Mahfuz Sidik Ingatkan Ancaman Konflik Bisa Bergeser ke Indo-Pasifik, Indonesia Harus Siaga

Peristiwa

Indonesia Menyapa, Jakarta — Ketua Komisi I DPR RI periode 2010–2017, Mahfuz Sidik, mengingatkan potensi pergeseran konflik global ke kawasan Indo-Pasifik, khususnya wilayah Laut China Selatan, seiring memanasnya situasi di Timur Tengah atau Teluk Persia.

Menurut Mahfuz, Indonesia perlu segera mengambil langkah mitigasi dengan menetapkan strategi geopolitik yang tepat agar tidak salah langkah dan tetap mampu menjaga kepentingan nasional.

“Indonesia secara langsung atau tidak langsung akan ada dalam pusaran konflik itu, jika perang berkembang ke wilayah Indo Pasifik,” kata Mahfuz Sidik, yang juga Sekjen Partai Gelora itu, dalam keterangannya, Minggu (26/4/2026).

Mahfuz menjelaskan, secara geografis posisi Indonesia yang berada di tengah kawasan Indo-Pasifik membuat pemerintah harus bersiap menghadapi berbagai kemungkinan.

Mahfuz menilai, indikasi pergeseran konflik ke kawasan Indo-Pasifik terlihat dari usulan Amerika Serikat terkait izin lintas udara (overflight clearance) atau akses menyeluruh bagi pesawat militer mereka di wilayah udara Indonesia.

“Permohonan ini diyakini sangat terkait dengan situasi yang semakin memanas di kawasan Indo Pasifik atau lebih tepatnya di kawasan Laut Cina Selatan,” ucapnya.

Selain itu, latihan militer bersama antara Amerika Serikat, Filipina, dan Jepang di kawasan tersebut juga dinilai sebagai sinyal meningkatnya ketegangan geopolitik.

“Apalagi Amerika Serikat telah menetapkan, bahwa kawasan Indo Pasifik, jadi kawasan paling utama bagi peta politik luar negeri mereka, bukan Timur Tengah, bukan juga Eropa,” katanya.

Mahfuz menyebut, konflik di Timur Tengah berpotensi memasuki fase ketiga dengan keterlibatan aktor baru dalam perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.

Aktor baru tersebut antara lain Rusia dan China, yang disebut telah memberikan dukungan persenjataan dan bantuan lain kepada Iran.

“Amerika kemudian membalasnya dengan memblokade Selat Hormuz. Armada Angkatan Laut Amerika mulai merazia dan menyandera kapal-kapal Iran yang mengangkut minyak dari Teluk Persia, yang diduga berlayar ke kawasan Indo Pasifik,” ujarnya.

Mahfuz juga mengungkapkan adanya indikasi perluasan operasi tersebut hingga ke Selat Malaka dan Laut China Selatan, sebagai upaya menekan distribusi minyak Iran ke China.

“Bagi China selama kepentingan utamanya supply chain energi (rantai pasok energi) yang dibutuhkan China ini tidak terganggu, maka China tidak akan bereaksi keras,” katanya.

Namun, jika rantai pasok energi terganggu, China disebut berpotensi mengerahkan armada militernya untuk mengawal distribusi energi.

“Kalau sikap defensif dari China kuat untuk mengamankan kepentingannya di jalur Selat Hormus, maka akan memicu kontak secara langsung antara militer China dengan militer Amerika,:” katanya.

Mahfuz memperkirakan, eskalasi tersebut dapat meluas jika keterlibatan China terjadi secara langsung dalam konflik.

“Maka ketika aktor baru yang bernama China terlibat secara langsung dan nyata dalam konflik dengan Amerika, baik di Kawasan Teluk Persia maupun di kawasan lainnya. Maka spot perang baru di kawasan Indo Pasifik tercipta,” katanya.

Mahfuz juga meyakini Amerika Serikat akan mengalihkan fokus dari Teluk Persia jika berhasil melemahkan Iran, sementara Israel berpotensi mengambil peran dominan di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya.

“Rusia sudah memberikan peringatan kepada pemerintah Iran, bahwa Amerika sedang memanfatkan jeda waktu untuk mengkonsolidasi, menyiapkan seluruh instrumen kekuatan militernya menuju serangan yang lebih masif, serangan yang lebih besar dalam waktu dekat,” katanya.

 

Selat Malaka Jadi Nilai Tawar Strategis

Dalam konteks tersebut, Mahfuz menekankan pentingnya posisi strategis Indonesia, terutama terkait keberadaan Selat Malaka sebagai jalur vital perdagangan dan energi global.

Ia menilai Selat Malaka memiliki nilai tawar tinggi yang dapat dimanfaatkan Indonesia dalam diplomasi internasional bersama Malaysia dan Singapura.

“Amerika dan China juga punya ketergantungan di sini, karena Selat Malaka adalah salah satu jantung lalu lintas pelayaran dunia. Laverange, nilai tawar ini yang sangat strategis. Ini bisa digunakan Indonesia, Malaysia, Singapura untuk membangun kerja sama dan kesepakatan dalam pengelolaan wilayah Selat Malaka,” ucapnya.

Menurut Mahfuz, gangguan keamanan di Selat Malaka akan berdampak luas, tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga terhadap rantai pasok energi, pangan, hingga navigasi global.

“Kita harus punya langkah mitigasi dan kemudian mengambil langkah-langkah agar survive,” katanya.

Ia pun mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas politik dalam negeri sebagai fondasi menghadapi potensi krisis global.

“Jadi apabila stabilitas politik elite dan kohesi nasional di akar rumput terbangun, maka tantangan sebesar apapun lebih mudah dihadapi,” ucapnya.

Mahfuz optimistis, dengan soliditas nasional yang kuat, masyarakat Indonesia akan mampu menghadapi tekanan global secara bersama.

“Jangan ada yang melakukan tindakan yang kemudian memicu keretakan, memicu perdebatan, memicu sentimen negatif, dan memicu friksi dukungan terhadap kekuatan politik nasional,” tandasnya.

 

Sumber: Mahfuz Sidik Ingatkan Ancaman Konflik Bisa Bergeser ke Indo-Pasifik, Indonesia Harus Siaga – TribunNews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *