Indonesia Menyapa, Jakarta — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatat bahwa prospek bisnis UMKM pada kuartal III 2026 masih menunjukkan arah yang positif, sebagaimana tercermin dari Indeks Ekspektasi dalam hasil survei.
Indeks Ekspektasi sentimen bisnis pelaku UMKM untuk kuartal III 2026 tercatat sebesar 120,2. Level indeks yang cukup jauh di atas 100 menunjukkan optimisme yang masih kuat terhadap prospek ekonomi, sektor usaha, dan perkembangan usahanya ke depan.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, menjelaskan prospek bisnis UMKM pada periode tersebut diperkirakan tetap berada pada fase ekspansif, meskipun lebih moderat.
Hal ini terutama ditopang oleh peningkatan proyek pemerintah dan swasta yang akan memberikan spillover effect terhadap sektor lainnya serta perekonomian yang tetap tumbuh.
“Di sisi lain, pelemahan daya beli dan El Nino menjadi faktor risiko yang perlu dicermati, khususnya bagi sektor pertanian,” kata Hery.
BRI mencatat bahwa aktivitas bisnis di semua sektor diperkirakan tetap berada pada fase ekspansif, meskipun dengan laju yang lebih moderat.
Sektor pertambangan dan konstruksi diperkirakan menjadi penopang seiring semakin banyaknya proyek pemerintah dan swasta yang bergulir.
Menurut hasil survei, sentimen bisnis masih berada di atas 100 pada sebagian besar sektor, dengan konstruksi mencatat kenaikan 7,4 poin menjadi 110,8 dan pertambangan meningkat 1,6 poin menjadi 108,3.
Di samping itu, BRI juga mencatat optimisme terhadap prospek usaha tersebut juga tercermin dari aktivitas investasi UMKM yang tetap tumbuh dengan indeks berada di atas 100.
Hal ini menunjukkan bahwa di tengah moderasi aktivitas bisnis, pelaku UMKM masih memiliki keyakinan terhadap prospek ekonomi dan keberlanjutan usahanya.
Ia mengungkapkan, untuk kuartal II 2026, Indeks Bisnis UMKM tercatat sebesar 102,1 atau berada pada fase ekspansif. Hery mengatakan, terjaganya aktivitas bisnis UMKM pada kuartal II 2026 ditopang oleh sejumlah faktor.
Lebih lanjut, faktor tersebut mulai dari perekonomian yang tetap tumbuh positif, panen raya tanaman pangan dan harga produk pertanian yang baik, mulai bergulirnya proyek pemerintah dan swasta, kondisi cuaca yang kondusif, hingga penyaluran bantuan sosial yang tetap agresif.
Namun, laju ekspansi mengalami perlambatan apabila dibandingkan dengan kuartal I 2026. Kondisi ini antara lain dipengaruhi oleh normalisasi permintaan pasca-HBKN, pelemahan daya beli masyarakat, kenaikan harga barang input dan biaya operasional, keterbatasan modal usaha, serta persaingan usaha yang semakin ketat.
BRI mencatat bahwa perkembangan tersebut sejalan dengan moderasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026.
Secara sektoral, menurut hasil survei, mayoritas sektor UMKM masih mencatatkan indeks di atas 100 pada kuartal II 2026.
Sektor pertanian, konstruksi, dan pertambangan mencatatkan penguatan, didorong oleh momentum panen raya dan harga jual produk pertanian yang baik serta mulai bergulirnya proyek pemerintah dan swasta yang didukung kondisi cuaca yang kondusif.
Sementara kinerja sektor lainnya menunjukkan perkembangan yang lebih moderat. Industri pengolahan dan jasa-jasa lainnya masih berada pada fase ekspansif, meskipun mengalami perlambatan.
Kondisi tersebut, catat BRI, terutama dipengaruhi oleh normalisasi permintaan pasca-HBKN, pelemahan daya beli masyarakat, kenaikan harga barang input dan biaya operasional, serta persaingan usaha yang semakin ketat.
Selanjutnya, hasil survei juga mencatat Indeks Kepercayaan Pelaku UMKM terhadap Pemerintah (IKP) pada kuartal II 2026 yang sebesar 107,4 atau masih berada di atas 100. Adapun penilaian tertinggi diberikan pada aspek memberikan rasa aman dan tenteram dengan indeks 130,4, disusul menyediakan dan merawat infrastruktur sebesar 116,5.
Sumber: BRI: Prospek bisnis UMKM pada Q3 masih tunjukkan arah yang positif – ANTARA News

