Indonesia Menyapa, Jakarta — Eks Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengaku mengetahui pihak-pihak yang membayar massa demonstrasi.
Menurut Tiyo, pernyataan Prabowo tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik di tengah derasnya kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia bahkan melontarkan dugaan bahwa Prabowo tidak sekadar mengetahui, tetapi juga bisa saja terlibat dalam praktik mobilisasi massa tersebut.
“Kemarin itu Pak Prabowo pidato. Beliau sampaikan bahwa beliau tahu siapa yang bayar-bayar demo. Mungkin beliau tidak hanya tahu, tapi beliaulah bagian yang terlibat untuk membayar demo-demo itu,” kata Tiyo, mengutip tayangan YouTube Kompas TV, Jumat (26/6/2026).
Tiyo menilai fenomena mobilisasi massa untuk membela sebuah program pemerintah merupakan sesuatu yang tidak lazim.
Menurutnya, baru kali ini ada program yang mendapat pembelaan besar-besaran hingga melibatkan pengerahan massa.
“Baru kali ini loh ada program yang dibela mati-matian sampai ada mobilisasi massa untuk mendukung program ini,” ujarnya.
Sebut Ekspresi Kepanikan Istana
Ia juga menyebut kondisi tersebut sebagai cerminan kepanikan Istana dalam menghadapi kritik publik terhadap MBG.
Menurut Tiyo, pola respons pemerintah justru menunjukkan karakter pemerintahan yang kolonial.
“Saya kira ini sebenarnya ekspresi kepanikan istana di dalam merespon banyak sekali kritikan pada MBG dan ini wajah dari pemerintahan yang sebenarnya sangat kolonial,” ucapnya.
Lebih lanjut, Tiyo menilai pemerintah gemar menciptakan polarisasi di tengah masyarakat dengan memperhadapkan kelompok-kelompok tertentu.
“Mereka senang mengadu domba. Hari ini rakyat diadu domba. Mahasiswa versus mahasiswa. Rakyat versus rakyat,” tegasnya.
Bagi Tiyo, kondisi tersebut menjadi potret kepanikan sekaligus menunjukkan karakter pemerintahan kolonial yang menurutnya masih diwarisi dalam pemerintahan nasional saat ini.
“Bagi saya ini potret yang menunjukkan kepanikan sekaligus karakter pemerintahan kolonial yang sampai hari diwarisi oleh pemerintahan nasional,” katanya.
Pidato Prabowo soal Massa Demo Bayaran
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya saat acara Puncak Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo menyinggung aksi demonstrasi yang terjadi di sejumlah daerah, termasuk dugaan adanya massa bayaran.
Prabowo menegaskan dirinya mengetahui siapa saja aktor yang berada di balik aksi-aksi tersebut. Ia juga menyinggung adanya pejabat korup di lingkaran pemerintahannya.
“Sopan-sopan tetap maling, sopan-sopan korupsi. Sok, sok kaya, sok banyak duit. Kalau duitnya nyolong dari rakyat. Saya sudah lama jadi orang Indonesia, gua kenal itu semua itu, Saudara-saudara. Mereka nggak suka sama Prabowo karena Prabowo ngerti,” kata Prabowo, Rabu (24/6/2026).
Prabowo kemudian memperingatkan pihak-pihak yang diduga terlibat membiayai demonstrasi. Ia menyebut mengetahui siapa yang membayar massa aksi.
“Saudara-saudara sekalian. Hati-hati, lho. Saya kasih peringatan mereka-mereka itu. Saya tahu siapa yang bayar-bayar demo, gua tahu itu. Tapi nggak apa-apa, main demo.”
“Ditanya, ditanya anak-anak demo, nggak ngerti. Mau demo apa, ya? Hmm. Kami dibayar Rp 200 ribu, gitu, kan. Tapi ada. Saya nggak mengerti,” ujar Prabowo.

