Indonesia Menyapa, Denpasar — Program subsidi bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) masih menjadi salah satu instrumen pemerintah dalam memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Bali. Hingga akhir Mei 2026, penyaluran kredit program di Pulau Dewata telah mencapai Rp5,761 triliun kepada 66.095 debitur.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Bali Supendi mengatakan, akses pembiayaan melalui kredit program terus menunjukkan pertumbuhan positif. Dari sisi jumlah penerima, debitur meningkat 11,07 persen secara tahunan, sementara nilai pembiayaan melonjak 38,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. “Total penyaluran kredit program mencapai Rp5,761 triliun dengan 66.095 debitur,” ujar Supendi, Kamis (25/6).
Capaian tersebut menempatkan Bali di peringkat keenam nasional dalam penyaluran kredit program terbesar, setelah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara. Kondisi ini menunjukkan tingginya kebutuhan sekaligus pemanfaatan fasilitas pembiayaan bersubsidi oleh pelaku UMKM di daerah.
Dari berbagai skema yang tersedia, KUR Mikro masih menjadi tulang punggung pembiayaan UMKM. Hingga Mei 2026, penyalurannya mencapai Rp3,48 triliun kepada 53.266 debitur dengan outstanding kredit sebesar Rp3,35 triliun. Sementara KUR Kecil tersalurkan Rp1,57 triliun kepada 5.310 debitur.
Selain itu, pembiayaan Ultra Mikro (UMi) juga terus berkembang dengan menjangkau 5.115 debitur dan nilai penyaluran mencapai Rp31,5 miliar. Menurut Supendi, dukungan subsidi bunga dari pemerintah membuat pelaku usaha memperoleh akses modal dengan biaya yang lebih terjangkau sehingga mampu mendorong ekspansi usaha.
Berdasarkan sektor usaha, kredit program paling banyak mengalir ke sektor perdagangan besar dan eceran dengan porsi 33,37 persen. Posisi berikutnya ditempati sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan sebesar 20,34 persen, disusul sektor jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan, dan jasa perorangan lainnya sebesar 12,36 persen.
Dari sisi wilayah, Kota Denpasar mencatat jumlah debitur terbanyak dengan 12.151 penerima dan nilai penyaluran Rp684,18 miliar. Namun berdasarkan nominal kredit, Kabupaten Klungkung menjadi daerah dengan penyaluran terbesar mencapai Rp974,75 miliar kepada 8.209 debitur.
Kabupaten Tabanan dan Gianyar juga mencatat realisasi tinggi. Di Tabanan, kredit program tersalurkan Rp832,82 miliar kepada 8.316 debitur, sedangkan di Gianyar mencapai Rp829,02 miliar untuk 7.298 debitur. Adapun Kabupaten Badung menjadi daerah dengan penyaluran terendah, yakni Rp374,22 miliar kepada 3.837 debitur. Data tersebut menunjukkan kredit program bersubsidi masih menjadi instrumen penting pemerintah dalam memperkuat permodalan UMKM dan menjaga aktivitas ekonomi produktif di Bali.

