Mojtaba Khamanei, ‘Imam Ghaib’ Iran yang Ogah Muncul ke Publik

Peristiwa

Indonesia Menyapa, Jakarta — Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei masih menimbulkan pertanyaan besar publik karena sosoknya belum kunjung terlihat dalam acara-acara seremonial.

Mojtaba, putra Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan Amerika Serikat (AS)-Israel, belum pernah sekali pun menunjukkan batang hidung di hadapan publik setelah resmi dipilih menggantikan ayahnya.

Tidak pernah ada pidato langsung, pernyataan televisi, maupun foto atau video dokumentasi kegiatan publik terbaru Mojtaba.

Foto-foto dan video Mojtaba yang beredar di khalayak merupakan foto dan video lama, bahkan hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI).

Media independen Iran, Iran International, serta pengamat hubungan AS-Iran di Center for International Policy, Sina Toossi, mencoba mengulas penjelasan mengenai Mojtaba dan pemilihannya.

Ada setidaknya dua skenario yang bisa menjelaskan situasi ini.

Pertama, kestabilan politik. Dalam skenario ini, pemerintahan Iran tampaknya bermaksud mengamankan kestabilan politik dengan menunjuk putra Ali Khamenei yang membawa pesan-pesan perlawanan dan keberlanjutan.

Mojtaba sengaja dipilih dan dirayakan secara serempak meski pidato-pidatonya hanya disampaikan melalui pesan yang disiarkan televisi.

Dalam situasi ini, Iran kemungkinan mencoba menggambarkan transisi kepemimpinan yang tertib dan terpadu, sembari menguatkan peran sentral Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) selaku salah satu pengambil keputusan terbesar di masa perang.

Menurut Iran International, skenario ini coba dilakukan Iran salah satunya untuk mencegah persaingan internal. Apalagi, di tengah maraknya kabar bahwa Mojtaba kemungkinan terluka parah dalam serangan yang sama yang menewaskan ayahnya.

IRGC tampaknya ingin menstabilkan situasi dengan mengonsolidasikan kendali operasional. Dalam situasi ini, Mojtaba difungsikan sebagai pemimpin simbolis, sedangkan otoritas praktis dijalankan oleh lembaga keamanan.

Skenario berikutnya, yakni untuk mengirimkan pesan pembangkangan kepada AS dan Israel.

Menurut Toossi, setelah pembunuhan Ali Khamenei, Iran tampaknya memilih keberlanjutan daripada ketidakpastian. Simbolismenya, yaitu Iran akan terus dipimpin oleh seorang Khamenei.

Kendati demikian, Toossi mengamini bahwa di balik pesan simbolis tersebut, tersembunyi realitas institusional yang lebih dalam mengenai bagaimana kekuasaan sebenarnya bekerja di Iran.

“Republik Islam didirikan atas dasar penolakan tegas terhadap pemerintahan turun-temurun. Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang memimpin revolusi 1979, mengecam monarki sebagai ‘bertentangan dengan Islam’, dan sistem baru ini mendefinisikan dirinya sebagai penentang politik dinasti di masa lalu Iran,” tulis Toossi dalam artikelnya di The Guardian.

Toossi mengatakan salam beberapa dekade, gagasan kepemimpinan monarki dianggap berbahaya secara politik di Iran. Bahkan Ali Khamenei juga dilaporkan menolak wacana tersebut.

Jika keadaannya normal, kata Toossi, Mojtaba Khamenei tidak mungkin menjadi pilihan. Profil publiknya minim dan ia juga tidak punya reputasi akademis yang secara tradisional dikaitkan dengan ulama syiah senior.

Meski begitu, Iran saat ini sedang dalam kondisi perang. Dalam lingkungan tersebut, prioritas rezim telah bergeser dari konsistensi ideologis ke kelangsungan hidup dan keberlanjutan.

“Memilih Khamenei lain memproyeksikan stabilitas pada saat musuh-musuh Iran berharap negara itu mungkin akan terpecah. Pesannya sederhana, sistem tetap bertahan,” tulis Toossi.

Pemilihan Mojtaba sementara itu juga dapat dijelaskan dari doktrin velayat-e faqih. Tossi menjelaskan doktrin ini awalnya sangat bergantung pada otoritas keagamaan karismatik Ayatollah Khomeini.

Namun, seiring waktu, otoritas tersebut semakin “terinstitusionalisasi.”

Pada akhir 1980-an, sistem tersebut dibentuk ulang sehingga jabatan pemimpin tertinggi dapat berfungsi bahkan jika individunya tidak memiliki kedudukan keagamaan seperti Khomeini.

Dalam praktiknya, landasan sebenarnya dari otoritas pemimpin tertinggi secara bertahap bergeser dari keilmuan keagamaan menuju kendali atas lembaga-lembaga paksa negara.

 

Sumber: Mojtaba Khamanei, ‘Imam Ghaib’ Iran yang Ogah Muncul ke Publik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *