Rupiah Melemah dan Ancaman Harga Minyakita Tekan UMKM di Lebak

UMKM

Indonesia Menyapa, Jakarta — Pelemahan nilai tukar rupiah dan rencana penyesuaian harga Minyakita memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Lebak, Banten.

Di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, kenaikan harga minyak goreng dinilai berpotensi semakin menekan keberlangsungan usaha kecil yang bergantung pada bahan baku tersebut.

Dampak kenaikan harga minyak goreng sudah mulai dirasakan para pedagang makanan ringan dan jajanan gorengan. Biaya produksi yang terus meningkat membuat keuntungan usaha semakin menipis, sedangkan penjualan belum menunjukkan pemulihan yang signifikan.

Salah satu pelaku usaha yang merasakan tekanan tersebut adalah Ikam (43), pedagang cilor asal Kampung Cipurut, Desa Asem Margaluyu, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak. Selama delapan tahun terakhir, ia menggantungkan penghasilan dari berjualan cilor, milor, cimol, sosis, dan telur gulung di kawasan Pasar Tradisional Sampay, Kecamatan Warunggunung.

Saat ditemui pada Senin (9/6/2026), Ikam mengaku kenaikan harga minyak goreng telah menjadi tantangan serius bagi usahanya. “Sekarang minyak naik, segala naik, jadi sepi. Minyak kita sudah Rp 21.000 sampai Rp 22.000 per liter,” ujarnya kepada Beritasatu.com.

Bagi pedagang jajanan goreng, minyak goreng merupakan komponen utama dalam proses produksi. Ikam mengungkapkan, dalam kondisi normal ia membutuhkan sekitar empat liter minyak goreng setiap hari untuk menjalankan usahanya. “Satu hari bisa habis empat liter,” katanya.

Kenaikan harga minyak membuat biaya operasional terus membengkak. Untuk menekan pengeluaran, ia mencoba beralih menggunakan minyak goreng curah. Namun, selisih harga yang tidak terlalu besar membuat penghematan yang diperoleh sangat terbatas. “Minyak curah juga mahal, bedanya paling Rp 1.000 per liter,” ungkapnya.

Di tengah meningkatnya biaya produksi, kondisi pasar justru menunjukkan pelemahan. Menurut Ikam, daya beli masyarakat menurun sehingga berdampak langsung terhadap jumlah penjualan.

Akibatnya, omzet harian yang diperoleh kini hanya sekitar Rp 200.000, turun hingga 50% dibandingkan kondisi normal yang sebelumnya bisa mencapai Rp 400.000 per hari. “Sekarang turun. Biasanya Rp 400.000, sekarang tinggal Rp 200.000,” katanya.

Kondisi yang dialami Ikam mencerminkan tantangan yang dihadapi banyak pelaku UMKM di daerah. Kenaikan harga bahan baku, biaya distribusi, dan melemahnya konsumsi rumah tangga menjadi kombinasi tekanan yang semakin berat bagi usaha kecil.

Kekhawatiran pelaku UMKM semakin bertambah setelah pemerintah melalui Kementerian Perdagangan membuka opsi penyesuaian harga Minyakita dalam waktu dekat.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso, sebelumnya menyatakan penyesuaian harga dilakukan sebagai konsekuensi meningkatnya biaya produksi dan distribusi, termasuk kenaikan harga crude palm oil (CPO) sebagai bahan baku utama minyak goreng.

Rencana tersebut merupakan hasil pembahasan dalam rapat koordinasi tingkat menteri bidang pangan yang digelar di Jakarta. Bagi pelaku usaha kuliner skala mikro, minyak goreng merupakan komponen biaya yang sulit digantikan. Terkait hal itu, setiap kenaikan harga akan langsung berdampak pada struktur biaya usaha.

Ikam berharap pemerintah mempertimbangkan kembali rencana kenaikan harga Minyakita. Menurutnya, kondisi usaha kecil saat ini belum cukup kuat untuk menanggung tambahan biaya produksi. “Kalau bisa jangan dinaikkan, kalau bisa diturunkan,” tegasnya.

Di Kabupaten Lebak, kekhawatiran serupa juga mulai disuarakan para pedagang pasar tradisional. Mereka menilai kenaikan harga Minyakita berpotensi mempersempit ruang usaha masyarakat kecil yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi lokal.

Pelaku UMKM kini berada dalam posisi yang tidak mudah. Menaikkan harga jual berisiko kehilangan pelanggan, sedangkan mempertahankan harga berarti harus menerima keuntungan yang semakin tipis.

Jika harga minyak goreng kembali naik di tengah daya beli masyarakat yang masih lemah, usaha mikro diperkirakan menjadi kelompok yang paling rentan terdampak karena memiliki kemampuan terbatas untuk menyerap kenaikan biaya produksi. Kondisi tersebut menjadi tantangan nyata bagi keberlangsungan UMKM di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Lebak.

 

Sumber: Rupiah Melemah dan Ancaman Harga Minyakita Tekan UMKM di Lebak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *