Menteri LH Tinjau Tumpukan Kayu Gelondongan di Banjir Sumatra: Sebagian Kayu Dipotong Pakai Gergaji

Peristiwa

Indonesia Menyapa, Jakarta — Menteri Lingkungan HidupHanif Faisol meninjau langsung tumpukan ribuan kayu gelondongan yang hanyut terbawa arus banjir bandang di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Menteri LH menyebut, Desa Garoga ini adalah salah satu desa di Tapsel yang terdampak cukup serius dalam bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Sumatra pada akhir November 2025 lalu.

Banyak rumah di Desa Garoga yang tertimbun oleh material longsor. Banyak juga kayu-kayu gelondongan yang hanyut terbawa arus dan menyumbat sungai disana.

“Izin saya bersama Kades Garoga (Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan). Ini salah satu desa dari sekian desa di Sumatera Utara yang terdampak cukup serius.”

“Sebagian rumah tertimbun oleh material longsor atau upaya kegiatan di atas yang kemudian menyebabkan longsor. Kemudian kayunya cukup banyak,” kata Hanif Faisol dilansir Kompas TV, Minggu (7/12/2025).

Lebih lanjut, Hanif menyebut kayu-kayu gelondongan yang terbawa arus banjir ini sudah berumur lama.

Hanif juga menemukan bekas potongan mesin gergaji di kayu-kayu gelondongan tersebut.

“Secara teknis memang kayu ini agak berumur lama ya. Ada sebagian yang dipotong-potong dengan mesin gergaji,” ungkapnya.

Atas temuan tersebut, Hanif akan melakukan penyelidikan lebih lanjut.

Bahkan ia akan terbang langsung ke wilayah hulu untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi disana, hingga berujung pada bencana banjir dan longsor.

Menteri LH itu menduga, ada aktivitas yang tak bertanggung jawab di wilayah hulu yang mengakibatkan bencana di Sumatra ini.

Selain itu pengecekan wilayah hulu ini juga bertujuan untuk melakukan pencegahan lebih lanjut, agar kedepannya tidak terjadi bencana serupa.

“Kami akan melakukan penyelidikan lagi. Mungkin habis ini kami akan terbang sampai ke hulu untuk memastikan apa yang terjadi di hulu.”

“Karena kayu ini tidak alami sampai ke kita. Mungkin ada aktivitas yang harus bertanggung jawab dari kasus ini. Kemudian pencegahan lebih lanjut karena mungkin potensinya masih ada yang akan membahayakan masyarakat yang hidup di bawahnya,” terang Hanif.

Terakhir, sebagai Menteri Lingkungan Hidup, Hanif mengungkapkan permohonan maafnya kepada seluruh masyarakat Sumatra atas terjadinya bencana banjir dan longsor ini.

Setelah terjadinya bencana ini, Hanif berharap semua pihak bisa saling mengoreksi diri dan mempersiapkan langkah pencegahan bencana.

“Jadi kami tentu mohon maaf sebesar-besarnya atas kejadian bencana ini dan mudah-mudahan kita saling mengoreksi diri mempersiapkan segalanya.”

“Adaptasi juga penting. Ini ada di pinggir-pinggir sungai memang harus hati-hati sekali,” pungkasnya.

 

Langkah Kemenhut Usut Temuan Kayu Gelondongan di Banjir Sumatra

BANJIR BANDANG - Tumpukan kayu gelondongan ditemukan di Kecamatan Tuka, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Kamis (4/12/2025). Kayu gelondongan tersebut terbawa banjir menghantam permukiman warga.
BANJIR BANDANG – Tumpukan kayu gelondongan ditemukan di Kecamatan Tuka, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Kamis (4/12/2025). Kayu gelondongan tersebut terbawa banjir menghantam permukiman warga. (Tribunnews.com/ Dwi Putra Kesuma)

 

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni bersama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menggelar pertemuan terkait temuan gelondongan kayu di banjir bandang Sumatra.

Bencana banjir bandang terjadi di wilayah Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar).

Momen ribuan kayu gelondongan ikut terseret banjir masih menjadi perbincangan publik.

Fenomena kayu gelondongan menjadi sorotan karena jumlahnya yang banyak dan terbawa arus banjir bandang.

Kayu-kayu tersebut menumpuk di sungai, pemukiman, bahkan terbawa hingga ke pantai.

Masyarakat menduga fenomena ini bukan sekadar akibat banjir, melainkan indikasi kerusakan hutan dan praktik illegal logging atau pembabatan hutan.

Tim gabungan yang menangani dampak banjir bandang di Sumatra menemukan indikasi aktivitas penebangan liar di kawasan hulu.

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) telah memiliki data awal berdasarkan pemindaian drone di sejumlah titik terdampak banjir Sumatra.

Raja Juli mengatakan Kemenhut memanfaatkan perangkat lunak Alat Identifikasi Kayu Otomatis (AIKO) untuk mengidentifikasi jenis kayu gelondongannya.

Raja Juli menyebutkan pihaknya telah mengambil sampel kayu untuk uji jenisnya.

“Keingintahuan publik tentang asal-usul material kayu itu sudah kami respons. Kami memiliki data awal dari penerbangan drone di daerah terdampak, dan memanfaatkan perangkat lunak AIKO untuk mengetahui jenis kayunya dan merekonstruksi asal-muasal kayu tersebut,” ujarnya di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (4/12/2025)

 

Satgas PKH Diminta Tidak Tebang Pilih

Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan, menanggapi upaya Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) yang menyatakan akan melakukan penyelidikan terkait kayu gelondongan yang hanyut saat banjir bandang di Sumatra.

Daniel menegaskan, keberadaan kayu gelondongan tersebut merupakan bukti adanya penebangan hutan secara masif yang berdampak langsung terhadap kerusakan lingkungan.

“Kayu-kayu itu tidak mungkin muncul tiba-tiba. Itu jelas berasal dari hutan yang ditebang, dan menunjukkan betapa parahnya kerusakan hutan kita. Ini adalah bencana ekologis,” kata Daniel Johan kepada awak media, Kamis (4/12/2025).

Legislator dari Fraksi PKB tersebut menegaskan banjir yang terjadi di tiga provinsi di Sumatra tersebut bukan semata peristiwa alam, melainkan buntut dari praktik deforestasi yang terus berulang.

Oleh sebab itu, ia menyerukan perlunya introspeksi dari semua pihak, baik pemerintah, masyarakat, hingga pelaku industri yang terlibat dalam pemanfaatan sumber daya alam.

Daniel meminta aparat penegakan hukum yang tergabung dalam Satgas PKH untuk mengusut tuntas dan menindak tegas para pelaku yang bertanggung jawab, baik individu maupun perusahaan tanpa kompromi.

“Satgas tidak boleh tebang pilih. Bila ada pelaku yang memiliki nama besar, apakah pengusaha atau pejabat, Satgas harus berani mengungkapkannya. Tidak boleh ada yang ditutupi. Jangan ada yang dilindungi,” tegasnya.

Menurut Daniel, tindakan tegas sangat penting, mengingat kerusakan hutan telah menimbulkan kerugian besar dan menyengsarakan rakyat.

Daniel menyerukan agar momentum ini menjadi titik balik perbaikan tata kelola hutan dan lingkungan hidup di Indonesia, agar kejadian serupa tidak terus berulang dan merugikan masyarakat.

“Mereka yang merusak alam harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Bencana yang terjadi ini adalah akibat dari keserakahan dan pelanggaran hukum. Tidak boleh ada toleransi,” tandas Daniel.

 

Sumber: Menteri LH Tinjau Tumpukan Kayu Gelondongan di Banjir Sumatra: Sebagian Kayu Dipotong Pakai Gergaji  – TribunNews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *