Notifikasi Muncul Lagi, Eks Ketua BEM UGM Klaim Temukan Benda Diduga Pelacak Kedua

Peristiwa

Indonesia Menyapa, Jakarta — Kasus penemuan benda yang diduga alat pelacak di mobil yang dikendarai mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, berlanjut.

Sebelumnya Tiyo mengaku menemukan sebuah benda berbentuk kotak kecil berwarna hitam di bawah kendaraannya dipasang oleh Orang Tak Dikenal (OTK), kini menyatakan menemukan benda lain berbentuk lingkaran pipih yang menempel pada bagian mobil.

Diketahui, benda mencurigakan ditemukan setelah Tiyo mengikuti aksi unjuk rasa atau demo mahasiswa dalam Aksi Gejayan, Yogyakarta, Sabtu (13/6/2026).

Kejadian tersebut terjadi di tehgah kerisauan para aktivis dan mahasiswa berunjuk rasa di berbagai daerah, tak hanya di Yogyakarta. Sejak Jumat (12/6/2026), gelombang aksi demonstrasi juga digelar di Jakarta oleh aliansi mahasiswa termasuk yang dikomandoi BEM Universitas Indonesia.

Hingga di Semarang BEM Universitas Diponegoro bersama Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM), melakukan aksi demonstrasi di depan kantor Gubernur dan DPRD Jateng, Jalan Pahlawan, Kota Semarang.

Sementara di Solo mahasiswa mengepung DPRD Solo mereka memblokir jalan dan menutup rangkaian aksi dengan membakar spanduk.

Informasi terbaru itu disampaikan Tiyo melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Minggu (14/6/2026).

“Teman-teman, sesudah alat berbentuk kotak yang semalam saya temukan itu diamankan, sore ini muncul lagi notifikasi di ponsel saya. Ternyata masih ada alat berbentuk lingkaran pipih menempel di ban bagian kanan-belakang,” tulis Tiyo.

Menurut penjelasannya, benda kedua tersebut ditemukan ketika ia sedang dalam perjalanan menuju Bandara Jenderal Ahmad Yani
untuk berangkat ke Makassar.

“Saya menemukan ini dalam perjalanan menuju Bandara Jenderal Ahmad Yani, Semarang untuk berangkat ke Makassar. Saya menulis ini setiba di Makassar sebagai update sementara. Segera saya akan catat keterangan yg lebih lengkap,” lanjutnya.

Dalam unggahan yang sama, Tiyo juga menegaskan tidak akan berhenti menyuarakan persoalan tersebut.

“Kita tidak akan berhenti di sini. Kita tidak akan berhenti hari ini. Semakin diteror, semakin gacor,” tulisnya.

Kronologi

  • Tiyo mengikuti aksi demonstrasi Aliansi Rakyat Memanggil di kawasan Gejayan, Sleman, Sabtu (13/6/2026).
  • Sepulang dari aksi tersebut, ia mengaku menerima notifikasi terkait keberadaan alat pelacak yang disebutnya bernama PBX Finder.
  • Pada Minggu malam, Tiyo mengunggah video sedang memeriksa bagian bawah mobil dan mengambil sebuah benda hitam kecil berbentuk kotak yang menempel di area sekitar braket ban cadangan.
  • Beberapa jam kemudian, ia kembali mengunggah pembaruan bahwa setelah benda pertama diamankan, ponselnya kembali memunculkan notifikasi.
  • Dalam perjalanan menuju Bandara Ahmad Yani Semarang untuk terbang ke Makassar, ia mengaku menemukan benda kedua berbentuk lingkaran pipih yang menempel di ban kanan belakang mobil.
  • Tiyo kemudian menyampaikan pembaruan tersebut setelah tiba di Makassar dan menyatakan akan memberikan keterangan lebih lengkap kemudian.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Tiyo membenarkan mobil yang dikendarainya memang dipasangi pelacak saat dikonfirmasi wartawan.

Namun, mobil itu ternyata bukan kepunyaan Tiyo.

Tiyo mengaku mobil itu milik saudara yang ia pinjam sejak dirinya merasa tak aman.

“Itu mobil saudara yang saya pinjam untuk bepergian sejak merasa tidak aman,” ujar Tiyo kepada Kompas.com, Minggu.

Lewat video yang diunggah Tiyo, alat pelacak berwarna hitam itu dipasang di bawah mobil.

Tiyo pun menyayangkan aksi pemasangan alat pelacak di mobilnya oleh OTK.

Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto diduga dibuntuti orang tak dikenal menggunakan alat pelacak.

Alat pelacak berjenis PBX Finder itu ditemukan tertempel di bawah rangka mobil yang ia tumpangi.

Penemuan ini terjadi sepulang Tiyo mengikuti demonstrasi “Gejayan Memanggil” bersama mahasiswa di Yogyakarta pada Sabtu (13/6/2026).

Tiyo menyadari keberadaan alat tersebut setelah mendapat notifikasi langsung dari ponselnya.

“Ini adalah alat pelacak yang namanya PBX Finder. Saya tahu ini karena muncul di notifikasi ponsel saya. Kemudian tadi kita cari dan kita temukan alat pelacak ini ada di bawah kendaraan,” ujar Tiyo melalui unggahan di akun Instagram pribadinya.

Tiyo mengecam keras tindakan tersebut dan mengaitkannya dengan sikap represif penguasa terhadap kritik masyarakat.

“Ini adalah satu kejadian yang sangat menjijikkan, yang menunjukkan betapa menjijikkannya juga rezim yang hari ini sedang berkuasa. Kita yang mengkritik untuk perbaikan bangsa dengan ketulusan cinta justru dibalas dengan ancaman dan marabahaya,” ujarnya.

“Mari rekan-rekan kita pastikan bahwa semakin ditekan semakin melawan, semakin diteror semakin gacor, semakin diintimidasi direpresi, maka semakin cepat hari-hari revolusi,” tuturnya.

 

ALAT PELACAK - Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto mengklaim menemukan alat pelacak di bawah mobil yang ia tumpangi setelah mengikuti demo mahasiswa dalam aksi di Gejayan, Yogyakarta
ALAT PELACAK – Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto mengklaim menemukan alat pelacak di bawah mobil yang ia tumpangi setelah mengikuti demo mahasiswa dalam aksi di Gejayan, Yogyakarta (Instagram/@tiyoardianto_)

 

Kecaman PDIP

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengecam keras tindakan intimidasi berupa pemasangan alat pelacak di mobil yang digunakan mantan Ketua Badan Eksekutif Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto.

Politikus PDIP, Guntur Romli mengatakan tindakan tersebut bentuk pengawasan ilegal (illegal surveillance) yang merupakan teror psikologis nyata, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), serta mencederai demokrasi di Indonesia.

Guntur memaparkan, secara hukum, tindakan tersebut melanggar sejumlah perundang-undangan.

Pertama, melanggar perlindungan privasi dan rasa aman yang dijamin Pasal 28G ayat (1) UUD 1945 serta Pasal 31 ayat (1) UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM.

Selain itu, pemasangan alat pelacak juga melanggar UU Pelindungan Data Pribadi (UU PDP).

Tindakan ini, kata Guntur, juga memenuhi unsur pelanggaran Pasal 31 ayat (1) UU ITE terkait larangan intersepsi atau penyadapan informasi elektronik tanpa hak.

Guntur mengingatkan aparat penegak hukum bahwa insiden yang menimpa Tiyo Ardianto ini memperpanjang daftar kelam teror terhadap kelompok kritis yang kerap dibiarkan tanpa kejelasan.

Ia menyinggung sejumlah kasus, mulai dari teror kepala babi di kantor media Tempo, hingga peretasan dan intimidasi terhadap jurnalis, aktivis, serta pemengaruh (influencer) seperti DJ Donny, Sherly Annavita, Virdian Aurellio, dan Palti Hutabarat.

Menurutnya, kasus-kasus tersebut hingga hari ini masih gelap.

“Semua kasus tersebut hingga hari ini masih gelap dan belum diungkap tuntas,” kata Guntur Romli kepada wartawan, Minggu (14/6/2026).

Bahkan, Guntur Romli menyoroti kasus penyiraman air keras terhadap Andre Yunus yang proses hukumnya dinilai tidak adil.

“Kami memandang negara masih setengah hati, melalui “Pengadilan Sandiwara” vonis hukuman pada pelaku sangat ringan yang jauh dari rasa keadilan terhadap korban dan masyarakat,” ujarnya.

Karena itu, PDIP mendesak kepolisian untuk segera mengusut tuntas siapa aktor intelektual di balik teror pelacak eks Ketua BEM UGM tersebut.

“Negara tidak boleh kalah oleh pelaku teror, dan aparat tidak boleh tebang pilih demi menjaga ruang aman bagi suara kritis masyarakat,” imbuhnya.

 

Sumber: Notifikasi Muncul Lagi, Eks Ketua BEM UGM Klaim Temukan Benda Diduga Pelacak Kedua – TribunNews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *