Ratusan Santri di Sidoarjo Diduga Keracunan MBG, Anggota DPR Minta BGN Tindak Tegas SPPG Bermasalah

Peristiwa

Indonesia Menyapa, Jakarta — Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani Chaniago, mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) segera memperjelas pihak yang bertanggung jawab atas kasus ratusan santri di Sidoarjo yang mengalami keracunan diduga usai menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Irma menilai langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memastikan identitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan makanan bagi para santri.

Menurutnya hal itu penting agar pertanggungjawaban terhadap kasus tersebut dapat dilakukan secara jelas.

“Yang pertama harus jelas dulu itu SPPG-nya punya siapa? Kepala SPPG-nya siapa agar pertanggungjawabannya jelas oleh BGN,” kata Irma saat dihubungi Tribunnews.com, Rabu (2/9/2026).

Politisi Partai Nasdem ini mengatakan kasus keracunan dalam pelaksanaan program MBG masih terjadi meski telah terjadi pergantian Kepala BGN.

Karena itu, menurutnya, persoalan tersebut tidak cukup hanya disikapi dengan menyampaikan empati kepada korban.

“Masalahnya sejak Kepala BGN diganti pun keracunan tetap ada dan lumayan banyak,” ujar legislator Partai NasDem itu.

Irma menegaskan, Komisi IX DPR RI sebelumnya telah menyarankan agar pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap SPPG yang secara fisik maupun standar kelayakannya tidak memenuhi persyaratan.

“Kami di Komisi IX sudah menyarankan. Yang dibutuhkan itu bukan sekadar empati pada korban. Tapi segera ambil tindakan tegas pada SPPG yang kondisi fisiknya tidak memenuhi syarat,” ucapnya.

Menurut Irma, penindakan tersebut harus berlaku terhadap seluruh SPPG tanpa melihat lokasi maupun bentuk lembaga yang menjadi mitra, termasuk SPPG yang melayani pondok pesantren.

“Mau ponpes atau apa pun,” katanya.

Di sisi lain, Irma menyoroti masih adanya SPPG yang dinilai telah memenuhi persyaratan dan mendapatkan approval, tetapi belum memperoleh tindak lanjut untuk mulai beroperasi.

Dia menyebut SPPG tersebut dibangun dengan sistem dan persyaratan yang lebih ketat. Bahkan, sejumlah pihak telah ikut berkontribusi melalui modal bersama untuk mendukung pelaksanaan program pemerintah.

“Sementara banyak SPPG yang sudah dapat approval dan berkualitas baik, masih belum dapat approval untuk jalan!” ujarnya.

Irma meminta BGN tidak mengabaikan SPPG yang telah memenuhi standar tersebut hanya demi mempertahankan SPPG yang sebelumnya dibangun secara terburu-buru.

“Mereka itu SPPG yang dibangun dengan sistem dan syarat yang jauh lebih ketat tapi belum ada tindak lanjut. Ingat mereka berkontribusi dan joint modal program pemerintah, jangan diabaikan untuk mengganti SPPG-SPPG dulu asal bangun karena ingin cepat berjalan,” pungkasnya.

 

CEK MENTAL DOKTER - Anggota Komisi IX DPR RI Irma Suryani Chaniago di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (28/7/2026). Ia mengatakan, Komisi IX telah mengusulkan kepada Kementerian Kesehatan agar pemeriksaan kesehatan mental menjadi agenda rutin bagi tenaga kesehatan, khususnya dokter.
Anggota Komisi IX DPR RI Irma Suryani Chaniago di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (28/7/2026). (Tribunnews.com/Chaerul Umam)

 

Kronologi Keracunan Ratusan Santri

Dilansir dari Surya.co.id, kronologi dugaan keracunan massal santri Mambaul Hikam di Sidoarjo diketahui bermula dari munculnya gejala mual massal pada Selasa (1/9/2026) sore.

Gejala keracunan massal yang menimpa ratusan antri Mambaul Hikam di Sidoarjo mulai terlihat sejak sore hari tepatnya selepas waktu salat Ashar dan diduga berkaitan dengan konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) pada siang harinya.

Hingga Rabu (2/9/2026) pagi ini, tercatat sebanyak 512 orang mendapatkan penanganan medis diduga keracunan MBG.

Para santri jenjang SMP hingga SMA di Tanggulangin itu mulanya mengeluhkan mual serta muntah-muntah sebelum akhirnya dilarikan ke ruang UKS.

Kondisi yang kian memburuk dan jumlah korban yang terus membludak memaksa pihak pesantren mengevakuasi para santri ke sejumlah rumah sakit.

Para santri diketahui mengonsumsi hidangan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikirimkan ke pondok sekitar pukul 11.30 WIB dan disantap serentak pada pukul 13.00 WIB.

“Awalnya makan siang bersama. Makan MBG sekira jam 13.00 WIB. Lauknya telur dadar tapi kuahnya apa saya tidak tahu. Saya tidak ikut makan,” kata Hasan, santri yang ikut mengantar temannya di RSUD Sidoarjo.

Gejala rasa sakit pada bagian perut serta mual mulai meluas ketika para santri bersiap mengikuti jam pelajaran sekolah.

“Gejalanya mulai habis Ashar. Ada yang bolak-balik ke kamar mandi. Mengeluh perutnya sakit. Ada yang ke UKS juga,” kata dia.

 

Sumber: Ratusan Santri di Sidoarjo Diduga Keracunan MBG, Anggota DPR Minta BGN Tindak Tegas SPPG Bermasalah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *