Wabah Ebola RD Kongo Diduga Ada Sejak Januari, Jauh Sebelum Terdeteksi

Peristiwa

Indonesia Menyapa, Jakarta — Wabah Ebola di Republik Demokratik (RD) Kongo diduga sudah dimulai sejak Januari, bahkan lebih awal, di sebuah kota tambang terpencil, Mongbwalu, di Provinsi Ituri bagian timur.

Temuan ini diungkap dalam laporan yang terbit di jurnal Science dan menunjukkan penyebaran penyakit sudah meluas sebelum otoritas kesehatan resmi mengidentifikasinya.

Laporan itu menyebut, para peneliti mewawancarai sekitar 100 orang di Mongbwalu dan sekitarnya, termasuk para perawat, tokoh masyarakat, penyintas, keluarga korban, pembuat peti mati, hingga penjaga pemakaman.

Dari hasil penelusuran tersebut, tim menyimpulkan epidemi kemungkinan besar mulai terpantik pada Januari, bahkan mungkin lebih awal, di pinggiran Mongbwalu.

“Tim tersebut menyimpulkan epidemi tersebut bermula pada bulan Januari, dan mungkin bahkan lebih awal, di pinggiran Mongbwalu. Seorang pasien yang mencari perawatan mungkin telah membawanya ke kota dari daerah perdesaan,” demikian bunyi laporan yang diterbitkan pada Kamis (30/7), dilansir Anadolu Agency.

Saat Kementerian Kesehatan di Kinshasa akhirnya mengidentifikasi penyakit tersebut sebagai Ebola sekitar bulan Mei, wabah yang meluas dan sulit dikendalikan sudah telanjur berlangsung.

Pada Jumat (31/7), wabah Ebola terbaru di RD Kongo tercatat sebagai terbesar kedua di dunia berdasarkan jumlah infeksi yang terdokumentasi. Otoritas setempat melaporkan lebih dari 3.530 kasus dan 1.556 kematian sejak diumumkan pada pertengahan Mei.

Jumlah kasus terkonfirmasi itu sudah melampaui sekitar 3.470 kasus yang tercatat dalam wabah Ebola ke-10 di RD Kongo antara Agustus 2018 hingga Juni 2020.

Para peneliti juga mengidentifikasi lebih dari 500 kasus suspek antara pertengahan Januari dan 15 Mei.

Salah satu rantai penularan bermula dari seorang perempuan berusia 50 tahun yang meninggal pada 25 Januari setelah muntah darah. Ibunya meninggal enam hari kemudian, sedangkan suaminya sempat sakit tetapi selamat.

“Jika wabah tersebut dapat dikendalikan di Mongbwalu, akan jauh lebih mudah untuk mengatasinya,” kata Manuel Albela, ahli epidemiologi dari Doctors Without Borders (Medecins Sans Frontieres/MSF) yang bekerja di kota tersebut, kepada para peneliti.

Untuk memperkirakan kasus Ebola, tim peneliti menelusuri rumah tangga yang memiliki sedikitnya dua kematian dalam 21 hari dengan gejala yang sesuai.

Mereka juga memeriksa foto, pesan WhatsApp, catatan dokter, dan biografi pemakaman korban. Laporan itu menyimpulkan, semua petunjuk mengarah pada penyebaran Ebola yang luas.

Wabah kini telah menjalar ke lima provinsi, yakni Haut-Uele, Ituri, North Kivu, South Kivu, dan Tshopo. Ituri tetap menjadi episentrum wabah yang disebabkan strain virus Bundibugyo, yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun terapi spesifik yang disetujui.

 

Sumber: Wabah Ebola RD Kongo Diduga Ada Sejak Januari, Jauh Sebelum Terdeteksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *