegaskan bahwa negaranya tidak pernah dan tidak akan berambisi untuk mengembangkan senjata nuklir.
“The Islamic Republic of Iran tidak pernah mengejar kepemilikan senjata nuklir dan tidak akan pernah melakukannya,” tulis pihak Kedubes Iran.
Dalam infografis yang turut diunggah, Kedubes Iran memaparkan pengembangan teknologi nuklirnya dilakukan secara transparan, bertujuan damai, dan berlandaskan kerangka hukum internasional, termasuk Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT).
Kedubes Iran juga menegaskan bahwa pengembangan teknologi nuklirnya berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Kemudian, Iran menerapkan salah satu rezim inspeksi nuklir paling ketat di dunia.
Program nuklir Iran dibangun dengan prinsip dan komitmen yang kuat, berdasarkan fatwa yang telah dikeluarkan oleh mendiang Pemimpin Tertinggi Iran (Supreme Leader) ke-2 Ayatollah Ali Khamenei yang mengharamkan senjata nuklir.
Kedubes Iran menyebut, senjata pemusnah massal tidak memiliki tempat dalam doktrin pertahanan Iran.
Di akhir klarifikasinya, Kedubes Iran menekankan bahwa teknologi nuklir dimanfaatkan untuk kepentingan energi, kesehatan, dan penelitian.
Sumber: Prabowo Sebut Iran Punya Senjata Nuklir dalam Pidatonya, Pengamat Timur Tengah Desak Klarifikasi

