Indonesia Menyapa, Jakarta — Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka mengajak beberapa mahasiswa dari berbagai universitas saat kunjungan kerja ke wilayah Indonesia Timur, yakni Ende, Gorontalo, dan Papua pada Kamis (18/6/2026).
Tujuannya agar para mahasiswa yang sebelumnya menuntut penyetopan Makan Bergizi Gratis (MBG), bisa melihat langsung program tersebut di daerah – daerah yang bukan perkotaan besar.
Pengamat politik dari Universitas Tanjungpura (Untan) Kalimantan Barat, Erdi, mengatakan upaya melibatkan mahasiswa jadi cara tepat lantaran mereka adalah kelompok terpelajar yang netral dalam menilai kinerja pemerintah.
“Karena pihak yang sangat netral dalam berpendapat, berbicara, dan menilai kinerja adalah mahasiswa. Mereka inilah kelompok-kelompok terpelajar yang memang sudah seharusnya terlibat atau dilibatkan dalam pengambilan keputusan,” kata Erdi saat dihubungi, Jumat (19/6/2026).
Menurut Erdi, keterbukaan Gibran menerima mahasiswa dan melibatkan langsung mereka dalam berdialog menjadi langkah menguatkan partisipasi publik dalam proses pembangunan.
Terlebih sebelumnya berkembang narasi Gibran alergi terhadap mahasiswa dan diskusi intelektual. Cara ini turut dipandang sebagai upaya mematahkan narasi tersebut.
“Mahasiswa berada di tengah hiruk-pikuk demonstrasi, kemudian Mas Wapres mampu menerima orang-orang yang memiliki semangat tersebut untuk berbicara, diajak berdialog, dan diserap aspirasinya. Saya pikir ini preseden yang bagus dan bisa menjadi sesuatu yang baik ke depan,” ucapnya.
Wakil Dekan III FISIP Untan ini menyatakan, pelibatan mahasiswa juga membuat aspirasi kelompok muda dapat tersampaikan langsung kepada pengambil kebijakan.
Dengan demikian, berbagai kritik maupun masukan tidak berhenti pada aksi demonstrasi, tetapi dapat diterjemahkan menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah.
“Ketika mahasiswa diberikan saluran dan peran, ini menjadi sebuah langkah maju. Artinya, aspirasi mahasiswa sudah langsung sampai kepada pengambil kebijakan. Kita berharap apa yang menjadi aspirasi mahasiswa dapat diwujudkan oleh Mas Wapres dalam bentuk program atau aksi nyata ke depan,” tutur Erdi.

Sementara itu, pakar kebijakan publik sekaligus dosen FISIP Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono, menilai aksi Gibran mengajak mahasiswa dapat mengurangi kesenjangan informasi.
Sebab mahasiswa bisa menerima informasi langsung dari sisi pemerintah, bukan cuma membaca yang ramai-ramai di media sosial.
“Untuk mengatasi kesenjangan informasi, metode seperti ini bisa menjadi solusi agar mahasiswa juga mendapat informasi dari sisi upaya pemerintah dalam kebijakan pengelolaan lahan di Papua,” kata Kristian.
Menurutnya sudah seyogianya mahasiswa diberi kesempatan melihat langsung kondisi lapangan agar informasi yang diperoleh lebih utuh dan berimbang.
Dengan begitu, penilaian yang diberikan akan didasarkan pada pengalaman langsung serta berbagai sumber informasi yang tersedia.
“Saya rasa ini adalah upaya pemerintah untuk membuat mahasiswa bisa membandingkan antara informasi yang diperoleh dari berbagai sumber dengan informasi versi pemerintah. Artinya, pemerintah mengupayakan ada proses keterbukaan dalam hal ini,” ujarnya.
Sebagaimana diketahui, salah satu hal yang disuarakan sejumlah mahasiswa dari berbagai universitas adalah pemberhentian program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sebagai pembantu Presiden RI, Wapres Gibran memastikan pemerintah berkomitmen untuk terus memperbaiki tata kelola program-program pemerintah, seperti MBG dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Oleh karena itu Gibran mengajak sekitar lima perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk mendampingi kunjungan kerja ke Ende, Gorontalo, dan Papua.
Tujuannya agar mereka melihat langsung bagaimana kebutuhan program MBG di daerah yang jauh dari perkotaan.
“Bapak ibu ini saya ajak perwakilan dari mahasiswa. Kemarin banyak yang demo protes agar MBG ini disetop, makanya hari ini mereka saya ajak ke area yang jauh dari Jakarta,” kata Gibran dalam forum diskusi bersama guru dan orang tua murid di SD Negeri Wolomoni, Ende, NTT, Kamis (18/6/2026).
Adapun nama – nama kelima mahasiswa itu di antaranya:
1. Keletus Sakaro dari Universitas Sanata Dharma
2. Daffa Ulhaq dari Universitas Indonesia (UI)
3. Nolan Christoper Adam dari Universitas Pelita Harapan (UPH)
4. Rapid Bena Matin dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed)
5. Salsabila Maulida dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI).
Gibran menyadari bahwa program MBG memang memiliki banyak kekurangan, yang bisa menjadi peluang bagi pihak tak bertanggungjawab untuk menyalahgunakannya.
Namun ia menegaskan bahwa pemerintah sudah melihat kekurangan tersebut, dan memastikan memperbaiki tata kelolanya.
“Saya sadar MBG masih banyak kekurangannya dan kemarin sudah kepalanya baru saja ditangkap. Ini ke depan harus lebih banyak lagi perbaikan, tata kelolanya diperbaiki biar lebih efisien,” kata Gibran.

